Menuju konten utama

Omed-omedan Bali: Makna di Balik Tradisi Unik Saling Peluk-Cium

Mengenal tradisi Omed-omedan di Bali, sebuah festival budaya yang melibatkan saling peluk dan cium, serta filosofi kebersamaan yang mendalam.

Omed-omedan Bali: Makna di Balik Tradisi Unik Saling Peluk-Cium
Dokumentasi sepasang remaja disiram air saat mereka berpelukan dalam tradisi Omed-omedan di Banjar Kaja, Sesetan, Kota Denpasar. FOTO/indonesiakaya.com/

tirto.id - Omed-omedan adalah tradisi saling menarik, peluk, dan cium yang dilakukan oleh anak muda Bali. Hal inilah yang kadang disalahartikan oleh orang awam sebagai festival ciuman massal.

Awalnya tradisi Omed-omedan adalah kegiatan spontan masyarakat Banjar Kaja dan kini berubah menjadi sebuah festival budaya yang menarik perhatian wisatawan.

Tradisi Omed-omedan kapan dilaksanakan? Biasanya Omed-omedan ini digelar saat perayaan Ngembak Geni, momen sakral untuk menyambut Tahun Baru Saka.

Tradisi unik ini merupakan wujud perayaan kebersamaan dan penyucian diri. Lantas apa itu tradisi Omed-omedan dan bagaimana tata cara pelaksanaannya?

Apa Itu Tradisi Omed-omedan?

Omed-Omedan Bali

Para pemuda dan pemudi melakukan tradisi 'Omed-Omedan' di Banjar Sesetan Kaja, Kota Denpasar, Jumat (8/3). (Antaranews Bali/Komang Suparta/IST/2019)

Tradisi Omed-omedan merupakan tradisi yang berasal dari Denpasar-Bali yang bertujuan untuk menjalin relasi antar warga dan memperkuat ikatan sosial. Omed-omedan dalam bahasa Indonesia berarti tarik-menarik.

Pada pelaksanaannya, tradisi unik Omed-omedan ini menampilkan para anak muda akan saling berpelukan, cium, dan saling tarik menarik.

Biasanya tradisi Omed-omedan ini terdiri dari dua kelompok yang mana masing-masing menyiapkan satu orang untuk diarak maju ke posisi paling depan.

Dua orang yang diarak ini harus berpelukan erat. Sedangkan anggota kelompok akan menarik mereka agar pelukan tersebut lepas. Panitia juga akan menyiram banyak air bila pelukan tersebut tidak bisa lepas.

Pasangan muda-mudi dalam tradisi Omed-omedan ini biasanya berpelukan erat dan kemungkinan akan beradu pipi atau bibir.

Hal inilah yang membuat tradisi Omed-omedan seiring disalah artikan sebagai tradisi ciuman massal. Padahal, sebenarnya tradisi ini dilakukan untuk membentuk rasa kebersamaan dan kekeluargaan bagi setiap pemuda dan pemudi.

Asal-Usul dan Tujuan Tradisi Omed-omedan

Omed-Omedan Tradisi Setelah Nyepi

Jalannya prosesi tradisi omed-omedan di Banjar Kaja, Sesetan setelah Nyepi. Tampak kelompok pemuda dan pemudi saling menarik satu sama lain, sementara warga lainnya menyiramkan air kepada kelompok tersebut, Minggu (30/03/2025). Tirto.id/Sandra Gisela

Asal-usul tradisi Omed-omedan menurut informasi yang dilansir dari laman Payana Dewa, berasal dari kerajaan Puri Oka yang berlokasi di desa Sesetan, Denpasar selatan.

Saat itu pemimpin kerajaan Puri Oka adalah Anak Agung Made Raka atau yang dijuluki sebagai Ida Bhatara Kompiang yang sedang sakit.

Masyarakat kerajaan saat itu memiliki inisiatif untuk membuat permainan tarik-menarik. Lama-kelamaan permainan tarik-menarik berubah menjadi saling rangkul dan membuat suasana menjadi ramai.

Hal ini membuat raja Puri Oka yang sedang sakit merasa terganggu dan memutuskan untuk menghampiri kerumunan dengan penuh amarah.

Saat sang raja Puri Oka melihat permainan tersebut, rasa sakitnya malah berangsur membaik dan akhirnya sembuh. Raja akhirnya memerintahkan masyarakat untuk menjadikan Omed-omedan sebagai upacara rutin setiap Ngembak Geni atau sehari setelah hari raya Nyepi.

Makna di Balik Tradisi Omed-omedan

Lantas apa tujuan tradisi Omed-omedan Bali ini?

Tujuan tradisi ini tak lepas dari filosofi dan makna dibalik Omed-omedan, salah satunya adalah persatuan dan kebersamaan.

Proses tarik menarik dalam Omed-omedan ini memiliki makna kebersamaan dan kerja sama di antara masyarakat. kegiatan ini juga menumbuhkan rasa persatuan meningkatkan ikatan sosial.

Selain itu, Omed-omedan juga membawa filosofi penerimaan dan cinta. Ketika pemuda dan pemudi saling cium dan peluk erat, maka terjadi interaksi secara fisik. hal ini mengandung simbol penerimaan diri dan orang lain, serta menumbuhkan rasa cinta dan penghormatan.

Omed-omedan juga merupakan momen untuk mengungkapkan rindu. Tradisi ini memberikan masyarakat kesempatan untuk saling bertemu, terutama bagi pemuda dan pemudi yang mungkin lama tak berjumpa untuk mengungkapkan kerinduan.

Tata Cara Pelaksanaan Tradisi Omed-omedan

Omed-Omedan Tradisi Setelah Nyepi

Persembahyangan setelah selesainya tradisi omed-omedan untuk menghalau energi negatif sekaligus berterima kasih kepada para leluhur yang telah membantu menyebarkan tradisi, Minggu (30/03/2025). Tirto.id/Sandra Gisela

Tata cara dan pelaksanaan tradisi Omed-omedan ini biasanya dipandu oleh polisi adat atau pecalang. Tradisi ini dilakukan oleh pemuda dan pemudi pada rentang usia 17 sampai 30 tahun. Mereka kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok pria dan wanita.

Pelaksanaan tradisi Omed-omedan ini dibuka dengan acara sembahyang dan pengucapan doa untuk keselamatan dan keberkahan.

Kemudian dilanjutkan pertunjukan tari Barong Bangkung atau Barong Babi. Pertunjukan ini bertujuan untuk mengingat peristiwa babi hutan yang berkelahi sampai berdarah-darah saat desa Sesetan tidak melaksanakan saat tidak dilaksanakan tradisi Omed-omedan.

Setelah pertunjukan tari barong, dua kelompok yang terdiri dari kelompok pria dan wanita saling berhadapan dan sambil berpegangan tangan, serta mulai melakukan gerakan tarik-menarik.

Pemimpin kelompok akan memberikan aba-aba, kemudian anggota kelompok akan saling menarik, peluk, dan cium.

Saat kedua kelompok melakukan gerakan saling menarik, pecalang bertugas untuk menyiram para peserta dengan air yang bertujuan untuk membersihkan energi negatif. Penyiraman air ini juga dianggap sebagai simbol dari perayaan kehidupan dan kelahiran.

Setelah tradisi Omed-omedan selesai, biasanya ditutup dengan acara sembahyang dan makan bersama yang melambangkan rasa syukur setelah berbagi kebahagiaan dan mempererat rasa kebersamaan di antara masyarakat.

Omed-omedan bukan sekadar tradisi tarik-menarik dan peluk biasa, tetapi memiliki makna dan filosofi yang mendalam mengenai penyucian diri dan perayaan kebersamaan. Tradisi ini menjadi salah satu festival budaya yang mampu menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bali.

Baca juga artikel terkait TRIVIA atau tulisan lainnya dari Ditya Pandu Akhmadi

tirto.id - Edusains
Kontributor: Ditya Pandu Akhmadi
Penulis: Ditya Pandu Akhmadi
Editor: Yulaika Ramadhani