Menuju konten utama

Bacaan Surat Al Fath Awal Ramadhan Arab & Latin, Kapan Dibaca?

Bacaan Surat Al Fath dalam bentuk bahasa Arab, latin, dan terjemahannya. Kapan dibaca selama awal Ramadhan?

Bacaan Surat Al Fath Awal Ramadhan Arab & Latin, Kapan Dibaca?
Sejumlah santri dan santriwati membaca Al Quran bersama saat mengaji malam 'selikuran' di Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al Mubarokah, Sempu, Andong, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (2/5/2021). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc.

tirto.id - Membaca surat Al Fath merupakan amalan awal Ramadhan. Apa bunyi surat Al Fath ayat 1? Apa khasiat surat al Fath? Berapa ayat QS al-Fath?

Al fath artinya kemenangan. Surat Al fath terletak di juz ke-26 dalam Al-Quran dan termasuk urutan surah ke-48. Selama awal Ramadhan, surat Al fath adalah salah satu amalan.

Keutamaan surat Al Fath di antaranya seolah-olah termasuk golongan orang yang bersama Rasullullah SAW terlibat dalam pembebasan kota Makkah.

Kapan Surat Al Fath Dibaca?

Surat Al Fath ayat 1-29 sudah menjadi sebuah amalan yang biasa dibaca setiap hari di kalangan pesantren.

Menurut Shoinatun Nasihah dalam "Tradisi pembacaan Surat Al-Fath, Al-Waqi’ah, Al-Mulk dan Yasin sebagai amalan harian: Studi Living Quran Pondok Pesantren Al-Mukhlisin Putri Kota Batu" tahun 2023, surah al-Fath dibaca setelah sholat Maghrib.

Sebelum dimulai, para santri terlebih dahulu mengawali dengan membaca surat at-Taubah ayat 128 dan 129 atau laqodja akum. Lalu dilanjutkan dzikir 7 kali.

Tradisi pembacaan surah al-Fath merupakan bentuk syukur dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Hal ini dinilai menjadi sebuah pengharapan barakah dan fadhilah atas surat yang di baca serta membentuk pribadi yang istiqomah, taat, ikhlas, dan semangat.

Bacaan Surat Al Fath Awal Ramadhan Arab, Latin dan Artinya

Surat Al Fath terdiri dari 29 ayat. Surat ini diturunkan di Madinah. Oleh sebab itu, termasuk golongan surat Madaniyah.

Berikut adalah bacaan surat Al Fath litequran dalam bentuk bahasa Arab, latin, dan artinya:

اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ ۝١

innâ fataḫnâ laka fat-ḫam mubînâ

Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepadamu kemenangan yang nyata

لِّيَغْفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْۢبِكَ وَمَا تَاَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ ۝٢

liyaghfira lakallâhu mâ taqaddama min dzambika wa mâ ta'akhkhara wa yutimma ni‘matahû ‘alaika wa yahdiyaka shirâtham mustaqîmâ

agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Nabi Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, menunjukimu ke jalan yang lurus,

وَّيَنْصُرَكَ اللّٰهُ نَصْرًا عَزِيْزًا ۝٣

wa yanshurakallâhu nashran ‘azîzâ

dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang besar.

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْۗ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ ۝٤

huwalladzî anzalas-sakînata fî qulûbil-mu'minîna liyazdâdû îmânam ma‘a îmânihim, wa lillâhi junûdus-samâwâti wal-ardl, wa kânallâhu ‘alîman ḫakîmâ

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

لِّيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْۗ وَكَانَ ذٰلِكَ عِنْدَ اللّٰهِ فَوْزًا عَظِيْمًاۙ ۝٥

liyudkhilal-mu'minîna wal-mu'minâti jannâtin tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ wa yukaffira ‘an-hum sayyi'âtihim, wa kâna dzâlika ‘indallâhi fauzan ‘adhîmâ

(Hal itu) agar Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dia pun akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Yang demikian itu menurut Allah suatu keuntungan yang besar.

وَّيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُشْرِكٰتِ الظَّاۤنِّيْنَ بِاللّٰهِ ظَنَّ السَّوْءِۗ عَلَيْهِمْ دَاۤىِٕرَةُ السَّوْءِۚ وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا ۝٦

wa yu‘adzdzibal-munâfiqîna wal-munâfiqâti wal-musyrikîna wal-musyrikâtidh-dhânnîna billâhi dhannas-saû', ‘alaihim dâ'iratus-saû', wa ghadliballâhu ‘alaihim wa la‘anahum wa a‘adda lahum jahannam, wa sâ'at mashîrâ

(Juga agar) Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (azab) yang buruk. Allah pun murka kepada mereka, melaknat mereka, dan menyediakan (neraka) Jahanam bagi mereka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.

وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا ۝٧

wa lillâhi junûdus-samâwâti wal-ardl, wa kânallâhu ‘azîzan ḫakîmâ

Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ ۝٨

innâ arsalnâka syâhidaw wa mubasysyiraw wa nadzîrâ

Sesungguhnya Kami mengutus engkau (Nabi Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan

لِّتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُۗ وَتُسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا ۝٩

litu'minû billâhi wa rasûlihî wa tu‘azzirûhu wa tuwaqqirûh, wa tusabbiḫûhu bukrataw wa ashîlâ

agar kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya, baik pagi maupun petang.

اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَۗ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِنَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًاࣖ ۝١٠

innalladzîna yubâyi‘ûnaka innamâ yubâyi‘ûnallâh, yadullâhi fauqa aidîhim, fa man nakatsa fa innamâ yangkutsu ‘alâ nafsih, wa man aufâ bimâ ‘âhada ‘alaihullâha fa sayu'tîhi ajran ‘adhîmâ

Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad), (pada hakikatnya) mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Oleh sebab itu, siapa yang melanggar janji (setia itu), maka sesungguhnya (akibat buruk dari) pelanggaran itu hanya akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan menganugerahinya pahala yang besar.

سَيَقُوْلُ لَكَ الْمُخَلَّفُوْنَ مِنَ الْاَعْرَابِ شَغَلَتْنَآ اَمْوَالُنَا وَاَهْلُوْنَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَاۚ يَقُوْلُوْنَ بِاَلْسِنَتِهِمْ مَّا لَيْسَ فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ قُلْ فَمَنْ يَّمْلِكُ لَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا اِنْ اَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا اَوْ اَرَادَ بِكُمْ نَفْعًاۗ بَلْ كَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا ۝١١

sayaqûlu lakal-mukhallafûna minal-a‘râbi syaghalatnâ amwâlunâ wa ahlûnâ fastaghfir lanâ, yaqûlûna bi'alsinatihim mâ laisa fî qulûbihim, qul fa may yamliku lakum minallâhi syai'an in arâda bikum dlarran au arâda bikum naf‘â, bal kânallâhu bimâ ta‘malûna khabîrâ

Orang-orang Arab Badui yang ditinggalkan (karena tidak mau ikut ke Hudaibiah) akan berkata kepadamu, “Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.” Mereka mengucapkan dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, “Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki mudarat terhadap kamu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu? Bahkan, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

بَلْ ظَنَنْتُمْ اَنْ لَّنْ يَّنْقَلِبَ الرَّسُوْلُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ اِلٰٓى اَهْلِيْهِمْ اَبَدًا وَّزُيِّنَ ذٰلِكَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِۚ وَكُنْتُمْ قَوْمًا ۢ بُوْرًا ۝١٢

bal dhanantum al lay yangqalibar-rasûlu wal-mu'minûna ilâ ahlîhim abadaw wa zuyyina dzâlika fî qulûbikum wa dhanantum dhannas-saû', wa kuntum qaumam bûrâ

Bahkan, (semula) kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sama sekali tidak akan kembali lagi kepada keluarga mereka selama-lamanya dan dijadikan terasa indah yang demikian itu di dalam hatimu. Kamu telah berprasangka buruk. Oleh sebab itu, kamu menjadi kaum yang binasa.

وَمَنْ لَّمْ يُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ فَاِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ سَعِيْرًا ۝١٣

wa mal lam yu'mim billâhi wa rasûlihî fa innâ a‘tadnâ lil-kâfirîna sa‘îrâ

Siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).

وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ يَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ۝١٤

wa lillâhi mulkus-samâwâti wal-ardl, yaghfiru limay yasyâ'u wa yu‘adzdzibu may yasyâ', wa kânallâhu ghafûrar raḫîmâ

Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

سَيَقُوْلُ الْمُخَلَّفُوْنَ اِذَا انْطَلَقْتُمْ اِلٰى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوْهَا ذَرُوْنَا نَتَّبِعْكُمْۚ يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّبَدِّلُوْا كَلٰمَ اللّٰهِۗ قُلْ لَّنْ تَتَّبِعُوْنَا كَذٰلِكُمْ قَالَ اللّٰهُ مِنْ قَبْلُۖ فَسَيَقُوْلُوْنَ بَلْ تَحْسُدُوْنَنَاۗ بَلْ كَانُوْا لَا يَفْقَهُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا ۝١٥

sayaqûlul-mukhallafûna idzanthalaqtum ilâ maghânima lita'khudzûhâ dzarûnâ nattabi‘kum, yurîdûna ay yubaddilû kalâmallâh, qul lan tattabi‘ûnâ kadzâlikum qâlallâhu ming qabl, fa sayaqûlûna bal taḫsudûnanâ, bal kânû lâ yafqahûna illâ qalîlâ

Apabila kamu nanti berangkat untuk mengambil rampasan perang, orang-orang Badui yang ditinggalkan itu akan berkata, “Biarkanlah kami mengikutimu.” Mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah, “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami. Demikianlah yang telah difirmankan Allah sebelumnya.” Maka, mereka akan berkata, “Sebenarnya kamu dengki kepada kami,” padahal mereka tidak mengerti kecuali sedikit sekali.

قُلْ لِّلْمُخَلَّفِيْنَ مِنَ الْاَعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ اِلٰى قَوْمٍ اُولِيْ بَأْسٍ شَدِيْدٍ تُقَاتِلُوْنَهُمْ اَوْ يُسْلِمُوْنَۚ فَاِنْ تُطِيْعُوْا يُؤْتِكُمُ اللّٰهُ اَجْرًا حَسَنًاۚ وَاِنْ تَتَوَلَّوْا كَمَا تَوَلَّيْتُمْ مِّنْ قَبْلُ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا ۝١٦

qul lil-mukhallafîna minal-a‘râbi satud‘auna ilâ qaumin ulî ba'sin syadîdin tuqâtilûnahum au yuslimûn, fa in tuthî‘û yu'tikumullâhu ajran ḫasanâ, wa in tatawallau kamâ tawallaitum ming qablu yu‘adzdzibkum ‘adzâban alîmâ

Katakanlah kepada orang-orang Arab Badui yang ditinggalkan itu, “Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar. Kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah. Jika kamu mematuhi (ajakan itu), Allah akan memberimu balasan yang baik. Akan tetapi, jika kamu berpaling seperti yang kamu perbuat sebelumnya, Dia akan mengazabmu dengan azab yang pedih.”

لَيْسَ عَلَى الْاَعْمٰى حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْاَعْرَجِ حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ يُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۚ وَمَنْ يَّتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا اَلِيْمًاࣖ ۝١٧

laisa ‘alal-a‘mâ ḫarajuw wa lâ ‘alal-a‘raji ḫarajuw wa lâ ‘alal-marîdli ḫaraj, wa may yuthi‘illâha wa rasûlahû yudkhil-hu jannâtin tajrî min taḫtihal-an-hâr, wa may yatawalla yu‘adzdzib-hu ‘adzâban alîmâ

Tidak ada dosa atas orang-orang yang buta, orang-orang yang pincang, dan orang-orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia akan dimasukkan oleh-Nya ke dalam surga yang mengalir bawahnya sungai-sungai. Akan tetapi, siapa yang berpaling, dia akan diazab oleh-Nya dengan azab yang pedih.

۞ لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًاۙ ۝١٨

laqad radliyallâhu ‘anil-mu'minîna idz yubâyi‘ûnaka taḫtasy-syajarati fa ‘alima mâ fî qulûbihim fa anzalas-sakînata ‘alaihim wa atsâbahum fat-ḫang qarîbâ

Sungguh, Allah benar-benar telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad) di bawah sebuah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menganugerahkan ketenangan kepada mereka dan memberi balasan berupa kemenangan yang dekat

وَّمَغَانِمَ كَثِيْرَةً يَّأْخُذُوْنَهَاۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا ۝١٩

wa maghânima katsîratay ya'khudzûnahâ, wa kânallâhu ‘azîzan ḫakîmâ

dan harta rampasan perang yang banyak yang dapat mereka ambil. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

وَعَدَكُمُ اللّٰهُ مَغَانِمَ كَثِيْرَةً تَأْخُذُوْنَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هٰذِهٖ وَكَفَّ اَيْدِيَ النَّاسِ عَنْكُمْۚ وَلِتَكُوْنَ اٰيَةً لِّلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ ۝٢٠

wa ‘adakumullâhu maghânima katsîratan ta'khudzûnahâ fa ‘ajjala lakum hâdzihî wa kaffa aidiyan-nâsi ‘angkum, wa litakûna âyatal lil-mu'minîna wa yahdiyakum shirâtham mustaqîmâ

Allah telah menjanjikan kepadamu rampasan perang yang banyak yang (nanti) dapat kamu ambil, maka Dia menyegerakan (harta rampasan perang) ini untukmu. Dia menahan tangan (mencegah) manusia dari (upaya menganiaya)-mu (agar kamu mensyukuri-Nya), agar menjadi bukti bagi orang-orang mukmin, dan agar Dia menunjukkan kamu ke jalan yang lurus.

وَّاُخْرٰى لَمْ تَقْدِرُوْا عَلَيْهَا قَدْ اَحَاطَ اللّٰهُ بِهَاۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرًا ۝٢١

wa ukhrâ lam taqdirû ‘alaihâ qad aḫâthallâhu bihâ, wa kânallâhu ‘alâ kulli syai'ing qadîrâ

(Allah menjanjikan pula rampasan perang) lain yang kamu belum dapat menguasainya, tetapi sungguh Allah telah menguasainya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

وَلَوْ قَاتَلَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوَلَّوُا الْاَدْبَارَ ثُمَّ لَا يَجِدُوْنَ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا ۝٢٢

walau qâtalakumulladzîna kafarû lawallawul-adbâra tsumma lâ yajidûna waliyyaw wa lâ nashîrâ

Sekiranya orang-orang yang kufur itu memerangi kamu, pastilah mereka akan berbalik melarikan diri (kalah), kemudian mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong.

سُنَّةَ اللّٰهِ الَّتِيْ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا ۝٢٣

sunnatallâhillatî qad khalat ming qabl, wa lan tajida lisunnatillâhi tabdîlâ

(Demikianlah) sunatullah yang sungguh telah berlaku sejak dahulu. Kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunatullah itu.

وَهُوَ الَّذِيْ كَفَّ اَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ اَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًا ۝٢٤

wa huwalladzî kaffa aidiyahum ‘angkum wa aidiyakum ‘an-hum bibathni makkata mim ba‘di an adhfarakum ‘alaihim, wa kânallâhu bimâ ta‘malûna bashîrâ

Dialah (Allah) yang menahan tangan (mencegah) mereka dari (upaya menganiaya) kamu dan menahan tangan (mencegah) kamu dari (upaya menganiaya) mereka di tengah (kota) Makkah setelah Dia memenangkan kamu atas mereka. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

هُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْهَدْيَ مَعْكُوْفًا اَنْ يَّبْلُغَ مَحِلَّهٗۚ وَلَوْلَا رِجَالٌ مُّؤْمِنُوْنَ وَنِسَاۤءٌ مُّؤْمِنٰتٌ لَّمْ تَعْلَمُوْهُمْ اَنْ تَطَـُٔوْهُمْ فَتُصِيْبَكُمْ مِّنْهُمْ مَّعَرَّةٌ ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۚ لِيُدْخِلَ اللّٰهُ فِيْ رَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۚ لَوْ تَزَيَّلُوْا لَعَذَّبْنَا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا ۝٢٥

humulladzîna kafarû wa shaddûkum ‘anil-masjidil-ḫarâmi wal-hadya ma‘kûfan ay yablugha maḫillah, walau lâ rijâlum mu'minûna wa nisâ'um mu'minâtul lam ta‘lamûhum an tatha‘ûhum fa tushîbakum min-hum ma‘arratum bighairi ‘ilm, liyudkhilallâhu fî raḫmatihî may yasyâ', lau tazayyalû la‘adzdzabnalladzîna kafarû min-hum ‘adzâban alîmâ

Merekalah orang-orang yang kufur dan menghalang-halangi kamu (masuk) Masjidilharam dan (menghalangi pula) hewan-hewan kurban yang terkumpul sampai ke tempat (penyembelihan)-nya. Seandainya tidak ada beberapa orang laki-laki dan perempuan yang beriman yang tidak kamu ketahui (keberadaannya karena berbaur dengan orang-orang kafir, yaitu seandainya tidak dikhawatirkan) kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesulitan tanpa kamu sadari, (maka Allah tidak akan mencegahmu untuk memerangi mereka. Itu semua) karena Allah hendak memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka terpisah, tentu Kami akan mengazab orang-orang yang kufur di antara mereka dengan azab yang pedih.

اِذْ جَعَلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَاَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوٰى وَكَانُوْٓا اَحَقَّ بِهَا وَاَهْلَهَاۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًاࣖ ۝٢٦

idz ja‘alalladzîna kafarû fî qulûbihimul-ḫamiyyata ḫamiyyatal-jâhiliyyati fa anzalallâhu sakînatahû ‘alâ rasûlihî wa ‘alal-mu'minîna wa alzamahum kalimatat-taqwâ wa kânû aḫaqqa bihâ wa ahlahâ, wa kânallâhu bikulli syai'in ‘alîmâ

(Kami akan mengazab) orang-orang yang kufur ketika mereka menanamkan kesombongan dalam hati mereka, (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. (Allah) menetapkan pula untuk mereka kalimat takwa. Mereka lebih berhak atas kalimat itu dan patut memilikinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

لَقَدْ صَدَقَ اللّٰهُ رَسُوْلَهُ الرُّءْيَا بِالْحَقِّۚ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ اٰمِنِيْنَۙ مُحَلِّقِيْنَ رُءُوْسَكُمْ وَمُقَصِّرِيْنَۙ لَا تَخَافُوْنَۗ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذٰلِكَ فَتْحًا قَرِيْبًا ۝٢٧

laqad shadaqallâhu rasûlahur-ru'yâ bil-ḫaqq, latadkhulunnal-masjidal-ḫarâma in syâ'allâhu âminîna muḫalliqîna ru'ûsakum wa muqashshirîna lâ takhâfûn, fa ‘alima mâ lam ta‘lamû fa ja‘ala min dûni dzâlika fat-ḫang qarîbâ

Sungguh, Allah benar-benar akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenar-benarnya, (yaitu) bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, jika Allah menghendaki, dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala, dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan sebelum itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.

هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا ۝٢٨

huwalladzî arsala rasûlahû bil-hudâ wa dînil-ḫaqqi liyudh-hirahû ‘alad-dîni kullih, wa kafâ billâhi syahîdâ

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkan (agama tersebut) atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi.

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًاۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِۗ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِۖ وَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَۗ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًاࣖ ۝٢٩

muḫammadur rasûlullâh, walladzîna ma‘ahû asyiddâ'u ‘alal-kuffâri ruḫamâ'u bainahum tarâhum rukka‘an sujjaday yabtaghûna fadllam minallâhi wa ridlwânan sîmâhum fî wujûhihim min atsaris-sujûd, dzâlika matsaluhum fit-taurâti wa matsaluhum fil-injîl, kazar‘in akhraja syath'ahû fa âzarahû fastaghladha fastawâ ‘alâ sûqihî yu‘jibuz-zurrâ‘a liyaghîdha bihimul-kuffâr, wa‘adallâhulladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫâti min-hum maghfirataw wa ajran ‘adhîmâ

Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud (bercahaya). Itu adalah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya. (Keadaan mereka diumpamakan seperti itu) karena Allah hendak membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Keutamaan Membaca Surat Al Fath saat Bulan Ramadhan

Apa yang dimaksud dengan surat Al Fath? Surat ini menjelaskan tentang sebuah kemenangan. Diturunkan di Madinah pasca perjanjian Hudaibiyah antara Nabi Muhammad SAW dan kaum Quraisy. Allah SWT memberikan kemenangan kepada Nabi Muhammad SAW dan umat Islam.

Menurut sebuah riwayat dari Sayyidina Abdullah Ibnu ‘Umar ra, Rasulullah SAW bersabda,"Telah diturunkan kepadaku semalam akan satu surah yang lebih kukasihi daripada segala apa yang terbit matahari atasnya (yakni dunia dan segala isinya), dan dianjurkan agar dibaca pada awal malam bulan Ramadhan. Maka bacalah dan ajarkan kepada anak-anak kalian, insya Allah mereka tidak akan ditimpa kesusahan,".

Berawal dari keterangan hadis tersebut, maka surat Al Fath bisa menjadi amalan selama awal bulan Ramadhan. Keutamaannya adalah tidak akan terkena kesusahan.

Menurut kisah lainnya, Umar bin Khattab r.a bertemu nabi di perjalanan. Umar sempat bertanya pada nabi. Namun, Rasulullah tidak menjawab.

Setelah itu, Nabi bersabda:"Malam tadi telah turun kepadaku sebuah surat yang lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. (HR. Al-Bukhari: VII/452 dan At-Tirmidzi: V/385).

Keutamaan surat Al Fath berikutnya adalah apabila dibaca dalam sholat sunah selama malam pertama bulan Ramadhan, maka bisa memperoleh penjagaan dari Allah SWT dalam satu tahun lamanya.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2024 atau tulisan lainnya dari Beni Jo

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Beni Jo
Penulis: Beni Jo
Editor: Fitra Firdaus