Apa itu Fitnah Kubur dan Perbedaannya dari Azab Kubur?

Penulis: Abdul Hadi - 15 Mei 2022 11:05 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Fitnah kubur adalah ujian pertanyaan yang akan diajukan malaikat di alam barzah. Lantas, apa perbedaan firnah kubur dari azab kubur dalam Islam?
tirto.id - Fitnah kubur merupakan salah satu rangkaian kejadian yang akan dialami setiap manusia ketika ia meninggal. Fitnah kubur berbeda dari azab kubur. Lantas, apa pengertian fitnah kubur dalam pemahaman tauhid dan akidah Islam?

Kata "fitnah" dalam fitnah kubur bukan seperti pemahaman fitnah dalam bahasa Indonesia. Asal kata "fitnah" dalam bahasa Arab artinya ujian. Dalam hal ini, fitnah kubur adalah ujian ketika manusia meninggal, selepas ia disemayamkan di dalam kubur.

Ujian yang dimaksud dalam fitnah kubur adalah saat datang Malaikat Munkar dan Nakir mendatangi orang yang sudah meninggal, serta mengajukan sejumlah pertanyaan terkait akidah Islam.

Pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan Malaikat Munkar dan Nakir itu tergambar dalam hadis panjang riwayat Al-Barra bin Azib bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"[Ketika seseorang meninggal], kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya, lalu keduanya bertanya: 'Siapa Tuhanmu ?' Dia [si mayit] menjawab: 'Tuhanku adalah Allâh'. Kedua malaikat itu bertanya: 'Apa agamamu?' Dia menjawab: 'Agamaku adalah Islam'.

Kedua malaikat itu bertanya: 'Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?' Dia menjawab: 'Beliau utusan Allâh'.

Kedua malaikat itu bertanya: 'Apakah ilmumu?' Dia menjawab: 'Aku membaca kitab Allâh, aku mengimaninya dan membenarkannya'.

Lalu, seorang penyeru dari langit berseru: 'HambaKu telah [berkata] benar, berilah dia hamparan dari surga, [dan berilah dia pakaian dari surga], bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga.

Setelah itu, datanglah kepadanya bau dan wangi surga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang. Selanjutnya, datang seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan: 'Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan [kebaikan]'.

Kemudian, ruh orang mukmin itu bertanya kepadanya: 'Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?' Dia menjawab: 'Aku adalah amalmu yang saleh'. Ruh itu berkata: 'Tuhanku, tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali kepada istriku dan hartaku'.

Pertanyaan ini juga dilontarkan kepada orang kafir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW: 'Kemudian ruhnya [orang kafir] dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya. Kedua malaikat itu bertanya: “Siapa Tuhanmu?” Dia menjawab: 'Hah, hah, aku tidak tahu'.

Kedua malaikat itu bertanya: 'Apakah agamamu?' Dia menjawab: 'Hah, hah, aku tidak tahu'.

Kedua malaikat itu bertanya: 'Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?' Dia menjawab: 'Hah, hah, aku tidak tahu'.

Lalu penyeru dari langit berseru: 'HambaKu telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka'. Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan.

Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan: 'Terimalah kabar yang menyusahkanmu ! Inilah harimu yang telah dijanjikan (keburukan) kepadamu'.

Kemudian, ruh orang kafir itu bertanya kepadanya: 'Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?' Dia menjawab: 'Aku adalah amalmu yang buruk'. Ruh itu berkata, 'Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat'," (H.R. Bukhari)

Berdasarkan hadis di atas, fitnah kubur adalah semacam ujian yang akan dilangsungkan kepada setiap orang yang sudah meninggal. Ujian itu berupa pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

1. Siapa Tuhanmu?
2. Siapa rasulmu?
3. Apa agamamu?

Meskipun sudah mengetahui pertanyaan-pertanyaan tersebut, namun ketika sudah meninggal, manusia tidak bisa berbohong. Kesesuaian jawaban pertanyaan di atas tergantung pada amalan baik dan amalan buruk yang dilakukan selama di dunia.


Perbedaan Fitnah Kubur dan Azab Kubur


Sebagaimana fitnah kubur yang sebenarnya bukan "fitnah" yang lazimnya dikenal di bahasa Indonesia, demikian juga azab kubur bukanlah "azab" yang biasa dipahami selama ini.

Pasalnya, di alam barzah, manusia belum dihakimi perbuatannya di padang mahsyar. Dengan demikian, ia belum disiksa dengan siksa neraka. Lantas, azab semacam apa yang akan diterima orang fasik, kafir, dan musyrik di alam kubur?

Azab kubur ini berbentuk bayangan dan ilustrasi atas neraka yang akan dimasuki orang-orang yang bermaksiat kepada Allah. Sebaliknya, bagi orang-orang saleh, mereka akan memperoleh nikmat kubur.

Maka dari itu, selepas fitnah kubur, ketika seseorang tidak bisa menjawab pertanyaan dari Malaikat Munkar dan Nakir, ia akan ditampakkan dengan gambaran neraka beserta siksaan di dalamnya. Selanjutnya, orang tersebut akan diberitahu bahwa ia akan memasuki neraka yang diperlihatkan kepadanya.

Selain itu, alam kubur bagi orang fajir juga akan disempitkan sehingga ia merasa tersiksa dengan keadaan tersebut. Hal itu tergambar dalam sabda Nabi Muhammad SAW:

“Inilah yang membuat Arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh, ia [orang kafir dan fasik] dihimpit dan dijepit oleh kubur, tetapi kemudian dibebaskan [untuk disidang di padang mahsyar],” (H.R. Nasai).

Gambaran kondisi di atas sangat menyeramkan. Saking mengerikannya keadaan kubur orang-orang yang mendustakan Allah SWT sampai-sampai Rasulullah SAW bersabda: “Aku tidak pernah melihat pemandangan yang paling mengerikan dibandingkan alam kubur,” (H.R. Tirmidzi).

Sebaliknya, orang-orang beriman akan ditampakkan gambaran surga beserta kenikmatan-kenikmatannya. Mereka diberitahu bahwa usai sidang padang mahsyar, mereka akan memasuki tempat tersebut.

Selanjutnya, ruang kuburan juga diluaskan bagi orang-orang yang lolos dalam ujian fitnah kubur. Hal inilah yang dikenal sebagai nikmat kubur yang akan dilalui orang-orang beriman.


Baca juga artikel terkait FITNAH KUBUR atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Abdul Hadi
Editor: Addi M Idhom

DarkLight