tirto.id - Bahasan seputar petrodollar kembali naik pada 2026, selepas Amerika Serikat (AS) menangkap presiden Venezuela dan baru-baru ini menyerang wilayah Iran.
Apa itu petrodollar dan siapa saja daftar negara terbaru yang masih menggunakan sistem ini?
Selama lebih dari lima dekade, perdagangan minyak dunia sebagian besar dijembatani pakai dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang utama. Sistem ini bikin dolar menduduki posisi dominan dalam keuangan internasional.
Kendati demikian, beberapa tahun belakangan sejumlah negara juga mulai mengurangi ketergantungan pada dolar AS lewat mata uang alternatif.
Lalu, apa sebenarnya arti petrodollar? Negara mana saja yang masih menggunakan atau mulai meninggalkan sistem ini?
Apa Itu Petrodollar?
Petrodollar adalah sistem perdagangan minyak mentah global yang menggunakan dolar AS sebagai mata uang utama dalam penetapan harga dan pembayaran minyak.
Sistem tersebut lahir setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi menandatangani kesepakatan pada 1974, di mana Arab Saudi setuju menjual minyak mereka pakai dolar AS dan menginvestasikan sebagian pendapatan minyaknya ke aset keuangan AS.
Kesepakatan tersebut kemudian diikuti oleh banyak negara anggota OPEC.
Walhasil, negara-negara yang ingin membeli minyak harus punya cadangan dolar AS, dan kondisi ini membuat permintaan global terhadap dolar AS meninggi sekaligus memperkuat posisinya sebagai mata uang utama internasional.
Mengapa Petrodollar Masih Kuat?
Kendati wacana dedolarisasi kian sering muncul dalam diskusi ekonomi global, sistem petrodollar masih bertahan. Hal ini terutama karena peran dolar masih dominan dalam perdagangan energi dunia.
Minyak tetap menjadi komoditas strategis bagi perekonomian global. Banyak negara industri membutuhkan pasokan energi stabil untuk menjaga aktivitas produksi dan pertumbuhan ekonomi, sehingga perdagangan minyak terus menjadi salah satu transaksi terbesar di dunia.
Selain itu, dukungan negara-negara produsen minyak utama di kawasan Teluk juga memperkuat posisi dolar AS. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar masih menggunakan mata uang tersebut sebagai acuan utama dalam penetapan harga minyak.
Selama praktik petrodollar ini dipertahankan, permintaan global terhadap dolar dalam perdagangan energi kemungkinan tetap tinggi.
Daftar Negara Pengguna Petrodollar pada 2026
Pada 2026, perdagangan minyak global mulai terbagi ke dalam dua kelompok besar. Ada negara yang masih dominan menggunakan dolar, tapi beberapa negara mulai beralih ke mata uang lain.
Negara yang Masih Dominan Menggunakan Dolar
Sebagian besar eksportir minyak masih menggunakan dolar sebagai standar transaksi. Negara-negara tersebut antara lain:- Arab Saudi
- Uni Emirat Arab
- Kuwait
- Qatar
- Bahrain
- Oman
- Nigeria
- Angola
- Aljazair
- Irak
- Libya
- Amerika Serikat
- Kanada
- Norwegia
- Meksiko
- Brasil
- Kazakhstan
Negara yang Mulai Mengurangi Penggunaan Dolar
Beberapa negara mulai menggunakan mata uang alternatif dalam perdagangan minyak. Perubahan ini biasanya dipicu oleh sanksi ekonomi atau strategi geopolitik.Iran
Iran cenderung menggunakan yuan, euro, serta mekanisme barter untuk menjual minyaknya di pasar internasional, terutama setelah mereka terkena sanksi AS. Sanksi pertama kali muncul sebagai respons atas Revolusi Islam Iran.
Pada November 1979, sekelompok mahasiswa radikal menyerbu Kedutaan Besar AS di Teheran. Sebanyak 52 diplomat AS ditahan selama 444 hari. Jimmy Carter, Presiden AS saat itu, langsung membekukan aset pemerintah Iran senilai 12 miliar dolar AS dan melarang impor minyak dari negara tersebut.
China
China mengumumkan bahwa kontrak berjangka minyak mentah mulai diperdagangkan dalam denominasi Yuan sejak Maret 2022 untuk menantang dominasi dolar.
Strategi ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat dan memperkuat kedaulatan ekonomi melalui internasionalisasi mata uang Renminbi.
Rusia
Setelah terkena sanksi Barat pada 2022, Rusia banyak menggunakan yuan China dan rubel dalam perdagangan energi.
India
India jadi salah satu pembeli utama minyak Rusia sejak 2022, terutama setelah Moskow menawarkan harga diskon besar akibat sanksi Barat.
Pada periode 2022-2025, porsi minyak Rusia dalam impor India sempat meroket. Namun memasuki 2026, tren itu berubah. Tekanan geopolitik, termasuk kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat, membuat impor minyak Rusia oleh India menurun.
Venezuela
Venezuela sempat mengalihkan sebagian transaksi minyaknya ke yuan dan euro, sebelum diserang oleh Amerika Serikat. Negara ini juga salah satu yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sekitar 18 persen dari total cadangan global.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id





































