tirto.id - Venezuela mengumumkan telah memberangkatkan kapal tanker pembawa gas petroleum cair (LPG) pertama untuk diekspor ke Amerika Serikat (AS) pada Minggu (1/2/2026). Pengiriman ini dilakukan dalam rentang waktu sebulan setelah AS menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Melansir ABC, pengumuman tersebut dilakukan oleh penjabat Presiden Venezuela Delcy Rodríguez melalui kanal Telegram. Rodríguez menyebut bahwa pengiriman LPG itu dilakukan melalui kapal Chrysopigi Lady.
"Bangga berbagi momen ini: kapal Chrysopigi Lady telah berlayar dari Venezuela dengan pengiriman pertama gas petroleum cair (LPG)," tulis Rodríguez dalam bahasa Spanyol.
Menurut laman marinetraffic.com, kapal Chrysopigi Lady yang berbendera Singapura itu berangkat dari pelabuhan Venezuela pada Minggu malam. Kapal tanker ini dijadwalkan berlabuh di Providence, Rhode Island, AS.
"Bersama kelas pekerja, kita menandai tonggak sejarah ini dengan mengekspor molekul gas pertama negara ini; sebuah pencapaian untuk kesejahteraan rakyat Venezuela," tulis Rodríguez menambahkan.
Aturan Tata Kelola Migas Venezuela Direvisi
Seturut Anadolu, ekspor LPG ini dilakukan usai revisi besar-besaran Undang-Undang Organik tentang Hidrokarbon disetujui Majelis Nasional Venezuela pada Kamis (29/1/2026).
Revisi undang-undang itu memungkinkan ekspansi sektor swasta pada eksploitasi sumber daya minyak bumi Venezuela. Melalui aturan tersebut, perusahaan swasta luar negeri kini diizinkan untuk terlibat dalam eksplorasi, ekstraksi, pengumpulan, dan penyimpanan komoditas gas dan minyak bumi di Venezuela.
Undang-undang yang baru juga memberikan perlindungan hukum yang kuat bagi perusahaan yang beroperasi di Venezuela. Disebutkan bahwa perusahaan diizinkan melakukan mediasi dan arbitrase internasional tanpa melalui sistem peradilan lokal ketika terjadi sengketa.
Revisi ini memberikan otonomi operasional yang belum pernah terjadi sebelumnya di Venezuela. Sebelumnya, pengelolaan komoditas minyak dan gas (migas) di negara ini dimonopoli oleh perusahaan milik negara, Petróleos de Venezuela, S.A. (PDVSA).
Reformasi hukum di bidang tata kelola migas Venezuela ini diproyeksikan menjadi landasan pemulihan ekonomi pada masa pemerintahan Delcy Rodríguez. Departemen AS juga dilaporkan telah mencabut sebagian sanksi atas Venezuela guna memfasilitasi perdagangan perusahaan AS dengan pemerintah Venezuela terkait migas.
Sebelumnya, selama sebulan terakhir, Delcy Rodríguez tampak kesulitan untuk memberikan respons yang tepat terkait masa depan Venezuela. Rodríguez berulang kali mengecam operasi penculikan Maduro oleh AS, namun di saat yang sama harus merespons desakan AS untuk membuka keran ekspor migas ke negara Paman Sam itu.
Ketika Presiden AS memuji Rodríguez sebagai "orang yang hebat" pada pertengahan Januari lalu, penjabat Presiden Venezuela itu menghadapi tekanan dalam negeri agar tak terlihat menyerah kepada AS.
Pada pertengahan Januari lalu, pemerintahan Rodríguez bahkan menggelar pertemuan khusus dengan para pemengaruh pro-rezim terkait hal tersebut. Isi pertemuan yang bocor menunjukkan bahwa pemerintahan Rodríguez menegaskan bahwa mereka mendapatkan ancaman pembunuhan jika tidak sepakat dengan AS.
Pada Kamis (28/1/2026) lalu, Delcy Rodríguez masih menegaskan kecamannya terhadap operasi militer AS di Venezuela pada 3 Januari lalu. Dalam upacara pengakuan dirinya sebagai Panglima Tertinggi Venezuela, Rodríguez menyatakan bahwa "tidak seorang pun" menyerah selama operasi penculikan Maduro.
"Itulah mengapa saya menaruh hormat dan kemuliaan kepada para pahlawan dan pahlawan perempuan 3 Januari 2026," katanya.
Dalam operasi penculikan Maduro oleh militer AS pada 3 Januari, sekitar 100 orang dinyatakan tewas oleh otoritas Venezuela. Dari 100 korban jiwa itu, 32 di antaranya merupakan petugas keamanan Kuba, dan beberapa di antaranya adalah warga sipil.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id






























