tirto.id - Iran dan Amerika Serikat memiliki kompleksitas hubungan yang penuh dinamika. Panas dingin kondisi bilateral keduanya kerap menjadi sorotan dunia.
Lini masa hubungan Iran dan Amerika Serikat bermula pada tahun 1953. Peristiwa besar kudeta pada tahun 1953 menandai ketegangan panas antara Amerika Serikat dan Iran.
Amerika Serikat menjadi dalang di balik kudeta yang bertujuan menggulingkan Perdana Menteri Iran yang terpilih secara demokratis, Mohammad Mosaddegh. Kudeta ini membuat Shah Mohammad Reza Pahlavi yang pro-Barat kembali naik kuasa.
Perdana Menteri Pahlavi dikenal luas mengantongi dukungan dari Amerika Serikat. Pahlavi dikatakan sebagai perdana menteri Iran yang bekerja sama dan berlindung di balik Amerika Serikat. Dalam perjalanan berikutnya, Pahlavi kemudian digulingkan pada tahun 1979.
Dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran tak berhenti di situ. Banyak peristiwa besar yang menandai keadaan hubungan antara dua negara.
Lini Masa Hubungan Iran dan Amerika Serikat 1953-2026

Naik turun hubungan Iran dan Amerika dapat diamati dari masa ke masa. Rangkuman perjalanan dinamika hubungan keduanya dirangkum dalam lini masa hubungan Amerika Serikat dan Iran yang bermula pada tahun 1953.
Berikut penjelasan lini masa hubungan Iran dan Amerika Serikat:
1. Tahun 1953: Penggulingan Presiden Mossadegh
Tahun 1953 menjadi penanda besar hubungan Iran dan Amerika Serikat. Terjadi kudeta pada tahun 1953 atau yang lebih dikenal sebagai Kudeta 28 Mordad di negeri Iran yang didalangi oleh Amerika Serikat.Kudeta bertujuan melengserkan pemerintahan Mohammad Mosaddegh. Amerika Serikat mendorong Mohammad Reza Pahlavi untuk menggantikan Mohammad Mosaddegh. Jelas terlihat bahwa posisi Pahlavi ini didukung kuat oleh AS dan Inggris.
Penggulingan Mosaddegh terjadi usai ia menasionalisasi Perusahaan Minyak Anglo-Persia yang dimiliki Inggris sehingga London memberlakukan embargo minyak terhadap Iran. Inggris yang dibantu Amerika pun melakukan kudeta untuk menggulingkan Mosaddegh.
Pahlavi sendiri tidak populer di kalangan masyarakat Iran. Ia bergantung pada dukungan AS untuk mempertahankan kekuasaannya hingga kemudian digulingkan pada tahun 1979.
2. Tahun 1957: Program Atom untuk Perdamaian
Perjanjian kerja sama terkait penggunaan sipil atom ditandatangani oleh Amerika Serikat dan Iran. Gagasan ini diusung oleh presiden Amerika Serikat saat itu, Dwight D. Eisenhower.Satu dekade setelahnya, AS menyediakan reaktor nuklir dan uranium sebagai bahan bakar bagi Iran. Kolaborasi nuklir dua negara menjadi dasar bagi masalah nuklir saat ini. Kerja sama keduanya berlanjut hingga dimulainya Revolusi Iran pada tahun 1979.
3. Tahun 1979: Revolusi Iran
Dinamika hubungan Iran dan Amerika Serikat berlanjut pada tahun 1979. Hubungan Amerika Serikat dan Iran berubah drastis dengan adanya Revolusi Iran atau Revolusi Islam.Pahlavi yang didukung Amerika Serikat digulingkan dan digantikan oleh Republik Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini. Ia mengambil alih kekuasaan sebagai pemimpin tertinggi dan mengubah Iran dari monarki pro-Barat menjadi teokrasi Islam yang sangat anti-Barat.
Kejadian ini pun diikuti dengan penyanderaan. Sejumlah 52 diplomat Amerika ditawan selama 444 hari. Dampaknya hubungan bilateral Iran dan Amerika Serikat menjadi rusak.
4. Tahun 1980-1988: Perang Iran-Irak dan Ambiguitas Kebijakan AS
Tahun 1980-1988 terjadi konflik panas berkepanjangan antara Iran dan Irak. Amerika sendiri menerapkan kebijakan kompleks dan kerap kali bertentangan.Walaupun Amerika menunjukkan netralitas, tetapi secara diam-diam Washington mendukung Irak. AS mendukung Irak yang sekuler dengan bantuan ekonomi, pelatihan, dan teknologi ganda hingga perang berakhir pada tahun 1988.
Bahkan setelah CIA menemukan bukti bahwa pasukan Irak menggunakan senjata kimia terhadap warga Iran. Perkiraan menunjukkan bahwa sekitar satu juta warga Iran dan 250.000–500.000 warga Irak tewas dalam konflik tersebut.
5. Tahun 1992-1996: AS Mengintensifkan Sanksi
Selama pemerintahan George H.W. Bush dan Bill Clinton, AS memperketat sanksi terhadap Iran. Tahun 1992, Kongres mengesahkan Undang-Undang Nonproliferasi Senjata Iran-Irak.Kongres ini menerapkan sanksi terhadap bahan-bahan yang dapat digunakan untuk mengembangkan senjata canggih. Gedung Putih memperluas sanksi dengan memberlakukan embargo minyak dan perdagangan secara total pada tahun 1995.
Undang-Undang Sanksi Iran dan Libya tahun 1996 memberlakukan embargo terhadap perusahaan non-Amerika yang berinvestasi lebih dari $20 juta per tahun di sektor minyak dan gas Iran.
6. Tahun 2002: Poros Kejahatan
Presiden AS George W. Bush menyebut Iran sebagai bagian dari "poros kejahatan", bersama Korea Utara dan Irak, dengan mengatakan bahwa negara-negara tersebut merupakan pendukung terorisme.7. Tahun 2012: Rial Anjlok
Dikutip dari Al Jazeera, Rial Iran jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS, kehilangan sekitar 80 persen nilainya sejak 2011, terutama akibat sanksi internasional.8. Tahun 2013-2015: Kesepakatan Nuklir Iran
Masa-masa tahun ini, Presiden AS Barack Obama mengawali pembahasan tingkat tinggi bersama Iran. Selanjutnya pada tahun 2015, Teheran menyetujui kesepakatan nuklir yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).Kesepakatan ini membatasi aktivitas nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi. Tiongkok, Rusia, Prancis, Jerman, Inggris, dan Uni Eropa merupakan pihak yang membatasi pengayaan uranium Iran pada 3,67 persen.
9. Tahun 2018-2020: Amerika Menarik Diri dari Kesepakatan Nuklir
Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir secara sepihak pada tahun 2018 dan menjatuhkan sanksi untuk Iran. Trump dan Israel pun mengkritik kesepakatan nuklir.Iran sendiri mengurungkan komitmennya lalu mulai memproduksi uranium melampaui batas yang sebelumnya sudah ditetapkan dalam kesepakatan. Pada tahun 2020, AS membunuh Jenderal Iran Qassem Soleimani, kepala Pasukan Quds elit dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran di Baghdad dalam serangan pesawat nirawak.
Sebelumnya pada tahun 2017, pemerintah AS menuding dan melabeli Pasukan Quds sebagai organisasi "teroris". Iran menanggapi dengan serangan terhadap aset AS di Irak.
10. Tahun 2025: Surat untuk Teheran
Trump mengirim surat kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Maret 2025. Surat ini berisi usulan negosiasi baru mengenai kesepakatan nuklir dengan batas waktu 60 hari.Akan tetapi, Khamenei menolak tawaran dari Trump. Ia menyatakan bahwa AS tidak mencari negosiasi, tetapi memaksakan tuntutan.
Trump sendiri mengakui dirinya sangat dekat dengan kesepakatan usai beberapa pembicaraan. Ia memperingatkan Israel agar tidak melakukan serangan.
Di sisi lain, Teheran mengatakan optimis, tetapi tetap teguh pada hak untuk memperkaya uranium. Israel melancarkan serangan di seluruh Iran sehari sebelum putaran keenam pembicaraan Iran-AS.
Masih pada tahun 2025, Amerika Serikat meluncurkan bom ke tiga fasilitas nuklir utama di Iran. Dalihnya adalah masalah keamanan dan pertahanan Israel. Setelah itu, Iran membalas serangan AS dengan menyerang pangkalan militer AS di Qatar.
11. Tahun 2026: Demonstrasi Besar Memicu Ketegangan Lebih Lanjut antara AS dan Iran

Demonstrasi besar memicu ketegangan yang terjadi pada akhir Desember 2025. Ketegangan ini merupakan akibat dari nilai tukar mata uang negara yang anjlok dan kegagalan pemerintah dalam menangani masalah tersebut.
Aksi protes yang besar meluas di seluruh Iran hingga terjadi kekerasan. Demonstran menghadapi penindasan dari rezim Iran dan pasukan keamanan. Akibatnya terjadi pemadaman internet selama berhari-hari dan ribuan korban tewas serta penahanan dalam kurun waktu sekitar dua minggu.
Trump mengancam akan mengambil tindakan militer jika jumlah korban tewas terus meningkat. Khamenei membalas bahwa rezim tidak akan mundur.
Amerika Serikat dan Iran sama-sama menyatakan harapannya untuk negosiasi. Namun, AS mengatakan sedang mempertimbangkan serangan, sedangkan Iran menyatakan siap untuk perang.
Trump sendiri pada 12 Januari mengumumkan tarif 25 persen untuk negara-negara yang melakukan bisnis dengan Iran. Esok harinya, Trump mendesak masyarakat Iran untuk terus melakukan demonstrasi sembari menambahkan bahwa Trump sudah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran.
Perjalanan panjang hubungan Iran dan Amerika Serikat diwarnai dengan berbagai persoalan yang melingkupi kondisi kedua negara tersebut. Keadaan naik turun hubungan keduanya akan terus berlanjur hingga kini dan nanti.
Perjalanan panjang hubungan Iran dan Amerika Serikat diwarnai dengan berbagai persoalan yang melingkupi kondisi kedua negara tersebut. Keadaan naik turun hubungan keduanya akan terus berlanjur hingga kini dan nanti.
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id
































