tirto.id - Iran Human Rights NGO (IHRNGO) melaporkan sedikitnya 3.428 demonstran tewas dan ribuan lainnya luka-luka dalam lanjutan aksi demo di Iran per 14 Januari 2026. Ini berarti dalam kurun waktu hanya sehari berselang, jumlah korban sudah bertambah hampir seribu orang tewas.
Data dari sumber internal Kementerian Kesehatan Iran menunjukkan bahwa antara 8-12 Januari 2026, setidaknya 3.379 demonstran telah dilaporkan meninggal dunia, sehingga banyak yang meyakini jika jumlah korban yang sebenarnya lebih dari 3.428 orang.
Selain dari kelompok pendemo, korban juga berasal dari aparat negara yang dilaporkan media pemerintah berjumlah 121 orang. Mayoritas korban disebut masih berusia muda, sebagian bahkan di bawah 18 tahun.
Benarkah Pemerintah Iran Lakukan Kekerasan pada Demonstran?
Di laman IHRNGO disebutkan jika ada laporan dari saksi mata yang menggambarkan kekerasan ekstrem dalam demo yang terjadi di Rasht dan Karaj.
Para demonstran yang telah terluka dilaporkan ditembak hingga tewas oleh aparat yang bertugas. Para aparat bahkan masih mengangkat senjata pada mereka yang telah menyatakan menyerah.
Aparat keamanan juga dikatakan tak ragu menggunakan senjata berat seperti senapan mesin DShK, memberlakukan kondisi mirip darurat militer, melakukan penangkapan sewenang-wenang, serta penggerebekan rumah warga, khususnya di wilayah Kurdi.
Di tengah situasi ini, Kepala Kehakiman Iran menekankan perlunya pengadilan cepat dan hukuman segera, sedangkan Jaksa Agung sebelumnya menyebut semua demonstran sebagai “mohareb” atau musuh Tuhan sehingga pantas untuk dihukum mati.
IHRNGO memperingatkan risiko eksekusi massal melalui pengadilan sandiwara dan mendesak komunitas internasional segera bertindak, mengingat sejarah kejahatan serupa pernah terjadi pada 1980-an.
“Setelah pembunuhan massal terhadap para demonstran di jalanan dalam beberapa hari terakhir, lembaga peradilan Republik Islam mengancam para demonstran dengan eksekusi skala besar,” ujar Direktur IHRNGO, Mahmood Amiry-Moghaddam.
“Komunitas internasional harus menanggapi ancaman ini dengan sangat serius, karena para pejabat Republik Islam melakukan kejahatan serupa pada tahun 1980-an untuk mempertahankan kekuasaan. Jika komunitas internasional tidak bertindak tepat waktu, ribuan orang lagi akan berisiko dieksekusi,” tambahnya.
Hingga kini, lebih dari 10.000 orang ditangkap sejak gelombang protes meletus pada 28 Desember 2025. Protes tersebut dilatar belakangi kondisi ekonomi yang semakin sulit di Iran hingga membuat mata uang rial anjlok di titik terendah dalam sejarah.
Iran Bantah Ada Rencana Eksekusi Demonstran
Pemerintah Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi membantah tuduhan bahwa negaranya berencana mengeksekusi para demonstran anti-pemerintah. Dalam wawancara dengan Fox News, Araghchi menegaskan bahwa tidak ada rencana hukuman gantung atau eksekusi sama sekali terhadap para pengunjuk rasa.
“Tidak ada rencana untuk menggantung sama sekali. Hukuman gantung sama sekali tidak mungkin,” tegas Araghchi dikutip Al Jazeera.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa ia telah menerima jaminan dari “sumber penting di pihak Iran” bahwa pembunuhan terhadap demonstran telah dihentikan dan rencana eksekusi dibatalkan.
Trump menyampaikan hal tersebut di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, termasuk penarikan sebagian personel AS dari pangkalan militer di Qatar karena kekhawatiran konflik bersenjata baru.
Di sisi lain, Iran menegaskan kesiapannya untuk membalas jika AS melakukan intervensi, dengan Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohammad Pakpour, menyatakan negaranya berada dalam tingkat kesiapsiagaan tinggi.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































