tirto.id - Otoritas Iran memutuskan untuk menutup sementara wilayah udara sejak Rabu, 14 Januari pukul 17.15 waktu setempat atau Kamis, 15 Januari 2026 pukul 05.15 WIB untuk sebagian besar penerbangan.
Hal ini seiring dengan meningkatnya kekhawatiran akan kemungkinan konflik militer antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Penutupan ini membuat banyak maskapai terpaksa membatalkan, mengalihkan, atau menunda penerbangan demi alasan keselamatan.
Menurut pemberitahuan yang dipasang oleh Otoritas Penerbangan AS (FAA), Iran hanya mengizinkan penerbangan internasional tertentu yang mendapat izin resmi untuk keluar dan masuk wilayahnya.
Penutupan ini direncanakan berlangsung sekitar dua jam dan akan kembali dibuka pada pukul 07.30 WIB, meski kenyataannya sempat berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Akibat penutupan tersebut, seperti diberitakan Strait Times, wilayah udara Iran hampir kosong dari pesawat sipil, kecuali beberapa penerbangan terbatas.
Sejumlah maskapai dari berbagai negara langsung terdampak. Maskapai India seperti IndiGo dan Air India menyatakan penerbangan internasional mereka harus menggunakan rute alternatif, yang berpotensi menyebabkan keterlambatan atau pembatalan.
Sebuah pesawat milik maskapai Rusia bahkan harus kembali ke Moskow setelah wilayah udara Iran ditutup. Maskapai lain seperti flydubai, Turkish Airlines, dan Lufthansa juga telah membatalkan atau menyesuaikan jadwal penerbangan mereka dalam beberapa hari terakhir.
Trump Sebut Iran Tak Jadi Eksekusi Warganya yang Terlibat Demo
Presiden AS Donald Trump menyatakan ia mendapat informasi dari sumber penting di Iran bahwa pembunuhan terhadap para demonstran telah dihentikan dan rencana eksekusi tidak jadi dilakukan.
Namun, Trump mengakui bahwa informasi tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya. Ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat akan mengambil tindakan tegas jika Iran tetap mengeksekusi para pengunjuk rasa.
"Mereka mengatakan pembunuhan telah berhenti dan eksekusi tidak akan terjadi - seharusnya ada banyak eksekusi hari ini dan eksekusi tidak akan terjadi - dan kita akan mencari tahu. Kami telah diberi tahu dari sumber yang dapat dipercaya, dan saya harap itu benar," harap Trump dikutip laman CNA.
Di sisi lain, pemerintah Iran membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa situasi di dalam negeri berada dalam kondisi terkendali. Pemerintah Iran menyebut aksi protes sebagai tindakan terorisme dan mengatakan bahwa keamanan telah dipulihkan.
Meski demikian, kelompok hak asasi manusia melaporkan bahwa ribuan orang tewas dan puluhan ribu lainnya ditangkap.
Pemerintah Iran juga memutus akses internet selama beberapa hari untuk membatasi penyebaran informasi, yang menimbulkan kekhawatiran dunia internasional terhadap pelanggaran HAM yang serius.
Donald Trump sebelumnya mengatakan jika AS tidak akan tinggal diam jika terbukti ada pelanggaran HAM pada demonstrasi besar di Iran. Ia juga memberikan semangat pada para demonstran untuk tetap menyuarakan pendapat mereka tanpa gentar karena AS akan bergerak jika ada tindak kekerasan.
Sikap AS dalam konflik di Iran ini tak disambut baik oleh pemimpin negara tersebut. Petinggi Iran bahkan mengancam akan menindak tegas jika Trump akhirnya memutuskan untuk campur tangan.
Aksi protes besar di Iran bermula dari ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang semakin sulit di dalam negeri.
Kebutuhan hidup yang semakin meningkat tidak diimbangi dengan pemasukan yang besar sehingga roda perekonomian lambat berputar.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































