tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengompori warga Iran untuk terus melakukan demonstrasi. Ia juga mendorong pengunjuk rasa untuk mengambil alih pemerintahan. Hal tersebut disampaikan Trump melalui media sosial Truth,Selasa (13/1/2026) malam.
"Patriot Iran, teruslah demo ambil alih institusi kalian!" tulis Trump, dikutip Euronews, Selasa (13/1/2026)
Tak hanya menyerukan agar para pengunjuk rasa terus melakukan demonstrasi di jalanan, Trump juga mengatakan bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan".
Trump tak merinci apa yang dimaksudnya sebagai bantuan tersebut. Namun, ia mengungkapkan telah membatalkan jadwal pertemuan dengan Pemerintah Iran dan akan membalas aparat keamanan yang membunuh warga sipil selama melakukan aksi protes.
"Ingat nama para pembunuh dan penganiaya. Mereka akan membayar harga yang mahal," tulis Trump kepada para pengunjuk rasa di Iran.
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa Washington bisa saja melakukan intervensi militer ke Iran jika otoritas setempat terus menggunakan kekerasan untuk mengatasi pengunjuk rasa.
Meskipun gelagat saling serang antara Trump dan otoritas Iran sempat mereda dan kedua pihak menyatakan terbuka terhadap perundingan, namun pernyataan Trump pada Selasa membuat situasi kembali memanas.
Jumlah Korban Kerusuhan Iran dan Keadaan Terkini
Situasi Iran terkini masih dirundung ketidakpastian. Arus informasi dari dan ke Iran tetap dibatasi secara ketat.
Teheran semepat memberikan kelonggaran untuk warga bisa melakukan panggilan telepoin seluler ke luar negari pada Selasa lalu untuk pertama kali, di luar pembatasan internet dan SMS. Hanya saja, warga tidak bisa menerima panggilan dari luar negeri. Namun, pembatasan diberlakukan kembali pada Kamis malam.
Jumlah korban hingga Rabu (14/1) masih juga sulit diverifikasi karena terbatasnya aksi komunikasi dan internet.
Namun, pada Selasa kemarin, Pemerintah Iran secara resmi menyatakan kepada Reuters bahwa total korban jiwa selama bentrokan unjuk rasa sejak 28 Desember 2025 lalu mencapai lebih dari 2.000 orang.
Sementara Kantor Berita Aktivis HAM Iran (HRANA) menyebutkan, sejauh ini jumlah korban jiwa dalam bentrokan unjuk rasa telah mencapai 2.403 jiwa. Sebanyak 12 di antaranya adalah anak-anak.
Organisasi yang berbasis di AS tersebut juga melaporkan bahwa korban tewas dari pihak yang terafiliasi dengan pemerintah Iran mencapai hampir 150 orang.
Selain jumlah korban yang masif, situasi di Iran juga diduga mencekam hingga kini. HRANA mencatat bahwa Pemerintah Iran telah menangkap setidaknya 18.434 pengunjuk rasa sejak 28 Desember 2025.
Seturut BBC, hukum peradilan di Iran juga diterapkan dengan cara yang tak sewajarnya. Seorang pengunjuk rasa bernama Erfan Soltani dilaporkan ditangkap pada minggu lalu dan akan dieksekusi mati pada Rabu ini.
Kerabat Soltani mengungkapkan kepada BBC Persia bahwa pengadilan Iran telah memproses hukuman mati "dengan proses yang sangat cepat, hanya sekitar dua hari".
BBC sebelumnyamerilis kesaksian seorang pengunjuk rasa di salah satu kota kecil di Iran bagian Selatan. Seturut saksi yang tak disebutkan identitasnya itu, para demonstran ditembaki dengan peluru tajam dari senapan serbu model AK.
"Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri, mereka menembak langsung ke barisan pengunjuk rasa. Orang-orang jatuh di tempat mereka berdiri," tuturnya.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id






























