tirto.id - Nilai mata uang Iran, rial terus melemah. Pada 14 Januari 2026, kurs pasar bebas mencapai 1.092.500 rial per 1 dolar AS. Apa penyebab mata uang Iran jatuh hingga ke titik terendah dalam sejarah?
Anjloknya nilai tukar rial berawal dari memburuknya kondisi ekonomi domestik Iran. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam sedangkan pendapatan masyarakat tidak ikut naik.
Ketika nilai uang melemah dan inflasi melonjak, daya beli masyarakat runtuh. Situasi ini menciptakan tekanan sosial yang besar, karena kebutuhan dasar seperti pangan, bahan bakar, dan transportasi menjadi semakin sulit dijangkau oleh warga biasa.
Gelombang protes yang meledak sejak 28 Desember 2025 awalnya dipicu oleh mahalnya harga pangan dan melemahnya rial, namun kemudian berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas, termasuk perubahan pemerintahan.
Protes yang dimulai dari pedagang Grand Bazaar Tehran dan mahasiswa ini menyebar cepat ke seluruh 31 provinsi.
Penyebab Mata Uang Iran Jatuh
Berikut beberapa penyebab kolapsnya mata uang Iran rial hingga titik terendah dalam sejarah:
1. Sanksi Internasional dan Terputusnya Akses Devisa
Penyebab paling fundamental dari kejatuhan rial adalah sanksi internasional, terutama sanksi Amerika Serikat setelah AS keluar dari perjanjian nuklir (JCPOA).Sanksi ini membatasi ekspor minyak Iran dan memutus akses sistem perbankan Iran ke jaringan keuangan global. Ketika suplai devisa menyusut sedangkan kebutuhan impor tetap tinggi, nilai rial di pasar bebas jatuh tajam.
2. Inflasi yang Sangat Tinggi
Seperti diberitakan laman EBC, inflasi di Iran telah berada di atas 40% selama beberapa tahun, termasuk 42,5% pada akhir 2025.Inflasi tinggi membuat masyarakat dan pelaku usaha tidak mau menyimpan uang dalam rial karena nilainya terus menyusut.
3. Pendapatan Negara Turun
Pendapatan negara Iran tertekan akibat sanksi dan lemahnya ekonomi, sedangkan belanja pemerintah tetap tinggi untuk subsidi energi, pangan, dan program sosial.Ketika pendapatan pajak dan devisa tidak mencukupi, pemerintah dan bank sentral cenderung membiayai defisit melalui ekspansi uang beredar. Pencetakan uang tanpa dukungan pertumbuhan ekonomi meningkatkan inflasi.
4. Pertumbuhan Ekonomi yang Lemah
Ekonomi Iran diperkirakan mengalami kontraksi pada 2025 dan 2026. Pertumbuhan yang lemah berarti dunia usaha tidak berkembang, lapangan kerja stagnan, dan produktivitas rendah.5. Ketidakpastian Politik dan Keresahan Sosial
Protes sosial dan ketegangan politik yang meningkat pada akhir 2025 dan awal 2026 memperburuk tekanan terhadap mata uang.Di dalam negeri, kebijakan pemerintah justru memperparah tekanan sosial. Sistem subsidi bahan bakar baru yang diterapkan pada Desember 2025 secara efektif menaikkan harga bahan bakar, yang sebelumnya sangat murah.
Rencana evaluasi harga setiap tiga bulan menciptakan ketidakpastian lanjutan dan memicu kekhawatiran bahwa harga akan terus naik.
6. Ketergantungan Tinggi pada Minyak sebagai Sumber Devisa
Ekonomi Iran sangat bergantung pada ekspor minyak sebagai sumber utama dolar. Ketika ekspor minyak terganggu oleh sanksi, pembatasan logistik, atau risiko politik, pendapatan devisa langsung jatuh.Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id







































