tirto.id - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyampaikan bahwa Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Iran hingga saat ini belum perlu dievakuasi. Hal ini menyusul gelombang unjuk rasa yang semakin memanas di negara yang berada di kawasan Timur Tengah itu.
“Namun demikian persiapan mengantisipasi eskalasi situasi keamanan sesuai rencana kontigensi terus dilakukan,” tulis Kemlu dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (13/1/2026).
WNI di Iran sebagian besar berstatus sebagai pelajar/mahasiswa di berbagai lembaga pendidikan di Iran, khususnya di Kota Qom.
Berdasarkan komunikasi KBRI Tehran dengan para WNI di berbagai wilayah di Iran, Kemlu menyampaikan bahwa kota-kota simpul utama komunitas WNI seperti Qom dan Isfahan relatif tidak terdapat gangguan keamanan yang signifikan
KBRI Tehran mengimbau seluruh WNI di Iran agar meningkatkan kewaspadaan dan memantau perkembangan situasi melalui sumber informasi resmi. WNI juga diminta menghindari lokasi pusat-pusat demonstrasi dan kerumunan massa, dan menjaga komunikasi dengan KBRI Tehran.
“Bagi WNI yang memiliki rencana perjalanan ke Iran, diimbau agar menunda perjalanan hingga situasi dan kondisi keamanan dinyatakan kondusif,” katanya.
Sebagai informasi, aksi demonstrasi di Iran telah memasuki hari ke-16 dengan total korban meninggal dunia adalah 648 demonstran dan 109 aparat.
Data yang diunggah oleh Iran Human Rights (IHRNGO) per 12 Januari 2026, jumlah korban tewas dalam gelombang protes anti pemerintah itu adalah setidaknya 648 pengunjuk rasa, termasuk 9 anak di bawah usia 18 tahun, dan ribuan lainnya luka-luka.
Al Jazeera juga melaporkan jika korban tewas tidak hanya terdapat di kelompok pendemo, melainkan juga dari aparat yang bertugas. Setidaknya 109 aparat meregang nyawa dalam demo besar yang dipicu oleh tuntutan ekonomi tersebut.
Karena pemutusan akses internet nasional sejak 8 Januari 2026 dan pembatasan informasi yang ketat, jumlah sebenarnya sulit diverifikasi. Beberapa laporan bahkan memperkirakan lebih dari 6.000 korban tewas, dan lebih dari 10.000 orang telah ditangkap.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































