tirto.id - Demonstrasi di Iran yang berlangsung sejak 28 Desember 2025 semakin memanas. Menurut laporan media lokal setempat, sebanyak 500 orang demonstran tewas dan ribuan lainnya ditangkap.
Menurut data Human Rights Activists News Agency (HRANA)-kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS-sebanyak 490 pengunjuk rasa dan 48 personel keamanan meninggal dunia.
Selain ratusan korban tewas, HRANA juga menyebut lebih dari 10.600 orang telah ditangkap oleh Pemerintah Iran dalam gelombang protes yang telah berlangsung selama dua minggu.
Apa Penyebab Kerusuhan di Iran yang Tewaskan Ratusan Orang?
Protes di Iran bermula sebagai reaksi masyarakat terhadap kenaikan harga dan kondisi ekonomi yang memburuk dan semakin menekan kehidupan sehari-hari.
Ketidakpuasan ini kemudian berkembang melampaui tuntutan ekonomi dan berubah menjadi penolakan terbuka terhadap pemerintahan ulama yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
Seiring meluasnya kemarahan publik, demonstrasi terjadi di berbagai kota besar seperti Teheran dan Mashhad, yang dalam banyak kasus diwarnai aksi pembakaran, ledakan, serta bentrokan antara massa dan aparat keamanan.
The Guardian memberitakan banyak video yang memperlihatkan peserta demonstrasi yang menyuarakan protes di Iran.
Pemerintah Iran sendiri telah melakukan tindakan pembatasan informasi dengan mematikan jaringan internet di negara tersebut sejak Kamis (8/1/2026).
Trump Sebut Warga Iran Inginkan Kebebasan
Otoritas Iran menilai jika ada nama Amerika Serikat (AS) dan Israel di balik gelombang protes tersebut dengan menyerukan adanya perjuangan demokrasi.
Presiden AS Donald Trump sendiri telah berkali-kali mengatakan jika pihaknya berniat untuk ikut campur dalam menyelesaikan konflik di Iran. Namun niatnya ini tidak disambut baik oleh Pemerintah Iran yang justru balik mengancam jika ada tindakan dari AS, maka pangkalan militer AS dan Israel akan menjadi target serangan mereka.
"Mari kita perjelas: jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kami," tegas Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, dikutip Reuters (12/1).
Trump sendiri melalui unggahan di akun Truth Social-nya, @realDonaldTrump, menyebut jika warga Iran sebenarnya ingin menuntut adanya demokrasi di negara tersebut.
“Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin belum pernah sebelumnya. Amerika Serikat siap membantu!!! Presiden DONALD J. TRUMP,” tulis Trump pada 11 Januari kemarin.
Seorang sumber dari Israel mengatakan pada Reuters jika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah bertemu untuk membahas kemungkinan intervensi AS di Iran.
Tudingan adanya keterlibatan AS dan Israel dalam kerusuhan di Iran ini juga datang dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang mengatakan dalam sebuah wawancara di stasiun televisi IRIB jika ada penyusup di antara para demonstran.
"Orang-orang yang sama yang menyerang negara ini, berusaha untuk meningkatkan kerusuhan ini terkait dengan diskusi ekonomi," ujar Pezeshkian dikutip Al Jazeera.
“Mereka telah melatih beberapa orang di dalam dan luar negeri; mereka telah membawa beberapa teroris dari luar negeri,” tambahnya.
Presiden Pezeshkian juga mencoba untuk menenangkan masyarakat Iran dengan menyebut jika pihak demonstran dan Pemerintah Iran telah mencapai kesepakatan.
“Perusuh bukanlah orang-orang yang berdemonstrasi. Kami mendengar para demonstran dan telah melakukan segala upaya untuk menyelesaikan masalah mereka,” urainya.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






























