tirto.id - Iran masih berkecamuk karena gelombang unjuk rasa masyarakat sipil hingga Selasa (13/1/2026). Pembatasan internet masih dilakukan Pemerintah Iran, namun warga dilaporkan menggunakan Starlink untuk mengakalinya.
Gejolak di Iran terus berlanjut. Menukil Anadolu, Kantor Berita Aktivis HAM yang berbasis di Amerika Serikat (HRANA) menyebut setidaknya 646 orang tewas dalam bentrokan di jalanan hingga Selasa.
Sementara itu, mengutip Al Jazeera, kantor berita yang terafiliasi dengan Pemerintah Iran, Tasnim, melaporkan bahwa 109 petugas keamanan tewas dalam protes yang meluas di seluruh negara.
Akan tetapi, jumlah korban tewas dalam bentrokan di jalanan Iran itu belum bisa dikonfirmasi secara memadai karena Pemerintah Iran masih menerapkan pembatasan akses internet.
Seturut organisasi monitor konektivitas internet global, NetBlocks, pembatasan akses internet di Iran kini telah mencapai lebih dari 108 jam. Hal ini membuat akses informasi terkait situasi sebenarnya di Iran masih simpang siur.
Akan tetapi, di tengah pembatasan tersebut, sejumlah warga mengakali pembatasan dengan mengakses internet via Starlink. Seturut Reuters, Starlink dilaporkan masih efektif digunakan, terutama di kota-kota di wilayah perbatasan.
Starlink Belum Berizin di Iran
Meskipun digunakan oleh warga Iran, Starlink sejatinya tak memiliki lisensi untuk beroperasi di Negeri Para Mullah tersebut.
Bahkan, setelah perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025 lalu, parlemen Iran telah mengeluarkan undang-undang untuk melarang penggunaan Starlink. Pengguna Starlink bahkan dapat dihukum.
Sejak dirilis pada 2021 lalu, Starlink kerap kali digunakan untuk mengakses internet di tengah konflik dan kerusuhan global.
Seperti pada perang Ukraina-Rusia, Starlink menjadi perangkat resmi pasukan Ukraina. Elon Musk bahkan menggratiskan layanan Starlink di Ukraina pada 2022 lalu.
Starlink juga digunakan para aktivis, organisasi bantuan, dan petugas medis di Myanmar untuk berkomunikasi ketika junta militer di sana menutup akses internet berkali-kali. Perangkat ini juga dilaporkan digunakan dalam perang saudara Sudan oleh semua faksi untuk berkomunikasi.
Cara kerja Starlink yang berbasis sinyal satelit dan tidak menggunakan serat optik, dinilai jadi keunggulan dalam situasi konflik dan dioperasikan di wilayah terpencil yang jauh dari jangkauan serat fiber.
Pada Senin (12/1) lalu, Presiden AS, Donald Trump, mengungkap bahwa ia akan membahas pemulihan akses internet di Iran bersama Elon Musk, meskipun ia tak menyebut Starlink dalam pernyataannya.
"Dia sangat ahli dalam hal semacam itu, dia memiliki perusahaan yang sangat bagus," kata Trump kepada wartawan, dikutip dari Reuters.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































