tirto.id - Putra mahkota Reza Pahlavi mendukung perlawanan rakyat terhadap pemerintah Iran melalui aksi demonstrasi. Siapa Pahlavi sebenarnya?
Sosok Reza Pahlavi, sebagai putra mahkota dari monarki Iran yang runtuh pada 1979, kini banyak disorot di tengah merebaknya aksi unjuk rasa masyarakat Iran selama dua minggu terakhir. Simak profilnya berikut ini.
Reza Pahlavi (65) merupakan anak dari Shah Iran terakhir sebelum monarki dijatuhkan dalam Revolusi 1979. Selama ini, Pahlavi tinggal di pengasingan di Amerika Serikat (AS). Dari jauh, ia berulang kali mengindikasikan niatnya untuk kembali ke Iran dengan menyerukan revolusi damai lewat pemungutan suara.
Akan tetapi, di tengah gelombang unjuk rasa Iran yang berkobar sejak 28 Desember 2025 lalu, Pahlavi secara aktif mengarahkan massa aksi untuk merebut kota-kota strategis dari pengasingannya.
"Tujuan kita tak lagi turun ke jalan," tulis Pahlavi melalui akun X pribadinya, Sabtu (10/1/2026). "Tujuan kita adalah bersiap merebut pusat kota dan mempertahankannya."
Unjuk rasa masyarakat sipil yang kini terjadi di Iran sendiri telah menumpahkan darah. Seturut The Guardian, Kantor Berita HAM Iran (HRANA) menyebut 538 orang telah tewas dalam demonstrasi, 490 di antaranya adalah pengunjuk rasa.
Estimasi korban jiwa dalam bentrokan unjuk rasa di Iran masih simpang siur seiring pembatasan akses internet di sana. Organisasi HAM Iran di Norwegia menyatakan bahwa setidaknya 192 pengunjuk rasa tewas.
Profil Reza Pahlavi
Reza Pahlavi lahir di Teheran pada 31 Oktober 1960. Ia merupakan putra tertua dari Mohammad Reza Shah Pahlavi yang kala itu menjabat sebagai pemimpin monarki Iran.
Terlahir sebagai anak laki-laki seorang Shah, Pahlavi dibesarkan sejak kecil sebagai penerus ayahnya. Ia mendapatkan gelar putra mahkota Iran sejak usia 7 tahun.
Akan tetapi, takhta yang diwariskan kepadanya itu tak sempat ia rasakan. Ketika Pahlavi remaja, monarki yang dipimpin ayahnya ramai ditentang rakyatnya sendiri karena dinilai otoriter dan represif.
Puncaknya, pada 1979, pecah Revolusi Iran yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini. Ayah Pahlavi lalu digulingkan dan struktur negara Iran berubah dari monarki jadi Republik Islam Iran hingga kini.
Ketika revolusi terjadi, Pahlavi berusia 17 tahun dan sedang menempuh pelatihan jadi pilot pesawat tempur di Pangkalan Angkatan Udara Reese di Texas, AS. Runtuhnya sistem pemerintahan monarki membuatnya tak bisa kembali ke Iran.
Oleh karenanya, ketika ia selesai menempuh pelatihan jadi pilot, Pahlavi melanjutkan pendidikan ilmu politik di University of Southern California.
Meskipun tempat kelahirannya sudah sepenuhnya berubah, Pahlavi sejak muda ingin kembali ke Iran. Ia sempat mengajukan diri untuk bertempur untuk negaranya dalam perang Iran-Irak pada dekade 80-an, namun ditolak otoritas di Teheran.
Sejak itu, Pahlavi kemudian tinggal menetap di AS. Di sana, ia hidup bersama istrinya, Yasmine Pahlavi, dan tiga anak perempuan mereka.
Akan tetapi, Pahlavi tak lantas diam di pengasingan. Selama lebih dari 40 tahun, Pahlavi rajin mempromosikan ide referendum dan perubahan kekuasaan kepada masyarakat Iran.
Ia juga rajin mempromosikan demokrasi sebagai ganti sistem teokrasi Iran yang berlangsung kini. Dalam perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni lalu, Pahlavi juga menawarkan diri sebagai pemimpin sementara Iran jika otoritas teokrasi runtuh.
"Saya hadir untuk menyerahkan diri kepada sesama warga saya untuk memimpin mereka menuju jalur perdamaian dan transisi demokratis," tuturnya dalam konferensi pers di Prancis.
Dalam sebuah konferensi pers, Pahlavi menyebut bahwa ia mengaku tak mencari kekuasaan politik melalui pernyataan itu. Ia menyebut bahwa ia hanya menginginkan Iran bertransisi jadi negara demokratis dengan prinsip "integritas wilayah, kebebasan individu, dan kesetaraan warga negara, serta pemisahan agama dan negara".
Kala itu, Pahlavi membayangkan pemerintahan demokratis yang dikelola pemimpin terpilih. Meskipun, ia tak meninggalkan kemungkinan menjadikan Iran sebagai monarki konstitusional dengan raja dan perdana menteri.
Kini, di tengah situasi karut marut yang meluas di Iran, Pahlavi hilir mudik di media massa dan media sosial sebagai salah satu corong pendukung demonstrasi. Ia bahkan membuat pernyataan publik bahwa ia siap kembali ke Iran setelah pemerintahan teokratis Khomeini runtuh.
"Saya juga bersiap untuk kembali ke tanah air, sehingga ketika revolusi nasional kita menang, saya bisa berada di samping Anda," tulis pernyataan Pahlavi untuk masyarakat Iran.
Akan tetapi, meskipun popularitas Pahlavi terlihat terdongkrak selama aksi protes di jalan raya Iran, tak sedikit yang melihat Pahlavi secara skeptis.
Hal itu terjadi lantaran kedekatan Pahlavi dengan AS dan Israel. Pada 2023 lalu, Pahlavi melakukan pertemuan dengan Benjamin Netanyahu dalam kunjungannya ke Israel.
Usai berjumpa perdana menteri Israel itu, Pahlavi menyebut pertemuan itu dalam akun media sosialnya sebagai cara untuk "menyebar pesan persahabatan dari orang Iran ... dan memberikan penghormatan kepada para korban Holocaust pada hari Yom HaShoah".
Kedekatan ini, dipandang banyak pihak, berpotensi jadi batu pengganjal Pahlevi untuk kembali terlibat dalam politik dalam negeri Iran yang punya sentimen negatif ke Israel.
Selain itu, pakar politik Iran, Alireza Nader, menilai bahwa aktivitas politik Pahlevi lebih terlihat sebagai pemecah belah gerakan perlawanan. Sebagaimana dikutip Al Jazeera, kritikus tersebut menuduh lingkaran Pahlavi telah menyerang sosok oposisi populer lain — seperti pemenang Hadiah Nobel, Narges Mohammadi — lalu menyebut mereka "golongan kiri" dan "teroris".
Hanya saja, dengan pembatasan akses internet di Iran oleh otoritas di sana, Pahlavi kini mendapatkan momentum untuk terlihat jadi yang terlantang menyuarakan perlawanan, setidaknya bagi komunitas internasional.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































