tirto.id - Buntut ancaman intervensi militer yang terus digaungkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Iran kini balik mengancam akan menyerang pangkalan militer AS di negara-negara terdekatnya jika Washington benar-benar melakukannya.
Seturut Reuters, seorang pejabat senior Iran menyebut bahwa Negeri Para Mullah itu kini mempertimbangkan secara serius penyerangan ke pangkalan militer di negara-negara tetangga.
"Teheran telah mengatakan pada negara-negara regional, dari Arab Saudi, UEA, hingga Turki, bahwa pangkalan AS di negara-negara tersebut akan diserang jika AS menjalankan intervensi militer," tutur sang pejabat, Rabu (14/1/2026).
Pertimbangan itu muncul setelah Trump memprovokasi publik Iran untuk terus berunjuk rasa dan merebut pemerintahan pada Selasa (13/1/2026).
Dalam pernyataannya di media sosial Truth, Trump menyebut bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan". Trump tak merinci apa yang ia maksud sebagai bantuan tersebut.
Di sisi lain, Teheran telah menuduh AS dan Israel terlibat dalam gelombang protes masyarakat sipil di Iran yang berlangsung sejak 28 Desember 2025 itu. Kedua negara dituduh terlibat dalam pengerahan "teroris" ke Iran.
Ada Imbauan Penarikan Pasukan AS di Teluk
Seiring ketegangan antara AS dan Iran mengalami eskalasi, beberapa personel militer AS yang ditempatkan di kawasan Timur Tengah dilaporkan telah mendapatkan saran untuk meninggalkan pangkalan udara.
Salah satu saran penarikan itu dilaporkan terjadi di Pangkalan Udara Al Udeid milik militer AS di Qatar pada Rabu.
Meski demikian, hingga kini belum ada evakuasi pasukan berskala besar yang terlihat di basis militer AS di Kawasan Teluk. Seorang diplomat menyatakan bahwa saran penarikan pasukan di kawasan Teluk Persia itu merupakan "perubahan gestur" alih-alih "perintah evakuasi".
Sementara itu, melansir Anadolu, negara-negara yang berbatasan dengan Teluk Persia sejauh ini aktif menahan Washington agar tak menyerang Iran.
Meskipun sejauh ini negara-negara seperti Saudi, Oman, dan Qatar tampak diam di depan publik atas apa yang terjadi di Iran, namun mereka dilaporkan telah melakukan lobi secara tertutup dengan pemerintahan Trump.
Menurut laporan The Wall Street Journal, negara-negara tersebut melobi AS agar mempertimbangkan ulang opsi intervensi militer. Mereka menilai upaya militer akan mengganggu pengiriman minyak global via Selat Hormuz yang menjadi bagian dari 20 persen pasokan minyak dunia.
Selain terganggunya pasokan minyak, negara-negara di kawasan Teluk juga disebut menghindari opsi intervensi AS di Iran demi menjaga kestabilan ekonomi dan politik kawasan.
Kondisi Iran sendiri hingga kini masih penuh ketidakpastian. Arus informasi tentang apa yang sedang terjadi di Iran dibatasi secara ketat, meski sempat dilonggarkan pada Selasa.
Jumlah korban jiwa dalam gelombang protes berskala nasional di Iran juga masih sukar dikonfirmasi outlet media independen.
Menurut informasi otoritas Iran kepada Reuters pada Selasa, jumlah korban jiwa dalam bentrokan unjuk rasa telah mencapai angka 2.000 orang.
Kantor Berita Aktivis HAM Iran (HRANA) menyebut jumlah korban jiwa lebih banyak, yakni 2.403 pengunjuk rasa dan 147 individu yang berafiliasi dengan Pemerintah Iran.
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id






























