Sejarah Belanda Hitam di Hindia Timur

Ilustrasi Zwarte Hollanders. FOTO/commons.wikimedia.org/
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 25 Juni 2020
Dibaca Normal 4 menit
Belanda merekrut orang Afrika ke dalam KNIL untuk mengatasi kekurangan personel.
Pada 3 Desember 1836 dini hari, Belanda tiba-tiba menyerang basis kaum Padri di Kampung Bonjol. Di antara pasukan penyerang itu terdapat satuan tentara Bugis dan tentara Afrika—orang Minangkabau menyebut mereka Neger. Dua satuan ini bahkan berhasil menembus masuk kediaman Tuanku Imam Bonjol.

Para serdadu Afrika yang gelap mata melukai salah satu istri Imam Bonjol. Mahmud, anak bungsunya, bahkan tewas ditikam salah satu tentara Afrika saat hendak menolong ibunya.

“Seorang Neger dengan kelewangnya menikam dari seorang istri Tuanku Imam, yang menyebabkan matinya. Seorang perempuan lagi luka pula dadanya ditusuk dengan bayonet,” tulis Muhamad Radjab dalam buku klasik Perang Padri di Sumatra Barat 1803-1838 (2019, hlm. 354).

Imam Bonjol bersama seorang anaknya yang bernama Umar Ali lalu balas menyerang. Baru berpapasan dengan seorang tentara Afrika, keduanya langsung kena bedil. Sementara Umar Ali mundur ke masjid setelah terluka, Imam Bonjol justru makin beringas berkelahi.

Meskipun cukup berhasil memojokkan beberapa serdadu Afrika hingga keluar benteng Bonjol, tapi Imam Bonjol pun menderita luka-luka. Beberapa tusukan bayonet melukai pemimpin tertinggi kaum Padri itu. Beberapa pasukan Padri baru datang ketika sang imam sudah terluka amat parah.

“Karena sangat lelah dan sakit sesudah mendapat luka tiga belas lubang, yang darahnya terus-menerus mengalir, sakitnya makin lama bertambah tak tertahankan, Tuanku Imam terjatuh lagi, dan dipapah oleh pengikut-pengikutnya pulang ke rumah,” tulis Muhamad Radjab.

Perang Padri pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan Tuanku Imam Bonjol diasingkan ke Ambon. Peristiwa itu rupanya begitu membekas baginya sehingga ditulisnya dalam sebuah memoar. Belanda belakangan mengakui bahwa para serdadu Afrika bertindak berlebihan dan tak patuh komando. Maklum satuan Afrika ini baru saja terbentuk dan belum berpengalaman.

Namun, seiring waktu reputasi militer para serdadu Afrika meningkat. Demikian pula jumlahnya yang kemudian jadi cikal bakal komunitas Indo-Afrika di kota-kota garnisun Belanda seperti Purworejo, Semarang, dan Surakarta. Di antara tetangga bumiputranya mereka lazim disebut Zwarte Hollanders alias Landa Ireng alias Belanda Hitam.


Perekrutan Pertama

Serdadu Afrika didatangkan ke Hindia Timur setelah Perang Jawa berakhir. Perang yang terjadi dari 1825 hingga 1830 itu membuat jumlah tentara kolonial (KNIL) menyusut, terutama satuan-satuan Eropa. Sementara itu perekrutan di Belanda stagnan setelah Belgia memerdekakan diri. Menambah personil dari kalangan bumiputra—umumnya dari etnis Ambon dan Bugis—bukan pilihan karena khawatir mereka akan membelot.

Solusi yang kemudian dipilih pemerintah Belanda adalah merekrut tentara dari bekas koloninya di pantai barat Afrika. Wilayah itu dulunya adalah daerah operasi Kompeni Hindia Barat. Belanda masih punya basis di Kota Accra, Elmina, dan Axim yang kini masuk dalam wilayah Ghana. Hubungan diplomatik Belanda dengan Kerajaan Ashanti yang berkuasa di sana pun terbilang baik.

Lagi pula orang Afrika dikenal punya fisik yang kuat. Kemungkinan mereka akan lebih adaptif dengan iklim dan lingkungan tropis Hindia Belanda. Jadi, ide merekrut orang Afrika sebagai tentara terlihat cukup prospektif.

“Pemerintah Belanda berpendapat bahwa hubungan persahabatan yang lama dengan Kerajaan Ashanti akan memastikan tenaga kerja bagi tentara kolonial di Hindia Timur di mana orang Afrika akan melengkapi satuan Eropa di KNIL,” tulis sejarawan Ineke van Kessel dalam jurnal West African Soldiers in the Dutch East Indies: From Donkos to Black Dutchmen (2005).

Perekrutan pertama dimulai pada tahun 1831 di Kota Elmina. Otoritas Belanda di kota itu, Gubernur F. Last, diminta pemerintah Belanda merekrut 150 orang Afrika untuk dikirim ke Jawa. Namun Gubernur Last hanya mampu mengumpulkan 44 orang. Mereka dikontrak untuk enam tahun dinas. Selepas masa kerja mereka boleh memilih: mendaftar ulang, pulang ke Elmina, atau menetap di Jawa.

Menurut penelusuran Van Kessel, rekrutan pertama ini punya latar belakang beragam. Sebagian sudah pernah bekerja di garnisun Belanda. Sebagian lagi tertarik demi dapat uang untuk melunasi utang. Ada pula budak, meski saat itu perbudakan telah dilarang di sana.

Tentang ini, Nino Oktorino dalam Perang Terlama Belanda: Kisah Perang Aceh 1873-1913 (2018, hlm. 29) menulis, “Biasanya, mereka direkrut dari St. George d’Elmina di wilayah Ghana modern, tempat di mana mereka dibeli di pasar budak di Kumasi oleh seorang pejabat NIL yang berdarah campuran Belanda-Afrika, J. Huydecoper. Para budak belian ini sendiri kemudian diizinkan membeli kebebasannya setelah bertugas dalam NIL.”

Perekrutan pertama itu lantas berlanjut hingga 1836 yang oleh Van Kessel disebut sebagai gelombang perekrutan pertama. Satuan-satuan Afrika pertama yang terbentuk dikirim ke Lampung, Jambi, hingga diikutkan dalam Perang Padri di pesisir barat tanah Minang.


Status Istimewa

Dalam lingkungan militer kolonial Hindia Belanda, satuan serdadu Afrika punya posisi istimewa. Sesuai dengan perjanjian dengan Kerajaan Ashanti, status mereka disamakan dengan serdadu Eropa. Karena itu mereka dapat gaji yang lebih tinggi daripada tentara pribumi dan memperoleh fasilitas sama dengan prajurit Eropa. Dari perlakuan inilah mulanya muncul julukan Belanda Hitam.

Satu hal yang membedakan tentara Afrika dari sekondan Eropanya adalah masa kerja. Sejak 1837 kontrak kerja rekrutan Afrika dari kalangan orang merdeka diperpanjang jadi 15 tahun. Sementara kalangan budak dari luar wilayah Kerajaan Ashanti tidak dibatasi alias bisa jadi seumur hidup. Pada 1844 aturan diubah lagi, semua serdadu Afrika dikontrak untuk masa kerja 15 tahun.

Tahun 1837 adalah awal dari gelombang kedua perekrutan. Seiring dengan laporan-laporan positif para perwira Belanda atas kinerja serdadu Afrika ini, perekrutan besar-besaran dilakukan hingga 1841. Sebagian serdadu Afrika yang habis masa kerjanya memilih tetap tinggal di Jawa dan membangun komunitas di sana.

“Bagi mantan budak, mukim di Jawa adalah pilihan yang lebih menarik. Di Gold Coast, mereka dianggap sebagai mantan budak, sementara di Jawa mereka berhak atas status Eropa. [...] Namun, banyak prajurit Afrika tidak sempat memilih karena mati selama masa dinas militer yang panjang. Hanya sedikit yang benar-benar mati di medan perang, seperti halnya orang Eropa, mayoritas meninggal karena penyakit,” tulis Van Kessel.

Belanda tidak bisa tidak mengindahkan “janji perlakuan setara” itu, karena ketika mereka mangkir atau melanggarnya prajurit Afrika itu tak segan angkat senjata. Kejadian macam itu bukan hanya sekali terjadi dan sempat memaksa Belanda menghentikan sementara proses perekrutan.

Prajurit Afrika, misalnya, pernah melancarkan serangkaian protes pada 1938. Sebermula adalah perintah menukar kasur jerami standar Eropa dengan tikar biasa dan kemudian meluas pada pengurangan gaji. Pemberontakan gara-gara masalah yang sama dilaporkan juga terjadi pada 1840 dan 1884 baik di Sumatra maupun Jawa.

“Pada Juni 1841, 37 tentara Afrika bersenjata lengkap dari Batalyon Infanteri 10 kabur dari benteng Belanda Van der Capellen di pantai barat Sumatra setelah berulang kali menolak komando. Sebuah detasemen yang dikirim untuk mengejar tidak dapat membujuk kelompok Afrika itu untuk kembali. Terjadilah perkelahian yang menewaskan dua orang Afrika dan empat lainnya terluka parah. Sisanya ditangkap. Pemberontakan itu dipicu oleh penggantian kasur jerami dengan tikar biasa,” tulis Van Kessel.


Prasangka Rasial

Terlepas dari perlawanan mereka, orang-orang Afrika ini termasuk serdadu pilih tanding. Tak pernah ada laporan pencurian di kalangan militer yang melibatkan mereka. Fisik mereka kuat, mudah beradaptasi, dan punya nyali di atas rata-rata.

Catatan gemilang satuan tentara Afrika, misalnya, terjadi pada ekspedisi KNIL ke Bali pada 1849. Satuan Afrika dari Batalion Infanteri 7 dianugerahi Militaire Willemsorde—kusala tertinggi dalam ketentaraan Belanda—atas peran mereka bagi kesuksesan ekspedisi itu. Seorang perwira KNIL bahkan mengakui mereka lebih baik daripada prajurit Eropa.

“Selama perang Aceh, Belanda mengerahkan dua kompi prajurit Afrika Barat. Jumlahnya relatif kecil, hanya sekitar 230 orang prajurit. Namun, mereka memiliki reputasi tempur yang baik, bahkan sangat ditakuti oleh orang Aceh. Selama Ekspedisi Militer Kedua, para prajurit Afrika ditugaskan untuk menjaga Meuraksa dan Lampaseh,” tulis Nino Oktorino (hlm. 30).

Meski demikian, tentara Afrika juga tak lepas dari prasangka rasial dari orang Eropa dan juga bumiputra. Sebagian prasangka itu sebenarnya tak lepas dari cara pandang orang Afrika terhadap dirinya sendiri. Van Kessel menyebut, status “setara Belanda” membuat mereka jadi arogan dan memandang rendah bumiputra. Mereka secara sengaja menjaga jarak dari tetangga tangsinya yang bumiputra.

Gara-gara itu bumiputra pun memandang miring mereka. Di mata bumiputra, serdadu Afrika dipandang sebagai pemarah dan kurang ajar. Sementara Belanda, dengan sentimen kulit putihnya, tetap menganggap mereka susah diatur dan tak beradab. Jenderal Cochius, salah satu panglima tertinggi KNIL, bahkan menganggap “janji perlakuan setara” adalah sebuah kesalahan besar.

Gelombang terakhir perekrutan serdadu Afrika berlangsung antara 1860 hingga 1872. Secara total, dalam kurun 1832-1872, Belanda telah mempekerjakan 3.000 orang Afrika dalam KNIL. Van Kessel mencatat, tidak ada lagi tentara Afrika totok yang berdinas di KNIL pada 1915. Meski demikian, komunitas Indo-Afrika telah terbentuk di kota-kota tempat garnisun KNIL berdiri, seperti di Semarang, Purworejo, Salatiga, dan Surakarta.

Komunitas ini tetap mendapat status setara dengan penduduk Eropa, bahkan berasimilasi dengan populasi Indo-Eropa. Kebanyakan mereka jadi pemeluk Katolik, menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa ibu, dan anak-anaknya bersekolah di sekolah Belanda.

“Keturunan Indo-Afrika tetap ada dalam tubuh KNIL sampai akhir pemerintahan kolonial pada tahun 1949. [...] Setelah kemerdekaan Indonesia, kebanyakan orang Indo-Afrika turut dalam eksodus besar-besaran orang Belanda dan Indo-Eropa ke Belanda. Label Belanda Hitam, yang menunjukkan status istimewa dalam masyarakat kolonial, sekarang menjadi istilah pelecehan karena para nasionalis Indonesia menganggap Indo-Afrika sebagai kolaborator kolonialis Belanda,” tulis Van Kessel.

Baca juga artikel terkait SEJARAH KNIL atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight