tirto.id - Data Bloomberg mencatat, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan hari ini, Kamis (12/3/2026), melonjak 7,15 persen menjadi 93,5 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Sedangkan, harga minyak Brent naik 7,12 persen ke posisi 98,69 dolar AS per barel.
Bahkan, data CNBC mencatatkan kenaikan lebih tinggi, di mana harga minyak mentah Brent tercatat naik 8,88 persen ke level 100 dolar AS per barel dan WTI melonjak 8,8 persen ke posisi 95 dolar AS per barel.
Lonjakan harga minyak ini terjadi karena pasar tetap tidak yakin bahwa pelepasan cadangan pemerintah dapat mengimbangi guncangan pasokan besar-besaran yang dipicu oleh perang di Timur Tengah.
Sebelumnya, International Energy Agency (IEA) atau Badan Energi Internasional pada Rabu (11/3/2026) mengumumkan bahwa 32 negara anggotanya akan melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat. Ini merupakan penarikan cadangan terbesar sejak badan tersebut dibentuk setelah embargo minyak tahun 1973.
Secara pribadi, Amerika Serikat mengumumkan akan melepaskan 172 juta barel dari cadangan minyak strategisnya. Menteri Energi AS, Chris Wright mengatakan pengiriman dapat dimulai minggu depan dan membutuhkan waktu sekitar 120 hari untuk diselesaikan.
Namun, harga minyak yang terus meroket membuktikan bahwa pasar cukup skeptis atas pengumuman tersebut. Apalagi, sampai saat ini gangguan masih terjadi di Selat Hormuz.
"Harga saat ini masih dalam mode panik. Ada banyak emosi, ketakutan, ketidakpastian yang tertanam dalam harga yang kita lihat," kata ahli strategi investasi senior di Raymond James, Pavel Molchanov, dikutip CNBC.
https://www.cnbc.com/2026/03/12/oil-prices-jump-iea-record-reserve-release-markets-doubt-relief.html
Meski begitu, pelepasan cadangan strategis IEA akan menambah volume yang sangat dibutuhkan ke pasar. Kendati demikian, itu hanya menutup hingga seperempat dari 20 juta barel per hari kesenjangan pasokan yang ditimbulkan oleh penutupan Selat Hormuz.
"Namun, keputusan IEA juga menandakan betapa akutnya risiko kekurangan minyak. Ini menunjukkan bahwa IEA tidak percaya perang (kemungkinan) akan segera berakhir dan penarikan saham sekarang perlu diganti nanti, dengan harga yang lebih tinggi bahkan setelah perang berakhir," kata analis energi di MST Marquee, Saul Kavonic.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id






































