tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp16.949 pada perdagangan hari ini, Senin (9/3/2026). Mata uang Garuda turun 24 poin atau 0,14 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp16.925 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi dua faktor utama, yakni faktor internal dan eksternal. Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang telah menyentuh 92 dolar AS per barel, atau level tertinggi sejak 2020.
"Angka ini jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang hanya mematok harga di kisaran US$70 per barel. Dan ini akan menaikkan defisit sebesar Rp6,8 triliun," sebutnya dalam keterangan yang diterima, Senin.
"Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui US$100 per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4 persen," lanjut dia.
Ibrahim mengatakan angka tersebut berisiko karena melampaui batas defisit 3 persen yang ditetapkan dalam UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Ia menilai terganggunya aktivitas di Selat Hormuz, yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menjadi salah satu penyebab utama terganggunya pasokan energi global.
Menurut dia, dalam menghadapi situasi tersebut pemerintah perlu segera mengambil sejumlah langkah strategis. Pertama, melakukan efisiensi anggaran negara secara signifikan dengan memfokuskan belanja pada kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, pangan, energi, dan pengentasan kemiskinan.
Kedua, pemerintah perlu mempercepat upaya pengurangan konsumsi minyak melalui program konversi energi dari bahan bakar fosil ke energi baru dan terbarukan. Beberapa di antaranya adalah pengembangan energi surya melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) sebagai alternatif pengganti pembangkit diesel.
Ketiga, stimulus ekonomi juga perlu diperkuat melalui deregulasi untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
"Aturan-aturan yang menghambat perkembangan ekonomi bisa dipangkas. Begitu juga perlu debirokratisasi, birokrasi yang berbelit sehingga menyulitkan dunia usaha dapat disederhanakan," sebut Ibrahim.
Sementara itu, dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah juga dipicu lonjakan harga minyak global yang meningkat hingga sekitar 30 persen, melampaui 100 dolar AS per barel dan mendekati level tertinggi yang terjadi pada awal konflik Rusia-Ukraina pada 2022.
Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan udara Israel dan Amerika Serikat disebut menargetkan fasilitas minyak Iran selama akhir pekan, sementara Teheran membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap sejumlah fasilitas energi di kawasan tersebut.
Iran juga dilaporkan menyerang kapal-kapal di jalur pelayaran Selat Hormuz, sehingga secara efektif mengganggu lalu lintas distribusi energi di kawasan tersebut. Selat strategis ini merupakan jalur utama pengiriman minyak bagi banyak negara di Asia, sehingga potensi penutupannya dapat memicu gangguan pasokan energi di berbagai negara.
"Selain itu, Iran pada hari Senin menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi, menandakan bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran seminggu setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel," urai Ibrahim.
Di kawasan Asia, perkembangan ekonomi juga menjadi perhatian pasar. Inflasi indeks harga konsumen di Tiongkok tercatat tumbuh 1,3 persen secara tahunan pada Februari 2026, lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 0,9 persen. Angka tersebut juga menjadi laju inflasi tercepat dalam tiga tahun terakhir.
Ibrahim menilai kenaikan inflasi tersebut terutama didorong oleh peningkatan konsumsi selama libur panjang Tahun Baru Imlek, ketika permintaan terhadap perjalanan, jasa, dan barang-barang diskresioner meningkat tajam.
"Namun, inflasi indeks harga produsen masih mengalami kontraksi, dan pasar kini mencari lebih banyak tanda apakah tren inflasi China akan berlanjut setelah lonjakan permintaan selama liburan," sebutnya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































