Menuju konten utama

Rupiah Kian Dekati Rp17.000, Ditutup Turun ke Rp16.925 per US$

Konflik Timur Tengah masih menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah hari ini.

Rupiah Kian Dekati Rp17.000, Ditutup Turun ke Rp16.925 per US$
Petugas menghitung uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Jumat (6/3/202) sore. Rupiah terdepresiasi 20,50 poin atau 0,12 persen ke level Rp16.925 per dolar AS dari posisi Rp16.905 pada penutupan hari sebelumnya.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, konflik Timur Tengah masih menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah hari ini.

Pasalnya, memasuki hari ketujuh, belum ada tanda-tanda yang jelas bahwa perang antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel akan mereda.

"Pertempuran antara AS, Israel, dan Iran telah meningkat selama seminggu terakhir, dengan serangan rudal dan serangan balasan menyebar di seluruh wilayah dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global," tulisnya.

Sementara di dalam negeri, sentimen atas perbaikan penerimaan negara dinilai turut berdampak pada gerak rupiah. Terlebih, pemerintah berupaya mengerek tax ratio alias rasio pajak usai menjadi salah satu pertimbangan lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan prospek (outlook) Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Sebagai informasi, dalam satu dekade terakhir, tax ratio Indonesia selalu berada di kisaran 9 persen hingga 10 persen terhadap PDB. Bahkan, angkanya cenderung menurun seperti yang terjadi pada tahun lalu dari 10,08 persen pada 2024 menjadi 9,31 persen pada 2025.

Fitch sendiri memproyeksikan bahwa rasio pendapatan negara terhadap PDB Indonesia hanya akan mencapai rata-rata 13,3 persen terhadap PDB selama periode 2026-2027, jauh tertinggal dari median negara setara di kategori 'BBB' yang berada di level 25,5 persen.

"Revisi prospek dari Fitch tersebut menjadi perhatian khusus pemerintah. Pemerintah akan mengevaluasi dan memperbaiki arah kebijakan ke depan, terutama dalam memitigasi risiko dari sisi penerimaan negara yang dinilai lemah oleh Fitch," jelasnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana