Sejarah Indonesia

Sejarah Kerajaan Buleleng: Pendiri, Letak, Raja, & Peninggalan

Kontributor: Yuda Prinada - 18 Mar 2021 18:20 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Sejarah Kerajaan Buleleng di Bali bagian utara dimulai sejak pertengahan abad ke-17 Masehi.
tirto.id - Sejarah Kerajaan Buleleng dimulai sejak pertengahan abad ke-17 Masehi. Kerajaan bercorak Hindu ini terletak di Bali bagian utara, tepatnya di Singaraja. Pendiri Kerajaan Buleleng bernama I Gusti Anglurah Panji Sakti dari Wangsa Kepakisan.

Kerajan Buleleng berdiri ketika eksistensi Kerajaan Majapahit kian memudar. Selama berabad-abad Majapahit yang berpusat di Jawa bagian timur dikenal sebagai kemaharajaan besar, sebelum runtuh seiring munculnya Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa.

Di seberang timur Jawa, berdirilah Buleleng bersama sejumlah kerajaan Hindu lainnya di Pulau Dewata. Amurwani Dwi dan kawan-kawan dalam Sejarah Indonesia (2014:141), mencatat, di Bali saat itu muncul beberapa kerajaan, termasuk Gelgel, Klungkung, Buleleng, dan lainnya.

Pendiri Kerajaan Buleleng

I Gusti Anglurah Panji Sakti atau yang bernama kecil I Gusti Gede Pasekan adalah seorang pangeran. Ia putra dari I Gusti Ngurah Jelantik, penguasa Kerajaan Gelgel yang bertakhta sejak tahun 1580 Masehi.

Meskipun bertitel pangeran, Panji Sakti bukanlah putra mahkota karena ia bukan anak dari permaisuri. Ibunda Panji Sakti bernama Si Luh Pasek Gobleg, istri selir I Gusti Ngurah Jelantik.

Dikisahkan oleh Deni Prasetyo dalam buku Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara (2009), Panji Sakti berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia punya keistimewaan, termasuk disebut-sebut memiliki kekuatan supranatural.


Kelebihan Panji Sakti membuat ayahnya khawatir. I Gusti Ngurah Jelantik cemas jika suatu saat anaknya dari istri selir itu akan menggeser posisi pewaris takhta yang telah ditunjuknya, yakni putra mahkota dari permaisuri.

Maka, ketika berusia 12 tahun, Panji Sakti diasingkan ke kampung halaman ibunya, yakni di Desa Panji, wilayah Den Bukit, Bali bagian utara.

Di Den Bukit, Panji Sakti tumbuh sebagai sosok pemimpin muda yang cemerlang. Ia berhasil menyatukan wilayah-wilayah sekitar Den Bukit bahkan kemudian dinobatkan menjadi raja.

I Gusti Anglurah Panji Sakti mendirikan kerajaan pada 1660 yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Buleleng.


Sejarah Kerajaan Buleleng

Di bawah pimpinan I Gusti Anglurah Panji, Kerajaan Buleleng berkembang pesat dan langsung mencapai kejayaan di masa-masa awalnya.

Kerajaan ini punya bandar dagang yang ramai karena letaknya dekat dengan pantai. Buleleng berperan sebagai penyalur pasokan hasil bumi dari para saudagar Bali ke daerah-daerah lain.

Dikutip dari buku I Gusti Anglurah Panji Sakti Raja Buleleng (1994) karya Soegianto Sastrodiwiryo, wilayah Kerajaan Buleleng bertambah luas setelah menaklukkan Blambangan (Banyuwangi) dan Pasuruan di Jawa bagian timur.

Kekuatan Kerajaan Buleleng perlahan melemah setelah I Gusti Ngurah Panji Sakti meninggal dunia pada 1704. Tahun 1732, Buleleng takluk kepada Kerajaan Mengwi. Dua dekade kemudian, tahun 1752, Buleleng kembali menjadi negeri yang merdeka.

Namun, lagi-lagi Buleleng kalah perang tahun 1780 pada era kepemimpinan I Gusti Ngurah Jelantik (1757-1780). Pemimpin Wangsa Karangasem, I Gusti Pahang Canang, berhasil merebut wilayah Buleleng.


Selama berada di bawah kekuasaan Wangsa Karangasem, keluarga istana Buleleng ternyata diberi posisi penting. Salah satunya adalah I Gusti Ketut Jelantik, pangeran Buleleng putra I Gusti Ngurah Jelantik.

Ketika Wangsa Karangasem dipimpin oleh I Gusti Made Karangasem (1825-1849), I Gusti Ketut Jelantik ditunjuk sebagai patih atau panglima perang.

Pada 1846, 1848, dan 1849, wilayah Buleleng mendapat serangan dari Belanda. Menurut catatan Robert Pringle dalam A Short History of Bali (2004), I Gusti Ketut Jelantik memimpin perlawanan rakyat Buleleng terhadap kaum penjajah.

I Gusti Ketut Jelantik gugur dalam rangkaian peperangan yang berakhir dengan puputan atau perang habis-habisan itu pada 1849. Sejak saat itu, wilayah Bali bagian utara, termasuk Karangasem dan Buleleng, dikuasai oleh Belanda.


Peninggalan Kerajaan Buleleng

Berdasarkan catatan Sugeng Riyanto dan kawan-kawan dalam “Studi Potensi Lansekap Sejarah untuk Pengembangan Wisata Sejarah di Kota Singaraja” yang termuat di jurnal Arsitektur Lansekap (vol.2, no.1, 2016), ada beberapa peninggalan sejarah Kerajaan Buleleng, di antaranya adalah:

1. Perempatan Agung (Catus Patha)

Perempatan yang berlokasi di Jalan Mayor Metra, Veteran, dan Gajah Mada, Kota Singaraja. Konsep penataan ruang ini disebut tradisional khas Buleleng. Di sana terdapat pura, puri (pusat pemerintahan), pasar, dan lapangan terbuka.

2. Masjid Kuno (Keramat)

Ditemukan ketika orang Bajo dari Suku Bugis menyisir lahan yang tertutup semak belukar di tepi Sungai Buleleng. Diduga, masjid ini adalah peninggalan Buleleng ketika pengaruh Islam masuk ke Bali.


3. Masjid Agung Jami'

Peninggalan ini semula bernama Masjid Jami yang ditujukan sebagai simbol toleransi beragama di Kerajaan Buleleng. Namanya diubah pada 1970, sebagai bentuk penghargaan kepada kebaikan Raja Buleleng.

4. Kampung Bugis

Catatan sejarah perjalanan orang seberang bisa dilihat dari kampung ini. Suku Bugis ketika itu tergabung dalam angkatan laut Kerajaan Buleleng dan banyak yang menetap di Singaraja.


5. Kantor Bupati Buleleng

Setelah Buleleng dikuasai Belanda, dibangun gedung Asisten Residen untuk pejabat Belanda. setelah Indonesia merdeka, diubah fungsinya oleh Pemerintah Daerah Bali menjadi Gedung Veteran dan perguruan tinggi.

6. Eks Perlabuhan Buleleng

Tempat ini adalah bukti sejarah bahwa Buleleng pernah berperan sebagai pusat perdagangan.


Daftar Raja Buleleng

Wangsa Panji Sakti
  • Gusti Anglurah Panji Sakti
  • Gusti Panji Gede Danudarastra
  • Gusti Alit Panji
  • Gusti Ngurah Panji
  • Gusti Ngurah Jelantik
  • Gusti Made Singaraja
Wangsa Karangasem
  • Anak Agung Rai
  • Gusti Gede Karang
  • Gusti Gede Ngurah Pahang
  • Gusti Made Oka Sori
  • Gusti Ngurah Made Karangasem

Baca juga artikel terkait KERAJAAN BULELENG atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight