Sejarah Banyuwangi: Dari Kerajaan Blambangan Hingga KKN Desa Penari

Oleh: Iswara N Raditya - 4 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah Banyuwangi, yang kerap dikaitkan dengan lokasi KKN Desa Penari, terkait erat dengan riwayat Kerajaan Blambangan yang sebenarnya masih menjadi misteri.
tirto.id - Kisah horor KKN Desa Penari viral di jagat maya. Cerita seram ini mengisahkan tentang pengalaman mistis sejumlah mahasiswa yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Banyak warganet mengira, lokasi KKN itu berada di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Banyuwangi sendiri punya sejarah yang sebenarnya masih menjadi misteri hingga kini.

Sejarah Banyuwangi terkait erat dengan riwayat Kerajaan Blambangan, salah satu kerajaan penganut Hindu terakhir di tanah Jawa. Asal usul kerajaan ini, maupun riwayat awal Banyuwangi, belum terkuak sepenuhnya.

Selama ini, setidaknya hingga bubarnya Kerajaan Majapahit pada abad ke-15 Masehi, sejarah Kerajaan Blambangan dan Banyuwangi hanya dapat diterka melalui tradisi lisan, naskah kuno yang tidak utuh, roman, bahkan dari kisah legenda atau cerita rakyat yang mendekati mitologi.

Salah satu kisah yang sering terdengar terkait Blambangan serta Banyuwangi adalah tentang Damarwulan dan Menakjinggo, ini pun masih menjadi perdebatan hingga saat ini terkait kebenaran maupun silang sengkarut versinya.

Maka, seperti yang diakui oleh I Made Sudjana melalui buku Nagari Tawon Madu: Sejarah Politik Blambangan Abad XVIII (2001), tidak mengherankan jika Blambangan kerap dianggap seperti negeri antah-berantah.


Misteri Riwayat Blambangan

Nama Blambangan pertamakali ditemukan dalam Kitab Nagarakertagama yang ditulis pada 1365 Masehi dengan sebutan "Balambangan." Namun, hanya sebatas itu. Oleh J.L.A. Brandes dalam Verslag over een Babad Balambwangan (1894), istilah tersebut diperkirakan berasal dari dialek orang Osing, orang asli Banyuwangi.

Selanjutnya, Atmosudirdjo dalam Vergelijkende Adatrechtelijk Studie van Oost Javase, Madoerezen, en Oesingers (1952) menawarkan alternatif temuan istilah Balambangan itu, yakni terdiri dari kata bala yang berarti “orang” dan mbang yang artinya “batas”.

Maka, Balambangan atau Blambangan boleh dibilang adalah tempat bermukimnya orang-orang di perbatasan. Wilayah Blambangan, khususnya Banyuwangi yang merupakan daerah paling timur di Pulau Jawa, memang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah selatan dan Selat Bali di sisi timurnya.

Nama Blambangan teramat jarang disebut dalam historiografi Indonesia yang terhimpun dalam berbagai referensi. Bahkan, buku babon macam Pengantar Sejarah Indonesia atau Sejarah Nasional Indonesia yang berjilid-jilid itu tidak membahasnya.

Perkembangan Kerajaan Blambangan yang diketahui adalah bersamaan dengan kerajaan Hindu terbesar di Jawa, Majapahit. Setelah Majapahit runtuh pada abad ke-15, Blambangan berdiri sebagai satu-satunya kerajaan penganut ajaran Hindu di Jawa.


Kerajaan Blambangan mengontrol kawasan terbesar di ujung timur Jawa yang sekarang terbagi dalam lima wilayah administratif, yakni Banyuwangi, Jember, Lumajang, Bondowoso, dan Situbondo. Namun, wilayah yang sebenarnya menjadi milik Blambangan ini kerap diganggu oleh kerajaan-kerajaan lain.

Blambangan diperebutkan oleh dua faksi besar, dari sebelah barat oleh Kesultanan Mataram Islam dan beberapa kerajaan di Pulau Bali seperti Buleleng, Mengwi, Gelgel, dan lainnya.

Dikutip dari Ujung Timur Jawa 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan (2007) karya Sri Margana, Blambangan semakin runyam dengan kehadiran misionaris Barat pada paruh akhir abad ke-16.

Dalam kerumitan ini, berarti ada tiga agama yang beradu pengaruh di Blambangan, yakni Hindu yang merupakan ajaran yang dianut oleh Kerajaan Blambangan juga kerajaan-kerajaan dari Bali, Islam dari Kesultanan Mataram, serta Kristen dari bangsa Barat.


Banyuwangi: Tanah Orang Sakti

Pada abad ke-17, Belanda dan Inggris datang untuk mengadu kekuatan politik dan ekonomi di wilayah Blambangan. Kekuasaan Blambangan, terutama suksesi raja, seringkali dicampuri oleh orang-orang asing itu sehingga kerap terjadi pertikaian internal yang semakin memperlemah kerajaan ini.

Kerajaan Blambangan akhirnya musnah setelah terjadi Puputan Bayu pada 1771. Peristiwa berdarah ini adalah perang habis-habisan antara rakyat Banyuwangi yang dipimpin Pangeran Jagapati melawan VOC.

Cornelis Lekkerkerker dalam Balambangan: Indische Gids II (1923) menyebut bahwa Puputan Bayu di Banyuwangi adalah peperangan paling menegangkan, paling kejam, dan paling banyak memakan korban dari semua peperangan yang pernah dilakukan VOC/Belanda di Indonesia.

Dalam The History of Java (1817) karya Thomas Stamford Raffles disebutkan, pada 1750 atau sebelum Puputan Bayu, Blambangan dihuni lebih dari 80.000 orang. Kemudian pada 1881, catat Raffles, penduduknya tinggal 8.000 jiwa saja.

Seorang pejabat Belanda, J.C. Bosch, seperti dikutip Benedict Anderson lewat tulisan berjudul “Sembah Sumpah, Politik Bahasa dan Kebudayaan Jawa” dalam Prisma (1982), berkomentar mengenai tragedi ini:

“[…] daerah inilah [Blambangan] barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang satu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali,” sebut Bosch.

Puputan Bayu yang terjadi pada 18 Desember 1771 ditetapkan sebagai hari jadi Banyuwangi.


Setelah perang besar-besaran itu, wilayah ini dikuasai oleh Belanda. Blambangan digabungkan dengan Karesidenan Besuki. Blambangan lalu dipecah menjadi dua dengan Gunung Raung sebagai batasnya, yakni Blambangan Barat dan Blambangan Timur.

Wilayah Blambangan Timur inilah yang kemudian menjadi Kabupaten Banyuwangi dan termasuk ke dalam wilayah Provinsi Jawa Timur setelah Indonesia merdeka.

Sri Margana (2007) dalam bukunya menyebut, citra Blambangan sebagai tanah air wong digdaya (orang sakti) masih terus terpelihara hingga kini. Banyuwangi, nama saat ini untuk Blambangan, telah menikmati reputasi sebagai salah satu pusat ilmu kekuatan supernatural di Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH BANYUWANGI atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Abdul Aziz
DarkLight