Sejarah Indonesia

Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang: Kronologi, Tokoh, Akhir

Oleh: Yuda Prinada - 16 Maret 2021
Dibaca Normal 2 menit
Pertempuran Lima Hari terjadi di Semarang pada 15-19 Oktober 1945 dan termasuk dalam rangkaian sejarah kemerdekaan Indonesia.
tirto.id - Pertempuran Lima Hari atau Palagan 5 Dina terjadi di Semarang, Jawa Tengah, pada 15-19 Oktober 1945. Peristiwa ini termasuk dalam rangkaian sejarah kemerdekaan Indonesia seiring kalahnya Jepang dari Sekutu di Perang Dunia II.

Peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang melibatkan sisa-sisa pasukan Jepang di Indonesia dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) atau angkatan perang Indonesia saat itu sebelum menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang kemudian dikenang dengan dibangunnya sebuah monumen yakni Tugu Muda di Simpang Lima di ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini.


Latar Belakang Sejarah

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dinyatakan pada 17 Agustus 1945, masih cukup banyak prajurit Jepang yang belum bisa pulang ke negaranya. Tidak sedikit serdadu Jepang yang dipekerjakan, misalnya di pabrik-pabrik atau sektor lain.

Seiring dengan itu, pasukan Sekutu, termasuk Belanda, mulai datang ke Indonesia dengan maksud melucuti senjata dan memulangkan para mantan tentara Jepang yang masih tersisa.


Dalam Indonesia Merdeka: 30 Tahun terbitan Sekretariat Negara RI (1995) disebutkan, pada 14 Oktober 1945 terjadi perlawanan dari 400 mantan tentara Dai Nippon Jepang yang dipekerjakan di pabrik gula Cepiring yang terletak sekitar 30 kilometer dari Kota Semarang.

Saat itu, mereka akan dipindahkan ke Semarang, namun melarikan diri dari pengawalan. Ratusan bekas serdadu Jepang tersebut melakukan perlawanan dan kabur ke daerah Jatingaleh. Di sana, mereka bergabung dengan pasukan batalion Kidobutai yang dipimpin oleh Mayor Kido.

Kronologi Peristiwa

Upaya penentangan dari para mantan prajurit Jepang mulai terlihat di Semarang. Mereka bergerak melakukan perlawanan dengan alasan mencari dan menyelamatkan orang-orang Jepang yang ditawan.

Menurut catatan Ahmad Muslih dan kawan-kawan dalam buku ajar Ilmu Pengetahuan Sosial (2015:189), Pertempuran Lima Hari di Semarang dimulai sejak 15 hingga 20 Oktober 1945. Pada dini hari tanggal 15 Oktober, kurang lebih 2.000 orang dari Kidobutai mendatangi Kota Semarang.


Kedatangan mereka ternyata disambut oleh angkatan muda Semarang dengan dukungan TKR. Pertempuran pun terjadi selama lima hari antara kedua pihak. Ternyata, Kidobutai juga didampingi oleh pasukan Jepang lain di bawah pimpinan Jenderal Nakamura.

Perang ini terjadi di empat titik di Semarang, yakni daerah Kintelan, Pandanaran, Jombang, dan di depan Lawang Sewu (Simpang Lima). Lokasi konflik yang disebut banyak menelan korban dan berdurasi paling lama adalah di Simpang Lima atau yang kini disebut daerah Tugu Muda.

Akhir Pertempuran

Agar pertikaian tidak berlarut-larut, maka digelar perundingan untuk mengupayakan gencatan senjata. Kasman Singodimedjo dan Mr. Sartono mewakili Indonesia, sedangkan dari Jepang hadir Letnan Kolonel Nomura, Komandan Tentara Dai Nippon.

Selain itu, ada pula perwakilan dari pihak Sekutu yakni Brigadir Jenderal Bethel. Perdamaian antara kedua belah pihak pun terjadi. Pada 20 Oktober 1945, pihak Sekutu melucuti seluruh persenjataaan para tentara Jepang.

Peristiwa Pertempuran Lima Hari kemudian dikenang dengan pembangunan Tugu Muda di Simpang Lima, Kota Semarang.

Dikutip dari Monumen Perjuangan: Volume 2 (2008), pembangunan Tugu Muda dimulai pada 1952 dan diresmikan oleh Presiden Sukarno tanggal 20 Mei 1953.


Tokoh-tokoh Peristiwa

Beberapa tokoh dalam peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang antara lain sebagai berikut:

  1. dr. Kariadi, dokter sekaligus Kepala Laboratorium Dinas Pusat yang dikabarkan diracuni oleh tentara Jepang. Nama dr. Kariadi kemudian diabadikan untuk nama rumah sakit di Semarang.
  2. drg. Soenarti, istri dr. Kariadi.
  3. Mr. Wongsonegoro, Gubernur Jawa Tengah yang sempat ditahan oleh Jepang.
  4. Sukaryo dan Mirza Sidharta, tokoh Indonesia yang ditangkap oleh Jepang bersama Mr. Wongsonegoro.
  5. Mayor Kido, pemimpin Batalion Kidobutai Jepang yang berpusat di Jatingaleh.
  6. Kasman Singodimejo dan Mr. Sunarto, perwakilan perundingan gencatan senjata dari Indonesia.
  7. Letnan Kolonel Nomura, perwakilan Jepang dalam perundingan.
  8. Jenderal Nakamura, perwira tinggi Jepang.


Baca juga artikel terkait SEJARAH PERANG KEMERDEKAAN atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight