Menuju konten utama

Biografi Ida Dewa Agung Jambe Pahlawan Nasional Baru dari Bali

Biografi Ida Dewa Agung Jambe yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dari Bali.

Biografi Ida Dewa Agung Jambe Pahlawan Nasional Baru dari Bali
(Ilustrasi) sejumlah pemain menampilkan drama teatrikal pertempuran Surabaya saat Parade Surabaya Juang di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (5/11/2023). ANTARA FOTO/Didik Suhartono/nz

tirto.id - Raja Klungkung, Ida Dewa Agung Jambe II ditetapkan sebagai pahlawan nasional baru dari Bali oleh Presiden Joko Widodo pada momen hari pahlawan yang diperingati hari ini, Jumat, 10 November 2023.

Ida Dewa Agung Jambe merupakan pahlawan yang gugur melawan Belanda dalam perang puputan pada 28 April 1908. Peristiwa itu dikenang sebagai Hari Puputan Klungkung dan Hari Ulang Tahun Kota Semarapura, ibu kota Kabupaten Klungkung.

Selain Ida Dewa Agung Jambe, ada lima tokoh lainnya yang juga dianugerahi gelar pahlawan nasional yaitu Bataha Santiago, Sulawesi Utara; M Tabrani, Jawa Timur; Ratu Kalimanyat, Jawa Tengah; KH Abdul Chalim, Jawa Barat; dan KH Ahmad Hanafiah, Lampung.

Anugerah pahlawan nasional kepada enam tokoh itu dikukuhkan dalam Keputusan Presiden Nomor 115-TK-TH2023 bertanggal 6 November 2023.

Biografi Ida Dewa Agung Jambe II

Ida Dewa Agung Jambe II merupakan anak dari Ida Dewa Agung I, pendiri Kerajaan Klungkung pada 1686 sekaligus penerus dinasti kerajaan Gelgel.

Ida Dewa Agung Jambe I adalah anak dari raja Kerajaan Gelgel, Dalem Di Made yang pada masa pemerintahannya memindahkan puri kerajaan ke Klungkung. Pemindahan itu menyebabkan pembagian Pulau Bali menjadi sejumlah kerajaan kecil pada abad ke 17.

Mengutip laman Puri Kauhan Ubud, Kerajaan Klungkung adalah penerus dari Kerajaan Gelgel yang berdiri setelah Sagung Maruti dapat dikalahkan.

Sagung Maruti adalah seorang petinggi kerajaan Gelgel, yang mengkudeta rajanya sendiri, lalu menyatakan dirinya sebagai Raja Gelgel.

Sagung Maruti sempat menduduki takhta sebagai Raja Gelgel dalam beberapa tahun. Namun akhirnya Maruti dapat dikalahkan oleh pasukan koalisi. Setelah itu, maka berdirilah Kerajaan Klungkung.

Perjuangan Ida Dewa Agung Jambe II Melawan Belanda

Ida Dewa Agung Jambe II gugur dalam perang puputan melawan Belanda pada 28 April 1908. Perang puputan adalah perang sampai titik darah penghabisan meski kemenangan tampak mustahil untuk diraih.

Perang puputan Klungkung bermula ketika Belanda melakukan patroli di wilayah kerajaan Klungkung tepatnya Desa Gelgel pada pertengahan April 1908.

Aksi Belanda itu dianggap telah melanggar kedaulatan kerajaan, bentrok pun tak bisa dihindarkan. Kala itu, 10 prajurit Belanda tewas termasuk pemimpinnya Letnan Haremaker.

Belanda yang marah lantas memberikan ultimatum terhadap Raja Dewa Agung Jambe II untuk menyerahkan diri kepada mereka, jika tidak maka Belanda mengancam akan menyerang Kerajaan Klungkung dengan batas waktu sampai 22 April 1908.

Ultimatum dari Belanda itu tidak membuat Raja Dewa Agung Jambe II gentar dan tetap pada pendiriannya menjaga kedaulatan kerajaan.

Kemudian, pada 20 April 1908, Belanda melihat tekad dan situasi Kerajaan Klungkung yang tidak juga melunak, lalu mengirimkan pasukan bantuan dari Batavia untuk menggempur Klungkung.

Keesokan harinya, pada 21 April 1908, Klungkung dikalahkan Belanda, namun Ida Dewa Agung Jambe II bersama pasukannya menolak menyerahkan diri.

Belanda lantas menggempur Klungkung selama enam hari penuh dengan sejumlah pasukan tambahan lainnya. Pada 27 April 1908, Belanda berhasil mengepung Istana Samarapura.

Perlawanan Kerajaan Klungkung pada saat itu telah menewaskan putra mahkota, dan pembesar kerajaan termasuk Cokorda Gelgel, Dewa Agung Gede Semarabawa, Dewa Agung Muter.

Namun, gugurnya orang-orang penting di samping dirinya tidak menyurutkan semangat juang Ida Dewa Agung II, itu justru semakin mengobarkan tekad untuk melawan Belanda sampai titik darah penghabisan.

Ida Dewa Agung bersama pengikutnya yang berjumlah sekira 3.000 orang lalu bertempur habis-habisan dan gugur di medan perang pada 28 April 1908.

Baca juga artikel terkait HARI PAHLAWAN NASIONAL 2023 atau tulisan lainnya dari Balqis Fallahnda

tirto.id - Politik
Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Alexander Haryanto