tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp16.872 pada perdagangan Selasa (3/3/2026). Rupiah turun 4 poin atau 0,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.868.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Dari sisi domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 masih mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Surplus neraca perdagangan tersebut telah berlangsung selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Pada Januari 2026, surplus ditopang oleh kinerja komoditas nonmigas yang mencatat surplus sebesar 3,22 miliar dolar AS.
“Komoditas penyumbang surplus nonmigas antara lain lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, neraca komoditas migas masih defisit sebesar 2,27 miliar dolar AS, terutama disumbang oleh impor minyak mentah, hasil minyak, dan gas,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa.
Menurut dia, surplus neraca perdagangan terjadi karena nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan impor. Pada Januari 2026, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar 22,16 miliar dolar AS atau meningkat 3,39 persen dibandingkan Januari 2025.
Ekspor migas tercatat sebesar 0,89 miliar dolar AS atau turun 15,62 persen secara tahunan. Sebaliknya, ekspor nonmigas naik 4,38 persen dengan nilai mencapai 21,26 miliar dolar AS.
Di sisi lain, nilai impor pada Januari 2026 mencapai 21,20 miliar dolar AS atau melonjak 18,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor migas tercatat sebesar 3,17 miliar dolar AS atau meningkat 27,52 persen secara tahunan.
“Sementara impor nonmigas mencapai 18,04 miliar dolar AS dan naik 16,71 persen secara tahunan. Kenaikan impor ini terutama didorong oleh impor nonmigas dengan andil sebesar 14,40 persen,” tuturnya.
Dari faktor eksternal, Ibrahim menyoroti meluasnya konflik di Timur Tengah. Perang udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dilaporkan meningkat pada Senin. Israel menyerang Lebanon, sementara Iran membalas dengan menyerang infrastruktur energi di negara-negara Teluk serta kapal tanker di Selat Hormuz.
Akibat eskalasi tersebut, kapal tanker dan kapal kontainer mulai menghindari jalur Selat Hormuz. Perusahaan asuransi juga membatalkan pertanggungan bagi kapal-kapal yang melintas di kawasan itu, sementara tarif pengiriman minyak dan gas global melonjak tajam.
“Kekhawatiran meningkat setelah media Iran melaporkan seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan bahwa Iran akan menembak kapal mana pun yang mencoba melintas. Padahal, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz,” jelas Ibrahim.
Ia juga menyinggung pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengatakan perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kemungkinan akan berlangsung cukup lama, meski tidak sampai bertahun-tahun.
Menurut Ibrahim, para analis memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan seiring pasar mencermati dampak konflik Timur Tengah terhadap pasokan energi global.
Selain itu, pelaku pasar juga akan menantikan pernyataan sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat, seperti Presiden The Fed New York John Williams, Presiden The Fed Kansas City Jeff Schmid, dan Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari. Nada pernyataan yang cenderung agresif berpotensi memperkuat dolar AS.
Ia menambahkan, fokus pasar pekan ini juga tertuju pada data pasar tenaga kerja Amerika Serikat, termasuk laporan perubahan ketenagakerjaan ADP dan Nonfarm Payrolls (NFP). Data tersebut akan menjadi penentu ekspektasi arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
“Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi masih bertahan tinggi, sehingga mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek,” pungkas Ibrahim.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































