Menuju konten utama

Indeks Dolar Melemah, Rupiah Ditutup Perkasa ke Rp16.800 per US$

Penguatan rupiah dinilai tak lepas melemahnya indeks dolar seiring meningkatnya ekspektasi terhadap tetap tingginya suku bunga The Fed.

Indeks Dolar Melemah, Rupiah Ditutup Perkasa ke Rp16.800 per US$
Petugas menunjukkan uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50 persen sebagai upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah yang sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi serta sinergi untuk turut memperkuat pertumbuhan ekonomi. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp16.800 pada perdagangan Rabu (25/2/2026). Rupiah menguat 29 poin atau 0,17 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.829.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah tak lepas melemahnya indeks dolar seiring meningkatnya ekspektasi terhadap tetap tingginya suku bunga The Fed.

Sementara itu, dari sisi internal, pergerakan rupiah turut dipengaruhi oleh peringkat Baa2 dari Moody's Ratings terhadap obligasi berdenominasi yuan offshore China dan euro yang diterbitkan Pemerintah RI melalui skema obligasi berkelanjutan (shelf registration) senilai 10 miliar dolar AS.

"Secara fundamental, Moody’s masih menilai Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang memadai. Dukungan dari kekayaan sumber daya alam serta struktur demografi yang relatif menguntungkan menjadi bantalan pertumbuhan jangka menengah," sebutnya dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (25/2/2026).

Ibrahim menambahkan, Moody’s memperkirakan pertumbuhan ekonomi riil Indonesia akan bertahan di kisaran lima persen dalam beberapa tahun ke depan, dengan defisit fiskal tetap berada di bawah ambang batas tiga persen dari produk domestik bruto (PDB).

Dalam kerangka makroekonomi konvensional, pertumbuhan ekonomi selama dua dekade terakhir menjadi indikator stabilitas yang menopang kepercayaan investor terhadap surat utang Pemerintah RI. Namun, stabilitas tersebut kini dinilai mulai dibayangi meningkatnya ketidakpastian dalam proses perumusan kebijakan.

"Moody’s secara eksplisit mencatat bahwa prediktabilitas dan koherensi kebijakan telah melemah dalam setahun terakhir, kemudian juga diperparah oleh komunikasi kebijakan yang kurang efektif. Kombinasi ini berkontribusi pada meningkatnya volatilitas di pasar ekuitas dan valuta asing," urai Ibrahim.

"Masalah mendasar terletak pada dilema klasik fiskal Indonesia, yaitu kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan melalui ekspansi belanja publik di tengah basis penerimaan negara yang sempit," sambung dia.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana