Menuju konten utama

Dibayangi Pelebaran Defisit, Rupiah Ditutup Loyo ke Rp16.884

Rupiah turun 47 poin atau 0,28 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.837 per dolar AS.

Dibayangi Pelebaran Defisit, Rupiah Ditutup Loyo ke Rp16.884
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp16.884 pada perdagangan hari ini, Rabu (18/2/2026). Rupiah turun sebesar 47 poin atau 0,28 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.837 per dolar AS.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut melemahnya nilai rupiah disebabkan oleh dua faktor. Dari dalam negeri, kondisi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tengah menjadi sorotan publik. Jika pemerintah tidak cermat dalam mengelola keuangan negara, ketergantungan terhadap defisit dinilai berpotensi menunda reformasi struktural.

"Strategi defisit tidak otomatis mampu membalikkan kondisi ekonomi dalam satu tahun. Pertumbuhan yang berkelanjutan tetap ditentukan oleh investasi riil, kepastian regulasi, dan produktivitas tenaga kerja," tuturnya dalam keterangan yang diterima, Rabu.

Ibrahim menyatakan, ketika sektor swasta masih berhati-hati, pemerintah pada akhirnya menjadi penopang utama permintaan agregat. APBN pun disebut berperan sebagai shock absorber secara terus-menerus, sementara basis penerimaan belum tumbuh sebanding dengan kebutuhan belanja dan biaya bunga.

Ia mengingatkan, pada akhir 2025, defisit melebar menjadi Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini jauh lebih besar dibandingkan target awal defisit sebesar Rp616,2 triliun atau 2,53 persen dari PDB.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, defisit APBN dibatasi paling tinggi 3 persen dari PDB. Meski masih berada di bawah ambang batas tersebut, secara ekonomi ruang fiskal disebut telah menipis.

"Bila dikaji lebih dalam, persoalannya bukan sekadar angka rasio, melainkan kemampuan APBN menyerap guncangan dan melakukan stabilisasi," sebut Ibrahim.

"Saat penerimaan negara belum kuat sementara keseimbangan primer masih defisit, maka setiap terjadi guncangan eksternal—kenaikan imbal hasil (yield) global, pelemahan rupiah, dan arus modal keluar—akan langsung menekan kas negara melalui beban bunga dan kebutuhan pembiayaan baru," lanjutnya.

Ibrahim menambahkan, dari sisi eksternal, para analis masih bersikap skeptis terhadap potensi kemajuan lebih lanjut, meskipun Iran dan Amerika Serikat mencapai kesepahaman pada Selasa (17/2/2026) mengenai prinsip panduan utama dalam pembicaraan yang bertujuan menyelesaikan perselisihan nuklir yang telah berlangsung lama.

Selanjutnya, risiko militer disebut tetap tinggi setelah adanya laporan bahwa Garda Revolusi Iran menggelar latihan di Selat Hormuz. Di sisi lain, pasukan AS masih ditempatkan dalam jumlah besar di berbagai wilayah Timur Tengah.

Faktor lainnya, para negosiator dari Ukraina dan Rusia menyelesaikan hari pertama pembicaraan perdamaian yang dimediasi AS di Jenewa pada Selasa. Presiden AS Donald Trump mendesak Kyiv untuk bergerak cepat menuju kesepakatan guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat tahun.

"Kemudian, investor berhati-hati menjelang rilis risalah dari pertemuan kebijakan Federal Reserve Januari, yang dapat memberikan wawasan baru mengenai waktu dan skala potensi pelonggaran moneter," sebut Ibrahim.

"Investor juga menunggu laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi AS untuk bulan Desember yang akan dirilis pada Jumat, indikator inflasi pilihan The Fed yang dapat membentuk ekspektasi suku bunga," lanjutnya.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana