tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp16.785 pada perdagangan hari ini, Rabu (11/2/2026). Rupiah turun sebesar 25 poin atau 0,15 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.800.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan penguatan nilai rupiah disebabkan dua faktor. Faktor dalam negeri di antaranya termasuk langkah pemerintah pusat untuk meluncurkan Paket Stimulus Ekonomi ke-1 pada 2026, yang mencakup kebijakan diskon transportasi, work from anywhere (WFA), dan bantuan pangan.
"Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya untuk memastikan kelancaran dan kenyamanan serta memberikan keringanan bagi masyarakat dalam menyambut Ramadhan dan Idul Fitri," ucapnya dalam keterangan resmi, Rabu.
Ibrahim menyebutkan, selain stimulus ekonomi, pemerintah juga memprioritaskan aspek keselamatan dan kenyamanan perjalanan mudik. Koordinasi lintas kementerian/lembaga terus dilakukan untuk memastikan kelayakan infrastruktur jalan.
Menurut Ibrahim, pemerintah juga memperkuat daya beli masyarakat dengan menyalurkan bantuan pangan berupa 10 kilogram beras dan dua liter minyak goreng per bulan. Bantuan itu disalurkan langsung untuk dua bulan dengan target penerima manfaat sebanyak 35,04 juta keluarga penerima manfaat (KPM) yang berasal dari desil 1-4.
Kata dia, dengan kebijakan yang dirumuskan pemerintah ini, ekonomi masyarakat dapat bergerak sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
"Sehingga bisa mendongkrak produk domestic bruto (PDB) di kuartal pertama lebih baik dibandingkan kuartal keempat tahun 2025," sebut Ibrahim.
Ia melanjutkan, faktor kedua adalah faktor luar negeri. Salah satunya penjualan ritel AS untuk bulan Desember 2025 yang lebih lemah dari yang diperkirakan. Angka tersebut menunjukkan pengeluaran konsumen secara luas di ekonomi terbesar dunia sedang mendingin di tengah inflasi yang tinggi dan tekanan pada pasar tenaga kerja.
Kata Ibrahim, kelemahan yang berkelanjutan dalam pengeluaran dapat menghadirkan prospek yang lebih lemah bagi perekonomian. Prospek ekonomi yang lebih lemah dinilai dapat mendorong Federal Reserve untuk memangkas suku bunga lebih lanjut tahun ini untuk menopang pertumbuhan.
"Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun karena anggapan ini, sementara dolar kesulitan untuk pulih dari kerugian besar yang tercatat pada hari Senin [9 Februari 2026]," tuturnya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id






































