Menuju konten utama

Rupiah Tertekan, Ditutup Turun 0,14% Jadi Rp16.777 per US$

Kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan AS dan Iran dinilai jadi salah satu penyebab pelemahan rupiah hari ini.

Rupiah Tertekan, Ditutup Turun 0,14% Jadi Rp16.777 per US$
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp16.777 pada perdagangan hari ini, Rabu (4/2/2026). Rupiah turun sebesar 23 poin atau 0,14 persen dari penutupan hari sebelumnya di level Rp16.754.

Pelemahan rupiah terpantau terjadi sejak pembukaan pasar. Di awal perdagangan, mata uang Garuda mengalami penurunan 6 poin atau 0,04 persen ke level Rp16.760 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan, faktor eksternal masih memberikan tekanan terhadap pergerakan rupiah hari ini. Kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, setelah militer AS menembak jatuh drone Iran yang "secara agresif" mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab, menjadi salah satu penyebab.

"Iran menuntut agar pembicaraan dengan AS minggu ini berlangsung di Oman, bukan di Turki, dan agar ruang lingkupnya dibatasi hanya pada percakapan dua arah mengenai isu nuklir, yang memperumit upaya diplomatik yang sudah rumit. Para pedagang akan memantau dengan cermat perkembangan seputar negosiasi AS-Iran," ucap Ibrahim dalam keterangannya, Rabu.

Selain itu, data manufaktur AS yang melampaui ekspektasi pasar dan dirilis baru-baru ini juga tengah menjadi sorotan pelaku pasar, lantaran membuat kekhawatiran pemangkasan suku bunga The Fed mulai mereda.

Sementara dari dalam negeri, pergerakan rupiah turut dipengaruhi oleh proyeksi terbaru Bank Dunia yang menyebutkan bahwa Indonesia akan sulit keluar dari jebakan status negara berpendapatan menengah atau middle income trap.

"Persoalan tersebut sangat krusial karena Indonesia, seperti negara lain pada tingkat pendapatan yang sama, harus beralih ke mesin pertumbuhan baru. Model pertumbuhan yang membawa Indonesia ke posisi saat ini dinilai tidak lagi memadai untuk mendorong ekonomi menuju level pendapatan tinggi," sambungnya.

Menurut Ibrahim, pendorong pertumbuhan ke depan harus semakin bersifat endogen, berfokus pada produktivitas, serta memperluas pasar melampaui batas domestik guna mempercepat pembangunan dan inovasi.

Berdasarkan analisis Bank Dunia terhadap data perusahaan dan big data di Indonesia, ditemukan bahwa ekosistem perusahaan besar di Indonesia kurang dinamis dan kurang produktif jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki ukuran ekonomi serupa, tetapi berpendapatan lebih tinggi.

Selain itu, produktivitas perusahaan di Indonesia tidak meningkat seiring dengan pertumbuhan skala usahanya. Temuan tersebut mengarah pada perlunya perbaikan lingkungan persaingan usaha.

"Tantangan tidak hanya terletak pada hambatan regulasi, tetapi juga pada penegakan kesetaraan kesempatan berusaha [level playing field] yang konsisten. Kondisi ini turut berdampak pada sektor keuangan, serta pasar jasa dan industri pengolahan," sebut Ibrahim.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana