tirto.id - Nilai tukar rupiah dibuka menguat ke level Rp16.760 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (3/2/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah naik 38 poin atau sekitar 0,23% dari level Rp16.798 pada penutupan hari sebelumnya, Senin (2/2/2026).
Pergerakan mata uang di kawasan Asia pada pagi ini berlangsung bervariasi. Yen Jepang (JPY) menguat 0,09 persen, dolar Hong Kong (HKD) dan dolar Singapura (SGD) bergerak stagnan, sementara dolar Taiwan (TWD) naik 0,08 persen dan won Korea Selatan (KRW) menguat 0,18 persen. Peso Filipina (PHP) menguat 0,06 persen, rupee India (INR) naik 0,52 persen, yuan China (CNY) menguat 0,06 persen, ringgit Malaysia (MYR) stagnan, serta baht Thailand (THB) menguat 0,41 persen.
Di Eropa, pergerakan mata uang juga cenderung beragam. Euro (EUR) dan pound sterling (GBP) masing-masing melemah 0,17 persen dan 0,13 persen terhadap dolar AS. Sebaliknya, franc Swiss (CHF), krona Swedia (SEK), dan krona Denmark (DKK) tercatat menguat masing-masing 0,14 persen, 0,23 persen, dan 0,16 persen.
Sebelumnya, pada Senin (2/2/2026), Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah masih ditopang oleh fundamental domestik yang relatif solid, terutama kinerja neraca perdagangan. “Surplus perdagangan Indonesia yang cukup besar masih menjadi penyangga pergerakan rupiah, meski sentimen global belum sepenuhnya kondusif,” ujarnya.
Dari sisi global, pelaku pasar mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump menominasikan Kevin Warsh, mantan Gubernur Federal Reserve, sebagai calon pengganti Jerome Powell. Warsh dikenal mendukung penurunan suku bunga, meski pada saat yang sama bersikap kritis terhadap kebijakan pembelian aset The Fed.
Hal ini memunculkan persepsi bahwa kebijakan moneter ke depan berpotensi lebih akomodatif dalam jangka pendek, namun tidak serta-merta longgar dalam jangka panjang.
Di kawasan Asia, perhatian investor tertuju pada pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang sempat menyinggung manfaat yen yang lebih lemah bagi eksportir. Pernyataan tersebut kemudian dilunakkan, seiring kekhawatiran pemerintah Jepang terhadap risiko pelemahan mata uang yang berlebihan. Sejumlah pejabat Jepang juga mengingatkan potensi intervensi jika volatilitas yen dinilai terlalu ekstrem.
Sementara di dalam negeri, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Desember 2025 mencatat surplus kumulatif sebesar 41,05 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar 31,04 miliar dolar AS.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































