Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.798 per US$ di Awal Pekan

Rupiah ditutup melemah seiring meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait arah kebijakan moneter AS dan dinamika geopolitik di Timur Tengah.

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.798 per US$ di Awal Pekan
Petugas menunjukkan uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50 persen sebagai upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah yang sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi serta sinergi untuk turut memperkuat pertumbuhan ekonomi. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp16.798 pada perdagangan Senin (2/2/2026). Rupiah turun 12 poin atau 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.786.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan dinamika geopolitik di Timur Tengah.

Dari Amerika Serikat, pasar mencermati wacana pergantian Ketua Federal Reserve seiring berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei mendatang. Nama Kevin Warsh mencuat sebagai kandidat pengganti. Warsh dinilai sejalan dengan dorongan Presiden Donald Trump untuk memangkas suku bunga secara agresif, meski di sisi lain bersikap kritis terhadap kebijakan pembelian aset The Fed.

"Warsh mungkin akan menekankan kelemahan pasar tenaga kerja sebagai risiko yang lebih besar terhadap mandat Fed untuk mencapai lapangan kerja maksimal dan stabilitas harga dan kemungkinan akan mendukung lebih banyak penurunan suku bunga jika dikonfirmasi dalam beberapa bulan mendatang," urai Ibrahim dalam keterangannya.

Menurut Ibrahim, pasar menilai kebijakan moneter AS ke depan berpotensi tidak selunak yang diperkirakan sebelumnya. Meski demikian, Warsh kemungkinan akan menyoroti pelemahan pasar tenaga kerja sebagai risiko utama terhadap mandat The Fed, sehingga masih membuka ruang bagi penurunan suku bunga lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.

Dari sisi geopolitik, sentimen pasar relatif terbantu oleh sinyal deeskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Trump menyatakan Teheran tengah serius membuka ruang dialog, diperkuat laporan bahwa Garda Revolusi Iran tidak merencanakan latihan tembak langsung di Selat Hormuz. Perkembangan ini meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Sementara itu, dari kawasan Asia, pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menyoroti manfaat pelemahan yen bagi eksportir turut menjadi perhatian pasar. Namun, sikap tersebut kemudian dilunakkan di tengah kekhawatiran pemerintah Jepang terhadap volatilitas mata uang yang berlebihan dan potensi intervensi.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Desember 2025 mencetak surplus 41,05 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan surplus tahun sebelumnya sebesar 31,04 miliar dolar AS. Surplus tersebut ditopang kinerja ekspor yang mencapai 282,21 miliar dolar AS, lebih tinggi dari impor sebesar 241,86 miliar dolar AS.

Selain itu, inflasi tahunan pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen secara year-on-year (yoy), meski secara bulanan mengalami deflasi 0,15 persen. Inflasi tahunan terutama didorong kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, khususnya tarif listrik, serta komoditas emas dan perhiasan.

Ibrahim menjelaskan tingginya inflasi tahunan dipengaruhi efek basis rendah (low base effect) pada Januari 2025, ketika kebijakan tarif listrik pemerintah menekan Indeks Harga Konsumen (IHK).

Untuk perdagangan Selasa (3/2/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.790 hingga Rp16.830 per dolar AS.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana