tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp16.722 per dolar AS, menguat 46 poin atau 0,27 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.768 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi di tengah gejolak pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari yang sama ambles hampir 8 persen hingga Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt).
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah didorong oleh pelemahan indeks dolar seiring meredanya ketegangan geopolitik dan kebijakan dagang Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump menyatakan mundur dari ancaman pengenaan tarif terhadap Uni Eropa serta mengumumkan adanya kerangka kesepakatan terkait Greenland. Trump juga menegaskan bahwa opsi penggunaan kekuatan militer tidak akan ditempuh.
Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Trump menahan diri untuk tidak menyinggung kebijakan tarif maupun tindakan militer terkait Greenland. Meski demikian, ia memperingatkan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, Amerika Serikat akan mempertimbangkan kembali respons terhadap tuntutan tersebut.
Bloomberg melaporkan, Trump menyebut Amerika Serikat dan Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) telah membentuk “kerangka kesepakatan masa depan” terkait Greenland. Namun, hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai parameter maupun isi kesepakatan tersebut.
Sementara itu, Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil mengingatkan pasar agar tidak terlalu cepat bersikap optimistis, meskipun Trump menarik kembali ancaman tarif sebagai alat tawar-menawar. Menurutnya, risiko meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa masih terbuka.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati agenda data ekonomi Amerika Serikat, mulai dari rilis Produk Domestik Bruto (PDB), klaim pengangguran awal, hingga indikator inflasi pilihan bank sentral AS, yakni Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (core PCE).
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai penguatan rupiah turut ditopang oleh optimisme pasar terhadap langkah pemerintah dalam menekan praktik under invoicing ekspor dan impor. Praktik ilegal tersebut dinilai telah berlangsung secara struktural dengan nilai kerugian yang sangat besar, bahkan mencapai ribuan triliun rupiah.
Menurut Ibrahim, jika pemerintah mampu menarik kembali sekitar 30 persen saja dari potensi kerugian akibat under invoicing ekspor, maka defisit anggaran negara berpeluang tertutup. Ia menilai praktik under invoicing ekspor menjadi salah satu penyebab utama shortfall penerimaan negara dalam beberapa tahun terakhir.
Isu under invoicing memang telah lama terjadi, namun kembali menjadi sorotan setelah defisit anggaran dalam APBN 2025 mendekati batas 3 persen. Kondisi tersebut dinilai turut menekan stabilitas nilai tukar rupiah dalam periode sebelumnya.
Pemerintah sendiri menegaskan komitmennya untuk memberantas praktik tersebut. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pengawasan terhadap under invoicing akan diperketat karena berpotensi menjadi sumber tambahan penerimaan negara, khususnya bagi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Ke depan, pengawasan akan diperkuat dengan pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI).
Adapun pada perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah akan fluktuatif dengan kecenderungan menguat di rentang Rp16.860 hingga Rp16.900 per dolar AS.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id



































