tirto.id - Nilai tukar rupiah kembali melanjutkan pelemahan. Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (30/1/2026), rupiah ditutup melemah 31 poin atau 0,19 persen ke posisi Rp16.786 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya yang masih berada di level Rp16.785 per dolar AS.
Sejalan dengan melemahnya mata uang Garuda, mayoritas nilai tukar di kawasan Asia Pasifik turut tertekan. Yen Jepang menjadi mata uang dengan penurunan terdalam, yakni 0,91 poin atau 0,59 persen ke level Rp154,02 per dolar AS. Selanjutnya, won Korea Selatan ditutup turun 6,50 poin atau 0,45 persen ke posisi 1.440,59 per dolar AS, sedangkan ringgit Malaysia melemah 0,02 poin atau 0,45 persen ke level 3,95 per dolar AS.
Berikutnya, baht Thailand mengalami penurunan 0,41 persen ke posisi 31,36 per dolar AS. Dolar Taiwan tercatat turun 0,12 poin atau 0,39 persen ke level 31,46 per dolar AS, sementara dolar Singapura melemah 0,20 persen menjadi 1,27 per dolar AS.
Sebaliknya, hanya peso Filipina dan yuan China yang masih mencatatkan penguatan. Peso Filipina naik 0,10 persen menjadi 58,89 per dolar AS, sedangkan yuan China menguat 0,02 persen ke posisi 6,95 per dolar AS.
Dalam keterangan tertulis, pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menambah pasukan militer di wilayah Iran.
“Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu (28/1) mendesak Iran untuk duduk di meja perundingan dan membuat kesepakatan tentang senjata nuklir atau menghadapi serangan AS, yang memicu ancaman dari Tehran untuk membalas dengan keras,” kata dia.
Selain itu, sentimen negatif terhadap rupiah juga berasal dari isu mantan Gubernur Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, yang dikabarkan akan kembali menempati posisi tersebut, menggantikan Jerome Powell. Seperti diketahui, setelah kalah dari Powell pada 2017, Warsh cenderung mendukung seruan Trump yang mendorong pemotongan suku bunga acuan The Fed secara lebih agresif.
“Beberapa laporan mengatakan bahwa Trump akan menominasikan mantan Gubernur The Fed, Kevin Warsh,dengan komentar Trump kepada wartawan juga menunjukkan bahwa Warsh berada di posisi terdepan,” ucap Ibrahim.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id



































