Menuju konten utama

Rupiah Dibuka Loyo ke Rp16.760 per US$ Pagi Ini

Pergerakan rupiah seirama dengan sejumlah mata uang Asia yang terpantau bergerak di zona merah pagi ini.

Rupiah Dibuka Loyo ke Rp16.760 per US$ Pagi Ini
Petugas menunjukkan uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50 persen sebagai upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah yang sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi serta sinergi untuk turut memperkuat pertumbuhan ekonomi. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.

tirto.id - Nilai tukar rupiah pada Kamis (29/1/2026) dibuka melemah 38 poin atau 0,23 persen ke posisi Rp16.760 per dolar Amerika Serikat (AS), dari sebelumnya Rp16.722 per dolar AS. Pelemahan berlanjut hingga rupiah menyentuh level Rp16.799 per dolar AS pada awal sesi perdangan I.

Mengutip Bloomberg, pergerakan mata Uang Garuda seirama dengan sejumlah mata uang Asia yang terpantau bergerak di zona merah pagi ini. Ringgit Malaysia melemah 0,31 persen ke level 3,927 per dolar AS, sementara baht Thailand terkoreksi 0,24 persen ke 31,185 per dolar AS.

Di sisi lain, dolar Singapura tercatat menguat tipis 0,13 persen ke level 1,264 per dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,55 persen ke 1.428,3 per dolar AS, sedangkan yen Jepang relatif stabil di kisaran 153,28 per dolar AS. Yuan Cina juga tidak berubah di level 6,95 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi sentimen eksternal, terutama agenda tarif Presiden AS Donald Trump yang kembali menekan pasar keuangan global.

"Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif 25 persen pada barang-barang dari Seoul mendorong nilai tukar Dolar AS melemah," kata Ibrahim, dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (29/1/2026).

Di saat yang sama, meningkatnya kekhawatiran penutupan pemerintahan AS menjelang tenggat pendanaan pada 30 Januari turut memengaruhi pergerakan pasar. Kondisi tersebut mendorong aliran dana ke aset lindung nilai, termasuk emas.

"Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa ia hampir menunjuk pilihannya untuk ketua Fed berikutnya setelah Jerome Powell, dan bahwa suku bunga akan turun dengan kepemimpinan baru di bank sentral. Perselisihan Trump dengan Fed juga memberikan dukungan kepada emas, terutama karena investor khawatir tentang independensi bank sentral di tengah tekanan politik yang terus berlanjut," jelas dia.

Dari sisi geopolitik, ketegangan AS dan Iran kembali meningkat setelah kapal induk Angkatan Laut AS USS Abraham Lincoln tiba di Timur Tengah. Iran memperingatkan akan adanya pembalasan apabila AS mengambil tindakan militer.

"Fokus pasar hari ini adalah keputusan suku bunga Federal Reserve (Fed) yang akan diumumkan pada Kamis dini hari pukul 02.00 WIB. Pasar sepenuhnya telah memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada kisaran 3,50 persen - 3,75 persen pada pertemuannya bulan Januari ini," tutur Ibrahim.

Dari dalam negeri, pasar merespons positif kebijakan fiskal pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan empat program stimulus 2025 dilanjutkan pada 2026, termasuk PPh Final UMKM 0,5 persen hingga 2029, PPh 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) bagi sektor pariwisata dan industri padat karya, serta diskon iuran JKK dan JKM bagi peserta bukan penerima upah.

Selain itu, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 dinilai tetap terjaga. Realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari pagu, sementara pendapatan negara tercatat Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target.

Defisit anggaran hingga akhir 2025 tercatat sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yang digunakan untuk mendukung berbagai program prioritas, termasuk Makanan Bergizi Gratis (MBG), pembinaan koperasi desa, serta paket stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat.

Di pasar obligasi, kinerja Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan perbaikan. Yield SBN tenor 10 tahun turun ke level 6,41 persen, lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2024 yang berada di atas 7 persen.

"Untuk perdagangan besok (Kamis), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp16.670-Rp16.730," kata Ibrahim.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana