tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp16.754 pada perdagangan hari ini, Selasa (3/2/2026). Rupiah terapresiasi sebesar 44 poin atau 0,26 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.798.
Penutupan nilai rupiah yang menguat ini sejalan dengan pembukaan nilai rupiah pada Selasa pagi, dengan nilai rupiah mencapai Rp16.760.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan penguatan rupiah dipengaruhi persepsi investor terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyampaikan bahwa Iran tengah membuka pembicaraan dengan Washington terkait proyek nuklir.
Trump turut memperingatkan bahwa kapal perang besar AS yang tengah menuju Iran dapat menyebabkan hal-hal buruk, jika kesepakatan tidak tercapai.
Selain itu, pengumuman Trump atas kesepakatan tarif resiprokal terhadap barang-barang India menjadi 18 persen dari 50 persen, serta persetujuan India untuk membeli minyak dari AS dan Venezuela.
Penunjukkan Mantan gubernur The Fed sebagai pengganti Kevin Warsh juga menjadi perhatian investor. Pasalnya, Warsh dinilai akan mendukung tuntutan Trump menekan suku bunga Fed Funds Rate menjadi lebih rendah.
Sementara itu, faktor internal yang berdampak pada penguatan rupiah hari ini antara lain posisi Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang masih berada di level ekspansi, yakni 52,6 pada Januari 2026.
"Angka tersebut naik dari level 51,2 pada Desember 2025. Kenaikan tergolong sedang dan pertumbuhan terus meningkat dengan indeks di atas 50. Kenaikan itu didorong oleh peningkatan berkelanjutan pada output dan permintaan baru," tuturnya .
Data tersebut berdasarkan survei yang dilakukan pada 12-23 Januari 2026 dengan cara menyebar kuesioner kepada para manajer pembelian dari panel terpilih yang berasal dari 400 perusahaan manufaktur. Mereka dipilih agar mencerminkan kondisi industri yang sebenarnya.
Kata Ibrahim, dalam survei tersebut, perusahaan sering mengaitkan kenaikan dengan permintaan pasar atas barang yang meningkat. Kondisi permintaan terlihat didorong oleh perekonomian domestik lantaran permintaan internasional menurun selama lima bulan terakhir
"Sejalan dengan permintaan baru yang terus bertumbuh, produksi naik pada bulan Januari. Output naik selama tiga bulan berjalan dan merupakan yang tercepat kedua dalam 11 bulan," tuturnya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id



































