tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp16.842 pada perdagangan Rabu (4/2/2026). Rupiah turun 65 poin atau 0,39 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.777.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Salah satunya adalah potensi gagalnya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (6/2/2026).
“Iran terbuka untuk membahas program nuklirnya, termasuk pengayaan uranium, dengan negara-negara Barat. Sementara itu, AS ingin memasukkan isu rudal balistik Iran, dukungannya terhadap kelompok proksi bersenjata di Timur Tengah, serta perlakuan terhadap rakyatnya sendiri dalam agenda pembahasan,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis.
Investor juga masih dibayangi kecemasan bahwa Presiden AS Donald Trump akan merealisasikan ancamannya menyerang Iran. Langkah tersebut berpotensi memicu konfrontasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah yang kaya minyak.
Situasi itu dikhawatirkan dapat memicu disrupsi rantai pasok global, terutama dari wilayah Teluk Persia.
Di sisi lain, Ibrahim menuturkan, percakapan positif antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping turut menjaga ketegangan antara Washington dan Beijing tetap mereda.
“Donald Trump menyatakan telah melakukan pembicaraan telepon yang sangat baik dengan Presiden Xi. Ia juga mengungkapkan rencana kunjungan ke Tiongkok pada April mendatang, dengan sejumlah topik yang dibahas mulai dari perdagangan, militer, Taiwan, perang Rusia–Ukraina, Iran, hingga pembelian minyak dan gas AS oleh Tiongkok,” jelasnya.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mengantisipasi kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih hawkish dan independen di bawah kepemimpinan Warsh. Para pelaku pasar menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga setelah Fed menahan suku bunga pada Januari dan menunjuk Warsh.
Berdasarkan alat CME FedWatch, pasar keuangan saat ini memperkirakan peluang penurunan suku bunga pada pertemuan Juni 2026 hanya sekitar 46 persen.
Dari sisi domestik, gerak rupiah juga tak lepas dari sentimen pelaku pasar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang tercatat sebesar 5,11 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan realisasi 2024 yang mencapai 5,03 persen dan melampaui konsensus ekonom sebelumnya.
Nilai produk domestik bruto (PDB) Indonesia sepanjang 2025 atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp23.821,1 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp13.580,5 triliun. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia tumbuh 5,51 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Secara regional, pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa dan Sulawesi tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sepanjang 2025.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































