Menuju konten utama

Di Tengah Konflik Iran, Rupiah Ditutup Melemah Awal Maret 2026

Faktor eksternal melemahnya rupiah, pasar bereaksi terhadap eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah.

Di Tengah Konflik Iran, Rupiah Ditutup Melemah Awal Maret 2026
Petugas menghitung uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp16.868 pada perdagangan hari ini, Senin (2/3/2026). Rupiah naik sebesar 81 poin atau 0,48 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.787

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, berujar melemahnya nilai rupiah disebabkan dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal melemahnya rupiah, purchasing manager index (PMI) manufaktur Indonesia melanjutkan penguatan ke level 53,8 pada Februari 2026 dari bulan sebelumnya di angka 52,6.

S&P Global melaporkan indeks yang menggambarkan aktivitas manufaktur nasional itu menunjukkan adanya ekspansi solid pada kondisi pengoperasian manufaktur yang merupakan ekspansi terbesar sejak Maret 2024.

"Peningkatan PMI manufaktur utamanya didorong oleh percepatan pertumbuhan permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia. Permintaan baru naik selama tujuh bulan berturut-turut, dengan tingkat pertumbuhan di posisi paling kuat sejak November 2025," sebut Ibrahim dalam keterangannya, Senin.

Ia menyebutkan berdasarkan laporan peserta survei, jumlah pelanggan naik dan kepercayaan diri membaik. Data itu menunjukkan pertumbuhan total permintaan baru terjadi secara luas, seiring produsen manufaktur Indonesia mencatat kembali peningkatan pesanan ekspor baru untuk pertama kali dalam enam bulan.

Kata Ibrahim, kenaikan pada permintaan ekspor baru merupakan yang paling tajam sejak Mei 2022. S&P Global mencatat meningkatnya penjualan telah mendorong perusahaan menaikkan ketenagakerjaan enam kali dalam tujuh bulan pada tingkat tertinggi sejak November 2025.

Kenaikan jumlah karyawan membantu manufaktur Indonesia meningkatkan produksi pada Februari 2026. Output mengalami ekspansi pada laju tercepat sejak April 2024.

"Ketika terjadi peningkatan, perusahaan mengaitkan hal ini dengan kenaikan permintaan baru," tuturnya.

"Perusahaan juga mencatat bahwa produksi tambahan digunakan untuk membangun stok untuk bersiap menghadapi kenaikan permintaan mendatang sehingga inventaris pascaproduksi naik selama empat bulan berjalan," lanjut dia.

Ibrahim melanjutkan, faktor eksternal melemahnya rupiah, pasar bereaksi terhadap eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah.

Pembunuhan tokoh paling berpengaruh di Iran disebut meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas dan potensi gangguan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur energi global yang sangat penting.

Kemudian, pasukan Israel melancarkan gelombang serangan ke Teheran dengan rudal dan pesawat menargetkan infrastruktur komando dan pertahanan udara. Teheran menanggapi dengan serangan rudal lebih lanjut ke wilayah Israel dan pangkalan AS di Teluk.

"Serangan tersebut membuat kapal-kapal rentan terhadap kerusakan tambahan karena rudal menghantam setidaknya tiga kapal tanker di lepas pantai Teluk dan menewaskan seorang pelaut," urai Ibrahim.

Ia turut mengingatkan soal putaran ketiga pembicaraan nuklir tidak langsung AS-Iran berakhir di Jenewa tanpa kemajuan yang berarti. Washington meningkatkan pengerahan militernya di kawasan tersebut. Kemungkinan aksi militer tetap ada.

Presiden AS Donald Trump mengaku tidak senang dengan cara Iran bernegosiasi. Terdengar samar tentang apakah mungkin atau tidak akan ada perubahan rezim di Iran, dan menambahkan bahwa Teheran lupa mengucapkan kata-kata emas terkait tidak ada senjata nuklir.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama