tirto.id - Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) mengungkapkan fenomena baru penyebab pasar tradisional kian sepi pembeli. Pascapandemi COVID-19, banyak pedagang yang memilih hengkang dari pasar tradisional dan beralih "jemput bola" dengan berjualan langsung di kawasan permukiman padat penduduk.

Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APPSI, Don Muzakir, mengungkapkan faktor yang menyebabkan pasar tradisional di Indonesia kini sepi pembeli. Kondisi ini berawal saat pandemi COVID-19.
Don bilang, pandemi telah mengkampanyekan pembatasan aktivitas masyarakat. Situasi tersebut memicu anjloknya jumlah pengunjung ke pasar.
Akibatnya, sebagian pedagang yang memiliki keterbatasan modal memilih meninggalkan pasar dan membuka usaha di luar pasar tradisional.
"Di saat pandemi, pasar dibatasi orang berkunjung ke pasar, ada beberapa orang di pasar yang punya modal, ia tidak mampu bertahan di pasar, akhirnya keluar pasar," kata Don saat memberikan sambutan dalam Musyawarah Wilayah DPP APPSI Provinsi Riau di Hotel Alpha pada Selasa (30/6/2026).
Menurut Don, setelah pandemi berakhir, banyak pedagang yang sebelumnya berjualan di pasar berpindah ke kawasan permukiman yang padat penduduk. Kondisi itu membuat pasar tradisional menghadapi persaingan baru.
"Setelah pandemi berjamurnya adalah pedagang yang masuk kampung, boleh di cek! Akhirnya pasar tradisional mempunyai saingan," ujarnya.
Selain pedagang di kawasan perumahan, Don menilai pasar tradisional juga menghadapi persaingan dari tren belanja daring.
Meski demikian, ia menyebut belanja daring memiliki kelemahan karena tidak menyediakan ruang bagi pembeli untuk melakukan tawar-menawar. "Pengguna internet tidak semuanya belanja karena tidak bisa dilakukannya tawar menawar," bebernya.
Di sisi lain, Don mengatakan persoalan yang dihadapi pasar tradisional saat ini cukup banyak. Oleh sebab itu, APPSI mendorong pemerintah lebih memprioritaskan revitalisasi pasar dibanding membangun pasar baru.
Ia juga menyinggung pembangunan pasar pada era Presiden Joko Widodo yang, menurutnya, banyak berakhir jadi bangunan terbengkalai.
"Persoalan pasar ini kan sangat banyak, kita kemarin waktu jaman Presiden Jokowi kita tidak suka juga tentang pembangunan pasar. Yang hari ini pasar-pasar yang dibangun pemerintah pusat, pemerintah daerah ini kan banyak terbengkalai. Kita mendorong jangan membangun pasar baru, tapi lakukanlah revitalisasi," ucapnya.
Pasar Sepi Dipicu Pelemahan Ekonomi

Sementara itu, Taufiq Oesman Hamid selaku Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Provinsi Riau menilai fenomena sepinya pasar juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang sedang melambat.
"Relatifnya secara global seluruhnya memang ekonomi kan agak melesu bukan berarti masyarakat tidak berbelanja untuk memenuhi kebutuhannya," kata Taufiq kepada awak media usai acara.
Meski demikian, Taufiq menyebut aktivitas perdagangan di pasar-pasar di Provinsi Riau masih cukup kompetitif.
Ia menambahkan, pemerintah terus melakukan operasi pasar apabila terjadi lonjakan harga bahan pokok akibat ketidakseimbangan pasokan dan permintaan.
"Pada saat memang ada bahan pokok yang melonjak tinggi karena suplai demand tidak seimbang, pemerintah intervensi melalui operasi pasar," pungkasnya.
Penulis: Abdul Haris
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





































