tirto.id - Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan realisasi impor daging sapi saat ini masih sekitar 40 persen dari kuota yang telah diberikan. Pemerintah meminta para importir segera merealisasikan kuota impor tersebut di tengah kenaikan biaya impor.
Budi mengatakan, pemerintah telah meminta importir mempercepat realisasi impor daging sapi. Menurutnya, realisasi impor saat ini masih berada di bawah 50 persen.
“Kita sudah minta kemarin ke para importir, karena kan daging sapi kan juga ada yang diimpor. Realisasi impornya sekarang masih di bawah 50 persen rata-rata 40 persen,” kata Budi usai menghadiri peluncuran Pojok UMKM Pilihan Busan di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Ia mengatakan, para importir sebelumnya telah mendapatkan kuota impor. Oleh karena itu, pemerintah meminta kuota tersebut segera direalisasikan.
“Jadi kami minta untuk segera merealisasikan impornya karena waktu itu kan sudah dapat kuota,” ujarnya.
Di tengah realisasi impor yang masih rendah, Budi menyebut harga daging sapi secara nasional saat ini berada di kisaran Rp142.000 per kilogram berdasarkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Namun, harga di sejumlah daerah tercatat lebih tinggi karena kendala distribusi.
“Rata-rata nasionalnya kan Rp142.000 rata-rata nasionalnya kalau di SP2KP. memang ada di daerah tertentu itu yang lebih tinggi terutama yang jangkauan distribusinya mungkin tidak semudah di daerah lain,” kata Budi.
Budi juga meminta para importir untuk mencari sumber pasokan dari luar negeri dengan harga yang lebih kompetitif. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar pasokan impor dapat membantu menekan harga daging sapi di dalam negeri.
“Jadi kita minta untuk segera mencari sumber atau supplier di luar negeri yang harganya tentu lebih bagus sehingga bisa menutup harga-harga yang ada di dalam negeri,” ucapnya.
Budi mengatakan salah satu faktor yang memengaruhi realisasi impor daging sapi adalah kenaikan biaya impor. Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu mencari produk daging sapi dengan biaya yang lebih rendah.
“Jadi memang salah satunya faktor ya biaya yang biaya impor yang naik,” kata Budi.
Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak berdampak terhadap biaya logistik dan transportasi kapal yang digunakan untuk mendatangkan daging sapi dari luar negeri.
“Ya karena harga minyak ini kan dampaknya biaya logistik, biaya transportasi kapal itu kan naik,” kata Budi.
Selain itu, Budi mengatakan bahwa pemerintah saat ini sedang mencari produk daging sapi yang memiliki biaya impor lebih rendah.
“Jadi sekarang sebaiknya lagi nyari produk daging sapi yang tentu biayanya gak terlalu mahal,” ujarnya.
Budi menyatakan pemerintah juga memiliki sejumlah pilihan negara pemasok daging sapi. Selama ini, pasokan daging sapi impor Indonesia banyak berasal dari Australia.
“Kita sebenarnya ada beberapa pilihan ya tapi memang selama ini kebanyakan dari Australia tapi kita sedang mencoba dari beberapa negara yang bisa memasok,” kata Budi.
Penulis: Nanda Surya
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id





































