tirto.id - Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan akan mengimpor 100.000 - 150.000 sapi hidup untuk mencukupi kebutuhan daging dan susu nasional.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, menjelaskan impor ini nantinya akan dilakukan dengan skema investasi. Untuk itu, pemerintah membuka peluang bagi pengusaha lokal dan asing untuk bekerja sama.
“Jadi kita membuka kesempatan karena ada kebutuhan besar di daging dan susu untuk makan bergizi, maka kita membuat kesempatan bagi banyak investor untuk berinvestasi,” katanya di Kompleks Kementerian Pertanian usai penandatanganan MoU dengan Kementerian Pertanian Belanda, Selasa (17/6/2025).
Sudaryono menjelaskan, saat ini sudah banyak investor yang menaruh minat untuk berinvestasi di sektor peternakan ini. Salah satunya datang dari perusahaan Belanda, FrieslandCampina.
Menurutnya, investasi dari perusahaan asing dan dalam negeri itu nantinya dikelola menjadi daging dan susu konsumsi untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kebutuhan masyarakat.
Pasalnya, hingga saat ini Indonesia masih kekurangan jumlah sapi yang dapat dimanfaatkan dagingnya untuk konsumsi, begitu pula dengan susu.
“Sekarang ini tanpa susu dipakai di MBG saja kita tuh 80 persen susunya mesti impor. Presiden tuh kan ingin swasembada tuh salah satunya juga adalah di susu,” sambungnya.
Namun demikian, dia berharap ke depan dengan adanya investasi yang masuk ke dalam negeri dapat menurunkan ketergantungan terhadap impor.
Sebab, dengan investasi ini pemerintah juga mendorong masuknya sapi-sapi indukan yang nantinya dapat dikembangbiakkan untuk menambah jumlah populasi sapi nasional.
Di samping itu Kementan juga melakukan inovasi bioteknologi reproduksi peternakan berupa inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik untuk mendongkrak jumlah populasi sapi.
“Kami memiliki stok sperma yang besar dari inseminasi buatan, tetapi kami tidak memiliki cukup sapi betina hidup,” bebernya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































