Menuju konten utama

Pertamina Buka Peluang Impor Minyak dari AS

Pertamina hanya melakukan shifting impor dari negara-negara yang sebelumnya menjadi pemasok minyak mentah Indonesia.

Pertamina Buka Peluang Impor Minyak dari AS
konferensi pers terkait capaian kinerja 2024 dan hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Pertamina (Persero) di Jakarta, Jumat (13/6/2025). tirto.id/Qonita Azzahra

tirto.id - PT Pertamina (Persero) berencana tetap membeli minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) sebagai arahan pemerintah di tengah masih berlangsungnya negosiasi antara perwakilan dagang Indonesia dengan AS untuk menurunkan tarif perdagangan tinggi yang diterapkan Presiden AS Donald Trump. Meski begitu, Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa dengan transaksi ini Indonesia tidak akan menambah kuota impor minyak mentah dari AS.

Untuk mengurangi defisit perdagangan dengan AS, sesuai arahan pemerintah, Pertamina hanya melakukan shifting impor dari negara-negara yang sebelumnya menjadi pemasok minyak mentah Indonesia.

“Dengan adanya kebijakan tarif Trump ini, kita berusaha untuk mendorong sekaligus arahan dari pemerintah untuk melakukan negosiasi tarif Trump ini tentunya dengan melakukan shifting dari tempat-tempat yang lain, kita merubah untuk mendapatkan sumber (minyak mentah) dari Amerika Serikat,” jelas Simon dalam Konferensi Pers Kinerja Pertamina 2024 di Grha Pertamina, Jakarta Pusat, Jumat (13/6/2025).

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2024 realisasi impor minyak mentah Indonesia mencapai 112,19 juta barel, dengan nilai 10,35 miliar dolar.

Dari total volume impor tersebut, volume impor minyak dari Arab Saudi tercatat sebanyak 735 ribu ton dengan nilai 439 juta dolar AS, kemudian diikuti Angola dengan volume sebanyak 618,3 ribu ton dan nilai 350 juta dolar AS, Nigeria sebanyak 503 ribu ton dengan nilai 296 juta dolar AS, Amerika Serikat sebanyak 214 ribu ton dengan nilai 139 juta dolar AS, Australia sebanyak 153 ribu ton dengan nilai 102 juta dolar AS, dan negara lain sebanyak 413 ribu ton dengan nilai 243 juta dolar AS.

Dengan shifting impor ini, Simon berharap upaya untuk terus mencapai ketahanan energi dapat tetap dilakukan.

“Dengan demikian beberapa langkah ini perlu juga kita perhitungkan dari lamanya waktu pengiriman, termasuk dari harga yang kita dapat dari Amerika. Kembali lagi Pertamina selalu mendukung semua upaya-upaya kita untuk meningkatkan transaksi kita dengan Amerika Serikat,” tegas Simon.

Baca juga artikel terkait PERTAMINA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana