tirto.id - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang wilayah Sumatra, khususnya Aceh, menyisakan pekerjaan rumah yang berat. Tak hanya genangan air, lumpur setinggi pinggang, jembatan yang putus, hingga akses jalan yang lumpuh total menjadi penghalang utama distribusi bantuan.
Banyak desa di pelosok yang terisolir, gelap gulita tanpa listrik dan kesulitan air bersih selama berminggu-minggu, seolah tak tersentuh bantuan pemerintah—yang umumnya terkonsentrasi di wilayah yang mudah dijangkau.
Di tengah situasi pelik tersebut, Bhagavad Sambadha, inisiator Kolektif Warga Jaga Bumi dan Pamitnya Meeting, bersama tim gabungan relawan seperti Kitabisa, IOF, Indonesian Relief Box (IRbox), Indonesia 6x6, dll., bergerak menembus medan ekstrem.
Misi mereka spesifik: menghidupkan kembali "napas" desa melalui instalasi listrik tenaga surya atau solar panel dan penyediaan air bersih.
Berikut adalah petikan wawancara mengenai kondisi lapangan, beratnya medan distribusi, hingga sorotan tajam terhadap mitigasi bencana di Aceh Tamiang dan Aceh Timur, Aceh.
Boleh diceritakan awal mula keterlibatan menyalurkan bantuan di Aceh?
Gue berangkat waktu itu tanggal 24 Desember. Karena waktu itu ngeliat, setelah dua minggu kejadian, kok beritanya kayaknya situasinya makin mengkhawatirkan. Laporan dari teman-teman juga di sana masih banyak yang belum ada listrik, dan lain-lain. Bantuan banyak yang nggak merata, belum dapat, gitu-gitu.Akhirnya terus guengobrol sama teman-teman di sini, di Pamitnya Meeting. Kebetulan ada teman-teman yang selama ini emangkerjaannya adalah masangin solar panel. Terus ngobrol, yaudah, sekarang belum ada listrik. Genset juga katanya susah minyaknya, solar atau bensinnya langka dan mahal. Kalau ada pun mahal. Gimana kalau kita fundraising buat masangin solar panel di sana?
Harapannya kan, strategi sebenarnya, kalau ada listrik, kita pasangin listrik, terus bisa masang Starlink buat komunikasi, bisa masang mesin air buat air bersih, filter air, dan segala macam, dan lain-lainnya—penerangan, dan lain-lain. Yaudah, jadi buka fundraising di Kitabisa waktu itu. Kami buka, targetnya Rp500 jutaan. Terus kan udah masuk uangnya, terus kami beli solar panel, segala macam, terus kami berangkat ke sana.
Bagaimana proses awal tim bekerja saat tiba di lokasi, mulai dari mendirikan posko hingga menentukan titik bantuan?
Yang dilakukan di sana adalah gue ke sana, guesetup posko buat base ops (base operasi). Terus dari sana, gueasesmen ke desa-desa, guenyari desa-desa yang belum masuk listriknya. Asesmen tuh gue survei. Dapat beberapa titik, guepasangin solar panel. Kalau udah ada solar panel-nya, ditaruhin Starlink, jadi warga bisa komunikasi. Kami pasangin lampu, lampu jalan. Kami pasanginbikinin sumur bor buat air bersih, dan lain-lain, MCK biasanya.Bagaimana proses penentuan lokasi untuk pemasangan solar panel?
Biasanya tuh gini, kami tuh nyari pertama yang ada fasum (fasilitas umum). Soalnya ini kan solar panel tuh kan karena kebutuhannya memang untuk bersama, untuk komunal, bukan buat pribadi. Karena nggak mungkin juga kan, nggak cukup buat satu desa (per orang). Jadi yang pertama tuh kami cari biasanya yang jelas ada akses ke sana. Kan banyak jalan yang putus. Kami cari desa yang belum ada listrik, tapi ada aksesnya. Terus kami cari yang ada fasum-nya. Biasanya kalau nggak sekolah, kantor desa, yang bangunannya masih utuh. Karena itu inverter-nya sama baterainya kan butuh di ruangan tertutup kan.Kami cari yang ada fasum, masih ketutup, masih utuh bangunannya, masih intact. Kalau masih ada lumpurnya nggak apa-apa, kami bersihin. Yang penting bangunannya utuh. Asesmen tuh gunanya itu.
Berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk assessment? Apa kendalanya saat itu?
Tergantung medannya sih, gitu. Kadang bisa sekali (assessment) bisa langsung kami putusin pasang, kadang beberapa kali pendekatan sama warga dulu. Kan juga nggak mau malah jadi konflik kan. Jadi kami biasanya pendekatan dulu sama warga, ngejelasin, gitu.Kami nggak mau kayak rebutan gitu. Makanya kami mintanya di fasilitas umum (fasum). Kami nggak mau pasang di rumah pribadi, kami maunya di fasum. Karena takutnya jadi rebutan. Gitu. Nanti fasum-nya juga kalau misalnya taruh di SD, SD-nya lebih dekat ke rumah ini daripada rumah itu, nanti juga kadang bisa konflik juga kan. Belum nanti kalau kami pasang sumur bor, pasang sumurnya di mana maunya? Nanti ada yang rebutan lagi. Dan pas bikin MCK juga maunya ada yang mau di sini, ada yang mau di situ. Begitu. Makanya butuh pendekatan dulu, ngejelasin, dialog. Gitu.
Cukup sulit nggak untuk melakukan pendekatan begitu? Atau ada jalur-jalur birokrasi juga yang harus dilewati?
Biasanya kalau birokrasinya sih gue potong. Maksudnya gua paling berhubungannya sama perangkat desa. Kalau perangkat desa sih sebetulnya nggak terlalu sulit, ya, karena kan warga situ juga kan, gitu. Yang agak sulit tuh biasanya kalau warganya sama perangkat desanya nggak akur. Nah, itu mungkin agak susah tuh. Gitu. Kalau birokrasinya sih pendekatan sama warganya sih sebetulnya nggak terlalu susah, ya. Itu bukan pekerjaan sulit, tapi butuh sabar aja, butuh apa ya, ya butuh beberapa kali datang, gitu-gitu. Yang lebih susah mungkin malah medannya.Mengingat kondisi akses yang terputus dan medan berlumpur, seberapa sulit tantangan logistik untuk membawa peralatan berat seperti panel surya ke lokasi terisolir?
Tantangan terberatnya ya jelas, ya, aksesnya putus. Dan lumpurnya kan tinggi bangetkan. Lumpurnya bisa sepinggang, bisa sedengkul. Mobil 4x4 aja, mobil offroad aja setengah mati. Belum kalau yang di seberang sungai, jembatannya putus kan. Kadang ada yang desa-desa terisolir karena aksesnya jembatannya runtuh, tuh. Jadi harus diseberangin lewat kapal.Kalau yang masih bisa pakai akses darat, ya kami minta tolong sama teman-teman IOF, tuh, offroadkan. Kalau yang nyeberang sungai, ya kami naikin ke kapal, kapal kecil gitu. Kami pretelin satu-satu, kami kirim satu-satu panel-nya. Terus sampai seberang dijemput sama warga. Nanti kami temenin lagi, dijemput warga—ada yang naik motor, ada yang digotong.
Kalau berat total tuh satu set sekitar 500 kilogram. Iya, makanya satu-satu kan jadinya kan (dibawanya).
Bagaimana gambaran situasi di desa-desa tersebut saat pertama Anda datang? Apa yang ada di kepala Anda saat itu?
Sejujurnya sih, kalau dari pengalaman gue beberapa kali ngurusin bencana, ini yang termasuk paling apa, ya... Guenggak ngerti sih. Maksudnya, menurut gue, paling berantakan dan paling menyedihkan situasinya.Guenggak tahu. Maksudnya, kayak awal-awal tuh sama sekali guenggak lihat ada BNPB atau apa segala macam, gitu-gitu. Terus banyak banget desa juga yang belum dapat bantuan sama sekali. Listrik belum ada sama sekali, jalanannya belum dibuka aksesnya. Itu masih banyak banget. Padahal kangue datang tuh kan udah H+2 minggu, tuh. Jadi sebetulnya gue tuh bukan tim-tim yang awal datang, gue belakangan malah.
Kan justru akhirnya jadi berangkat tuh karena kok udah dua minggu kayaknya di sana beritanya situasinya masih mengkhawatirkan. Makanya terus akhirnya berangkat. Tapi emang sejujurnya, dibanding kalau lihat pengalaman guangurusingituan (bencana), ini termasuk salah satu yang paling menurut gua paling nggakdiurusin, kali ya. Paling menyedihkan deh situasinya.
Bantuan belum ada yang masuk waktu itu?
Iya, ada, tapi (bantuan) di kota-kota gede. Kalau yang di tempat-tempat guegitu ada beberapa, tapi yang jelas bukan dari pemerintah kan. Kalau dari pemerintah, ya belum ada.Ya kadang, maksudnya, ada di beberapa tempat tuh ada genset, tapi pasok suplai bensinnya yang nggak ada. Entah nggak ada karena langka atau entah terlalu mahal. Makanya kami mutusin pakai solar panel, tuh, karena BBM tuh pasti dari dulu urusannya sama bensinnya kan. Percuma lu punya genset segede-gede gaban kalau bensinnya nggak ada, mau gimana.
Selain infrastruktur, bagaimana kondisi kesehatan lingkungan di sana, terutama dengan banyaknya lumpur dan debu?
Kalau masalah debunya, ya guenggakngambilprecaution yang gimana-gimana, karena nggak mungkin juga gue seharian suruh pakai masker gitu. Jadi, ya udah ajalah. Yang kasihan kan warga situ kan sebetulnya, yang harus bertahun-tahun kan nanti, berbulan-bulan begitu.ISPA itu udah pasti, gitu. Itu udah pasti nanti. Itu kan nanti kan kelihatannya baru mungkin setahun, enam bulan, setahun, atau dua tahun nanti kan. Tapi pasti nanti akan jadi masalah, tuh, ISPA, tuh. ISPA, tuh, itu menurut guekayak bom waktu yang nanti itu akan ada masalah, itu, tuh, pasti, tuh.
Ini kan beda, ya, sama gempa. Kalau gempa kan rumahnya ambruk segala macam, ya, puingnya bisa dibersihin, rumah dibangun lagi. Ini kan lumpur, ya. Maksudnya, beneranlu bayangin satu desa kerendem lumpur sepinggang, sedengkul, sebetis. Itu kan lumpurnya nggak bisa... itu mau lukemanain? Mungkin malah menurut gue untuk beberapa tahun ke depan tempat itu, ya, nggakinhabitable, nggak bisa ditinggalin. Orang lumpurnya sedengkul, lu mau ngapain?
Apa rencana tindak lanjut tim relawan ke depan?
Kami jadinya kan sekarang punya 3 desa yang kami pasangin solar panel, tuh, ya, di Rantau Bintang dan Baling Karang (Aceh Tamiang) sama Batu Sumbang (Aceh Timur). Kan berarti kan kami punya 3 desa yang kami dampingin, nih, sebetulnya. Maksudnya, kami udah kenal sama warganya, sama perangkatnya. Kami naruh solar panel di sana, udah ada ikatan lah, gitu.Kami pengennya sih sekarang selanjutnya kami pengenmaintain itu buat mikirin program jangka menengah dan panjangnya. Kemarin kanstrictlykan darurat kan, butuh solar panel listrik. Terus ke depannya mau ngapain, nih? Kan nanti kan pasti ada fase recovery, ada rehabilitasi supaya mereka pulih dan bangkit lagi kan ekonominya, livelihood-nya. Apakah mau hunian, apakah mau pendidikan, apakah mau kesehatan. Belum tahu bentuknya apa, spesifiknya. Belum kami omongin. Tapi guapengennya memang ada program jangka menengah sama jangka panjangnya, gitu.
Karena, ya, itu tadi kami udah punya 3 desa. Mungkin nambah 4 lagi, yang nanti kami punya 7 desa yang kami dampingin, gitu. Pengennya, ya, nggakcumanmasang solar panel terus ditinggal. Kami pengennyadampingin mereka juga sambil ngebantu sampai mereka pulih buat jangka menengah sama jangka panjangnya. Tapi spesifiknya apa belum tahu sih. Karena gua baru banget pulang juga, lagi mau diomongin sama teman-teman, gitu.
Berbekal pengalaman di lapangan, menurut Anda tindakan apa yang harus diambil pemerintah?
Ya, kalau pemerintah tuh yang paling kelihatan di depan mata, ya, hunian. Sebetulnya kangitu ya. Hunian sama, ya, mitigasi bencananya—jangan sampai terulang lagi. Ini kan dari dulu kan masalahnya adalah kayak pemadam kebakaran, kan. Begitu kejadian, lu baru ribet mau ngapain, gitu. Harusnya kan pemerintah punya roadmap mitigasi bencana yang jelas. Itu kan tugasnya BNPB, tuh. BNPB tugasnya bukan cuma ketika ada bencana terus dia bagi-bagi tenda, kan. Dia bukan cuma bagi-bagi bantuan.Dia kan tugas utamanya justru adalah dia bikin roadmap mitigasi, punya plan mitigasi, gitu. Gimana supaya kejadian tuh nggakkeulang lagi. Kalau keulang lagi, udah tahu harus ngapain, gimana cara meminimalisir risikonya, segala macam. Karena menurut gua itu akan keulang lagi kejadian.
Kalau di sana, setau yang guetanyain dulu tuh pernah ada sejarah 2006 banjir bandang yang sama, gitu. Desanya habis, terus mereka relokasi ke tempat yang lebih tinggi, di desa yang sekarang, nih. Nah, sekarang 2026 desa yang sekarang habis lagi. Kan berarti kan airnya kan lebih tinggi, ya. Yang sekarang habis, kan berarti kan lingkungannya lebih rusak, airnya lebih tinggi. Mitigasinya juga masih nggak ada.
Kondisi di lapangan saat ini bagaimana? Pembersihan dari puing-puing sudah berjalan?
Gue sejujurnya nggak lihat sih. Kalau dulu masih kayakgitu (berantakan) karena gua tahu juga, maksudnya, pemerintah. Pemerintah pasti bukannya—nggakcuman pemerintah, ya—kita yang ngelihat aja bingung. Ini kan beda, ya, sama gempa. Yang benda, kalau gempa kan gempa tuh kan rumahnya ambruk segala macam, ya, puingnya bisa dibersihin, rumah dibangun lagi. Ini kan lumpur, ya. Maksudnya, beneranlu bayangin satu desa kerendem lumpur sepinggang, sedengkul, sebetis. Itu kan lumpurnya nggak bisa (disingkirkan begitu saja). Itu mau lukemanain?Ya, paling kemarin ada beberapa jalannya dibersihin pakai beko, tuh. Lumpurnya, ya, kan dibuangnya cuman ke samping doang. Itu kan di sampingnya kan tanah lumpur dari satu gunung pindah ke situ, kan. Berarti kan tanah segunung kan itu. Terus mau luapain lumpurnya gitu, mau lukemanain. Itu kan juga pasti bingung.
Jadi sampai kemarin, ya, gua belum lihat ada usaha signifikan sih. Paling emangngebukain jalan pakai beko, lumpurnya ditaruh ke samping. Gue juga kebayang ribetnya, gitu. Itu gunung lumpur mau diapain, gitu. Mungkin malah menurut gua untuk beberapa tahun ke depan tempat itu, ya, nggakinhabitable, nggak bisa ditinggalin. Orang lumpurnya sedengkul, lu mau ngapain?
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































