tirto.id - Penggalangan dana untuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memperlihatkan betapa solidaritas antarwarga dapat menjadi nyala harapan di tengah gelapnya ketidakpastian bagi para korban bencana. Ketika pemerintah dinilai kurang sigap memobilisasi bantuan, gerakan saling bantu lintas daerah—yang kini semakin dimungkinkan oleh kehadiran berbagai platform crowdfunding—justru tumbuh secara organik.
Nilai donasi yang masuk memang mungkin tidak sebanding dengan anggaran yang disiapkan negara atau dana yang digalang tokoh-tokoh politik. Namun jumlahnya tetap signifikan. Platform Kitabisa, misalnya, mencatat bahwa hingga 3 Desember, donasi yang terkumpul untuk korban banjir dan longsor di Sumatra telah mencapai Rp31 miliar dari 371.000 donatur, dikelola melalui 300 kampanye terverifikasi.
Sementara itu, Amartha Empower—sebelumnya wecare.id—melaporkan telah berhasil menghimpun lebih dari Rp1,5 miliar untuk berbagai kebutuhan darurat di wilayah terdampak. Angka ini menunjukkan bahwa solidaritas warga masih menjadi kekuatan yang tidak bisa disepelekan dalam meringankan situasi saat bencana melanda.

Meski demikian, penggalangan dana hanyalah satu sisi dari ekosistem penanganan bencana. Tantangan yang jauh lebih besar muncul pada tahap penyaluran. Sebab, betapapun besar donasinya, dampaknya akan sangat terbatas jika tidak dapat tiba di tangan warga yang benar-benar membutuhkan dalam waktu yang tepat.
Pada titik inilah, kompleksitas distribusi kerap menyergap banyak pihak—penggalang dana, relawan, organisasi sosial, hingga perusahaan yang terlibat.
Co-Founder & CEO Kitabisa, Vikra Ijas, menjelaskan bahwa penyaluran donasi melibatkan mata rantai panjang antara penggalang dana, mitra lokal, organisasi sosial, hingga relawan di lapangan. “Pada dasarnya, donasi yang terkumpul akan disalurkan oleh pihak penggalang dana atau mitra penyaluran donasi seperti organisasi sosial, CSO, atau simpul relawan di daerah,” ujarnya kepada Tirto, Kamis (4/12/2025).
Dalam situasi darurat, menurutnya, platform akan proaktif mempertemukan penggalang dana dengan relawan atau organisasi setempat agar distribusi bisa dipercepat. Mekanisme penyaluran, kata Vikra, fleksibel dan mengikuti kebutuhan di lapangan.
Mitra penyalur di daerah menentukan kebutuhan prioritas berdasarkan asesmen, lalu penggalang dana mencairkan donasi sesuai kebutuhan tersebut. Penyalurannya pun bertahap, mengingat skala bencana yang besar kerap menuntut bantuan yang bersifat jangka pendek sekaligus jangka panjang.
“Misalnya untuk tahapan awal, bantuan akan berfokus pada kebutuhan mendesak seperti sembako, posko/tenda, hygiene kit, atau paket untuk balita seperti popok,” jelasnya.
Selain itu, kecepatan penyaluran berbagai bantuan ini sangat bergantung pada akses. Vikra menuturkan, bantuan biasanya dapat tiba dalam waktu kurang dari sehari selama jalur darat tidak terputus, “Dalam kurang dari 1x24 jam bantuan bisa langsung disalurkan ke warga terdampak selama akses ke lokasi tidak terisolasi,” kata Vikra.
Namun gambaran ideal itu sering kali sulit terwujud. Ketika wilayah terputus dari akses darat atau listrik dan sinyal padam seperti yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat saat ini, distribusi bisa berhenti total.
Vikra mencontohkan upaya penggalang dana Praz Teguh yang harus menggandeng relawan dan TNI AU untuk menyalurkan bantuan lewat helikopter ke Agam, Sumatra Barat.
Belum lagi, soal kewajiban transparansi yang tak boleh diabaikan dalam penyaluran donasi. Sebab, berapa pun nilainya, bantuan tetaplah amanah yang harus sampai dengan tepat ke tangan penerima.
Untungnya, di sejumlah platform urun dana digital hal ini dapat dipantau secara mutakhir. Pada platform Kitabisa, misalnya, jumlah donasi yang terkumpul hingga penyaluran bantuan dapat dipantau oleh publik.
"Jumlah donatur, detail penggunaan donasi, dan update penyaluran melalui fitur Kabar Terbaru,” ujar Vikra, yang menegaskan bahwa pemantauan ini dapat dilakukan secara real-time.
Tak hanya Kitabisa, Amartha Empower menghadapi tantangan serupa dalam penyaluran donasi. Meski begitu, Head of Amartha Empower, Gigih Septianto, menekankan bahwa kecepatan distribusi sering kali terbentur realitas lapangan yang kompleks, dan membuat penyaluran tidak selalu secepat ekspektasi publik.
“Akses yang sulit, kebutuhan logistik dan transportasi yang mahal, jumlah relawan yang terbatas, serta keterbatasan ketersediaan barang di daerah bencana,” ujarnya kepada Tirto.
Dari pengalaman penyaluran bantuan di Sumatra, Gigih menyebut bahwa penguatan kapasitas respons di lapangan menjadi pelajaran penting. Lantaran itu lah, ke depan, Amartha berencana menambah jumlah tim dan relawan serta meningkatkan kemampuan mereka melalui pelatihan.
“Dengan langkah-langkah ini, kami berharap kecepatan dan ketepatan penyaluran bantuan dapat semakin optimal,” ujarnya.
Gigih menjelaskan bahwa alur donasi dimulai dari kontribusi donatur melalui website, aplikasi Empower atau Amartha, hingga transfer langsung. Dana kemudian dicairkan untuk pembelian kebutuhan mendesak berdasarkan hasil asesmen.
Setelahnya, bantuan disalurkan lewat relawan atau mitra organisasi, termasuk tim lapangan Amartha. Namun ia mengakui bahwa tahapan asesmen dan transportasi logistik adalah bagian yang paling memakan waktu. “Assessment diperlukan untuk memastikan bantuan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat terdampak,” katanya.

Sebab, kondisi lapangan yang sulit, ditambah gangguan komunikasi seperti yang terjadi di wilayah Sibolga, membuat proses pendataan awal dan verifikasi penerima kerap tertunda.
Karena itu lah, platform crowdfunding Amartha Empowe berfokus pada tiga respons utama dalam penyaluran bantuan: evakuasi dan bantuan bagi field officer Amartha yang terdampak, distribusi bantuan kepada Ibu Mitra Amartha, serta penggalangan dan penyaluran donasi untuk masyarakat umum.
Perihal akuntabilitas, Amartha Empower memperbarui setiap pengeluaran dan penyaluran secara berkala melalui halaman kampanye, disertai audit tahunan oleh akuntan publik. “Kami berkomitmen menjaga transparansi dengan menyediakan informasi lengkap terkait nominal donasi, biaya operasional, dan realisasi penyaluran,” tegas Gigih.
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































