tirto.id - Memasuki hari kelima pascabencana gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT), jumlah korban meninggal dunia dilaporkan bertambah menjadi 71 orang. Selain itu, berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 59.647 warga kini terpaksa mengungsi di berbagai titik.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, mengonfirmasi peningkatan data korban tersebut.
"Jumlah korban ada bertambah satu orang menjadi 71 yaitu di Kabupaten Nagekeo. Untuk jumlah total pengungsi yang banyak saat ini menurut catatan kami sebanyak 59.647 orang dan yang terbanyak ini ada di Manggarai sebanyak 20.433 orang," ujar Berton dalam konferensi pers daring, Rabu (19/8/2026) sore.
Ratusan Ton Bantuan Terkendala Geografis Flores
Mengenai penyaluran logistik, Berton memaparkan bahwa hingga 18 Agustus, total bantuan yang terkirim mencapai 398 ton, termasuk 165 ton yang didistribusikan melalui jalur udara.
Pemerintah juga mengoptimalkan jalur laut dengan mengerahkan KRI Bung Hatta dari Labuan Bajo untuk menjangkau wilayah Manggarai dan Manggarai Timur.
Namun, BNPB mencatat sejumlah kendala dalam pendistribusian. Karakter geografis Flores yang berbukit serta kondisi ruas jalan yang sempit dan labil menjadi hambatan utama.
Selain itu, banyaknya pengungsi yang mengevakuasi diri secara mandiri di dekat rumah dengan alasan keamanan harta benda menyulitkan petugas dalam pendataan serta distribusi tepat waktu.
BMKG Deteksi 3.002 Gempa Susulan, Diprediksi Meluruh September
Terkait kondisi kegempaan, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan hingga hari ini pukul 14.00 WIB, telah terjadi 3.002 gempa susulan dengan rentang magnitudo 1,1 hingga 6,2.
Sebanyak 86 gempa dilaporkan dirasakan masyarakat, dan 25 di antaranya memiliki kekuatan di atas magnitudo 5,0.
"Jumlah gempa susulan ini cukup banyak. Sebenarnya itu adalah bagian dari proses penyesuaian kerak bumi atau pelepasan energi sehingga mendapatkan kesetimbangan yang baru setelah adanya gempa utama yang besar," papar Nelly.
Nelly menambahkan, secara spasial sebaran gempa susulan terkonsentrasi di wilayah Flores bagian tengah hingga barat. Kondisi ini memperlihatkan keterkaitan erat dengan zona tektonik Flores Back Arc Thrust.
BMKG memprediksi aktivitas kegempaan akan terus menurun secara bertahap dalam beberapa minggu ke depan. Namun, bukan berarti sama sekali tidak ada gempa terjadi di kemudian hari.
"Kira-kira dalam waktu 21 sampai 30 hari ke depan akan segera meluruh. Model yang ada saat ini memperkirakan laju gempa susulan dapat mencapai tingkat yang relatif rendah mungkin di akhir September 2026," lanjutnya.
BMKG menegaskan seluruh instrumen pemantauan, termasuk 39 seismograf dan sistem penerima peringatan (WRS) di wilayah NTT, terus bekerja 24 jam.
Nelly menekankan peralatan tersebut digunakan untuk memastikan deteksi dan penyampaian informasi secepat mungkin, bukan untuk memprediksi waktu terjadinya gempa secara pasti.
Sebagai penutup, Berton menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk terus mendampingi pemerintah daerah dalam masa tanggap darurat melalui pengerahan sumber daya nasional serta personel TNI-Polri.
"BNPB memastikan dukungan akan terus diberikan sesuai kebutuhan dan perkembangan kondisi di lapangan. Kami ingin memastikan bahwa tiga hal: masyarakat selamat, kebutuhan dasarnya terpenuhi, dan proses pemulihan dapat segera berjalan dengan baik," pungkas Berton.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































