Menuju konten utama

Penemuan Material Nuklir Berton-ton di Suriah, Ini Kronologinya

IAEA menemukan material nuklir beberapa ton di Suriah setelah pemerintah baru melaporkan lokasi tersebut. Material akan diawasi dan disimpan secara aman.

Penemuan Material Nuklir Berton-ton di Suriah, Ini Kronologinya
Peta Suriah. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Penemuan material nuklir dalam jumlah beberapa ton di Suriah menjadi perhatian internasional setelah Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperoleh akses ke Deir ez-Zur dan lokasi kedua yang baru ditemukan. Pemerintah Suriah melaporkan keberadaan material tersebut kepada IAEA secara sukarela pada 17 Juli 2026.

"Kita berbicara tentang beberapa ton material nuklir yang dapat digunakan untuk tujuan yang buruk," ungkap Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi dikutip Al Jazeera, Selasa(18/8/2026).

Suriah telah lama menjadi perhatian IAEA terkait dugaan aktivitas nuklir pada era pemerintahan Bashar al-Assad. Pada 2007, Israel menyerang sebuah fasilitas di Deir ez-Zur yang diduga merupakan reaktor nuklir Suriah.

Namun, penemuan material dalam jumlah besar tersebut tidak serta-merta membuktikan adanya program senjata nuklir aktif di Suriah. Pemerintah Suriah mengatakan material itu tidak berbahaya dan akan tetap berada dalam penguasaannya dengan jaminan serta pengawasan IAEA.

“Pada tanggal 17 Juli, kami mengirim surat resmi kepada badan tersebut, di mana kami menyatakan atas kehendak bebas kami sendiri adanya material nuklir di lokasi yang tidak diumumkan dalam warisan yang ditinggalkan oleh rezim sebelumnya,” jelas Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani.

Kronologi Penemuan Nuklir di Suriah

Pada 2007 lalu, Israel melakukan serangan udara terhadap sebuah fasilitas di Deir ez-Zur, Suriah timur, yang diduga merupakan reaktor nuklir. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu dasar perhatian IAEA terhadap dugaan aktivitas nuklir Suriah pada masa pemerintahan Bashar al-Assad.

Setelah Presiden Bashar al-Assad digulingkan pada akhir 2024, pemerintahan baru Suriah menyatakan komitmennya untuk bekerja sama dengan IAEA dalam menangani warisan aktivitas nuklir yang berlangsung selama puluhan tahun pemerintahan keluarga Assad.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah baru untuk membuka kembali akses terhadap lokasi-lokasi yang berkaitan dengan dugaan aktivitas nuklir serta memberikan informasi yang diperlukan kepada badan pengawas nuklir PBB tersebut.

Dalam perkembangan terbaru, pemerintah Suriah memberi tahu IAEA mengenai keberadaan material nuklir di sebuah lokasi yang tidak diungkapkan secara terbuka. Setelah menerima pemberitahuan tersebut, tim IAEA dapat mengakses lokasi dan menemukan serta mengumpulkan material tersebut.

Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi mengatakan akses ke lokasi dilakukan setelah pemerintah Suriah memberikan notifikasi kepada badan tersebut.

Penemuan ini kemudian dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani dalam konferensi pers bersama Grossi di Damaskus pada Selasa. Salah satu hal penting yang disampaikan pemerintah Suriah adalah bahwa material tersebut tidak berbahaya.

Al-Shaibani juga menjelaskan bahwa material itu akan tetap berada dalam penguasaan Suriah, tetapi penyimpanan dan penanganannya akan dilakukan dengan berada di bawah jaminan IAEA. Pemerintah Suriah menyatakan akan menyediakan kondisi yang diperlukan untuk memastikan material tersebut dapat ditangani dan disimpan secara aman.

"Kami akan menyediakan kondisi yang diperlukan untuk menangani bahan nuklir dan menyimpannya dengan aman," kata al-Shaibani dikutip The Jerusalem Post, Selasa (18/8/2026).

Al-Shaibani juga menegaskan bahwa Suriah memiliki hak untuk menggunakan material tersebut untuk kepentingan sipil dan damai.

Baca juga artikel terkait NUKLIR atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra