Menuju konten utama
Mozaik

Sumur Artesis Batavia dan Awal Mula Jaringan Air Jakarta

Sejak era Hindia Belanda kebutuhan air di Jakarta selalu membeludak. Berbagai cara dilakukan demi memenuhinya, meski harus mendatangkan dari Bogor.

Sumur Artesis Batavia dan Awal Mula Jaringan Air Jakarta
Header Mozaik Sumur Artesis Batavia dan Awal Mula Jaringan Air Jakarta. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada 1881, sebuah keributan kecil terjadi di Gang Zecha, Batavia. Seorang Eropa mendapati sejumlah perempuan dan anak-anak pribumi sedang mandi menggunakan air dari hidran umum. Ia menegur dan meminta mereka berhenti.

Tapi, mereka melawan. Seorang lelaki pribumi mempertanyakan alasan pelarangan itu. Mereka membayar pajak setiap tahun, katanya, sehingga berhak menikmati fasilitas yang disediakan pemerintah. Perempuan-perempuan di sekitar hidran pun menertawakan orang Eropa tersebut.

Peristiwa di Gang Zecha itu merupakan bagian dari perubahan besar sistem penyediaan air Batavia. Beberapa tahun sebelumnya, pemerintah kolonial mulai mengebor tanah untuk mencari sumber air yang lebih baik daripada sungai, kanal, dan sumur dangkal, yang selama bertahun-tahun menjadi tumpuan penduduk.

Pengeboran itu kemudian melahirkan sumur-sumur artesis di berbagai penjuru Batavia. Air dari kedalaman tanah ditampung dalam reservoir dan disalurkan melalui jaringan yang berakhir antara lain di hidran umum seperti yang digunakan warga Gang Zecha.

Sebagian sumur tersebut dibangun menyerupai paviliun atau monumen, jauh dari bentuk utilitarian fasilitas air.

Mengapa kota yang dialiri banyak sungai dan kanal harus mengebor jauh ke bawah tanah, dan bagaimana teknologi itu mengubah penyediaan air Batavia?

Ketika Batavia Mencari Air Bersih

Batavia berlimpah air. Masalahnya, Batavia kekurangan air layak konsumsi. Pada abad ke-19, sungai dan kanal yang membelah kota digunakan untuk berbagai kebutuhan harian. Penduduk mandi di sungai dan mencuci pakaian di tepi kanal. Pada saat bersamaan, sungai itu menerima tumpahan limbah rumah tangga dan kotoran.

Sedimentasi memperlambat aliran kanal dan memperburuk sanitasi. Penduduk miskin mengambil air langsung dari sungai; sebagian lainnya mengandalkan sumur dangkal yang rentan tercemar atau menampung air hujan. Hanya penduduk yang lebih mampu dapat membeli air dari penjual air keliling.

Kondisi tersebut mendorong pencarian sumber air yang lebih baik. Pada 1830-an, pemerintah mencoba menjernihkan air sungai melalui sistem penyaringan. Namun, cara itu membutuhkan biaya besar, sementara kualitas air tetap bergantung pada sumber yang telah tercemar.

Pencarian kemudian beralih ke bawah tanah. H.A. Mansfeldt dalam Jaarboek van het Mijnwezen in Nederlandsch Oost-Indië (1873: 93) mencatat, pengeboran sedalam 83 meter dilakukan di Benteng Prins Frederik (sekarang wilayah Masjid Istiqlal) pada 1843. Proyek yang sama dilakukan pula di Pulau Onrust pada 1854, dengan kedalaman 101 meter. Namun, keduanya hanya menghasilkan sedikit air dengan kualitas rendah.

Pencarian dilanjutkan pada 1869 ketika insinyur P.H. van Diest meneliti geologi antara Batavia dan Buitenzorg (sekarang Bogor). Hasilnya cukup menjanjikan sehingga pemerintah kembali melakukan pengeboran di kawasan militer Weltevreden (Sawah Besar, Jakarta Pusat).

Titik baliknya adalah pada 1872. Pengeboran, yang baru dimulai sekitar pertengahan April, telah mencapai kedalaman sekitar 154 meter pada awal Agustus. Mansfeldt menilai hasilnya sangat baik, dengan jumlah air jauh melampaui pengeboran lain di Jawa.

Pengeboran berikutnya dilakukan pada tiga bulan terakhir tahun yang sama. Hasilnya lebih kecil, tetapi masih dinilai sangat memadai.

Keberhasilan tersebut membuka jalan bagi pembangunan sumur-sumur baru di Batoetoelis (sekarang Batutulis, Bogor), Parapattan (sekitaran Simpang Tugu Tani, Jakarta), Molenvliet-Oost (Jalan Hayam Wuruk, Jakarta), Koningsplein (kawasan Medan Merdeka), Salemba, dan Meester Cornelis (sekitaran Jatinegara).

Sumur artesis di Salemba

Sumur artesis di Salemba, Batavia. (FOTO/COLLECTIE TROPENMUSEUM/Woodbury & Page)

Proyek sumur artesis itu memungkinkan air dapat naik ke permukaan tanpa perlu dipompa terus menerus. Airnya ditampung dalam reservoir, lalu diteruskan melalui jaringan pipa, termasuk ke hidran umum. Namun, keberhasilan itu memunculkan persoalan baru, bagaimana air disalurkan dan siapa yang dapat menggunakannya?

Sumur Megah dan Persoalan Akses Air

Bangunan sumur artesis Batavia tidak berbentuk seragam. Di Batoetoelis, bentuknya relatif sederhana; di Molenvliet-Oost, sumur dibangun dengan sentuhan dekoratif, bahkan memiliki pancuran berbentuk kepala singa; sumur di Salemba menyerupai paviliun bergaya klasik; sedangkan sumur di Meester Cornelis memiliki fasad ornamental bertuliskan “WELKOM”. Dari semuanya, sumur Koningsplein menjadi salah satu yang paling monumental, dengan kolom, patung, relung, dan balustrade.

Permukiman Eropa telah meluas ke Weltevreden, yang berkembang menjadi pusat pemerintahan dan hunian baru. Infrastruktur air hadir di tengah perubahan tersebut dan ikut menjadi penanda kemajuan kota kolonial.

Peresmian hidran publik pada 24 Mei 1876 memperlihatkan bahwa penyediaan air dipertontonkan sebagai pencapaian. Berdasarkan catatan studi Mikko Toivanen, seremoni itu dihadiri pejabat dan disertai pidato Residen Batavia tentang manfaat air bersih bagi penduduk.

Seremoni tersebut membuat infrastruktur air memiliki fungsi representatif: pemerintah kolonial dapat menampilkan Batavia sebagai kota yang lebih sehat dan modern. Dalam konteks ini, fasilitas air dapat dibaca sebagai bagian dari propaganda kemajuan kolonial.

Perbedaan kebutuhan air juga terlihat melalui hasil perhitungan R. Fennema yang diterbitkan dalam Jaarboek van het Mijnwezen in Nederlandsch Oost-Indië(1880). Ia memperkirakan, 10 persen penduduk—orang Eropa serta kalangan pribumi, Tionghoa, dan kelompok lain yang berkecukupan—membutuhkan sekitar 80 liter per orang per hari (hlm. 86-87). Totalnya bisa mencapai 180 liter jika ditambah dengan kebutuhan mandi mereka.

Perhitungannya berbeda bagi 90 persen penduduk lainnya. Dua pertiga kelompok tersebut, yang diasumsikan tinggal dekat sungai, hanya membutuhkan 15 liter air artesis untuk minum dan memasak; sisanya sekitar 50 liter, per orang per hari.

Angka tersebut bukan jatah resmi yang diberikan kepada setiap penduduk. Fennema menggunakannya sebagai asumsi matematis untuk menghitung kecukupan kapasitas sistem air Batavia.

Air yang sebelumnya berhenti di lokasi pengeboran kemudian masuk ke reservoir, pipa, dan hidran umum. Persoalan akses pun muncul. Bagi banyak penduduk, air digunakan untuk mandi, mencuci pakaian dan beras, tetapi di sisi lain anak-anak juga bermain di sekitarnya.

Penggunaan hidran untuk berbagai kebutuhan segera memicu keberatan. Pada 1876, pemerintah membatasi kegiatan di sekitar hidran, termasuk mandi dan mencuci langsung di bawah keran. Dalihnya, air artesis pada dasarnya diarahkan untuk diambil dan dibawa ke rumah.

“Sumur artesis di Parapattan mulai difungsikan kembali sebagai tempat mandi dan mencuci. Hampir setiap saat, kita dapat melihat penduduk asli sibuk membersihkan badan, pakaian, dan peralatan memasak. Bukankah ini sesuatu yang harus diwaspadai?” tulis surat kabar Bataviaasch Handelsblad, 26 Februari 1878.

Penduduk tidak selalu menerima pembatasan tersebut. Perlawanan terhadap pembatasan itu pula yang terlihat dalam perselisihan di Gang Zecha pada 1881. Tuntutan serupa muncul dari komunitas Arab yang meminta pemerintah menyediakan hidran di lingkungan tempat tinggalnya. Penduduk sejumlah kampung yang dilewati jaringan pipa juga mempertanyakan, sebab air hanya melintas tanpa dapat mereka gunakan.

Batavia Kembali Mencari Sumber Air Baru

Sumur artesis bukan teknologi berumur pendek. Lebih dari seperempat abad setelah pengeboran sistematis dimulai, sejumlah sumur yang dibangun pada 1870-an masih menjadi bagian sumber air Batavia. Laporan Burgerlijke Openbare Werken tahun 1900 masih mencatat debit sumur di Batoetoelis, Koningsplein, Parapattan, Salemba, dan Meester Cornelis.

Jaringan tersebut terus berkembang memasuki abad ke-20. Michelle Élan Kooy, dalam kajiannya mengenai sejarah penyediaan air Jakarta, mencatat perubahan skala cukup besar. Pada 1873–1889, jaringan itu masih terdiri atas sembilan sumur artesis dan enam reservoir berkapasitas total sekitar 660 meter kubik. Memasuki periode 1890–1922, skalanya bertambah menjadi puluhan sumur, 15 stasiun pompa, dan 119 kilometer jaringan pipa utama. Jumlah sambungan rumah tangga mencapai 4.090.

Sumur artesis di Batoe Toelies

Sumur artesis di Batoe Toelies, Batavia. (FOTO/COLLECTIE TROPENMUSEUM/Woodbury & Page)

Pertumbuhan kota dan kebutuhan pasokan yang lebih besar mendorong pemerintah mencari sistem lain. Pilihannya kemudian mengarah ke mata air di kawasan lain di Bogor.

Pada 1918–1920, pemerintah mulai mengembangkan mata air Ciburial di Ciomas yang berkapasitas sekitar 484 liter per detik. Air dari kawasan tersebut dialirkan menuju Batavia melalui jaringan pipa sepanjang puluhan kilometer. Berbeda dari sistem artesis yang mengambil air dari bawah tanah kota, sistem baru itu membawa air dari luar Batavia dengan memanfaatkan perbedaan ketinggian dalam distribusinya.

Pada 23 Desember 1922, air Ciburial untuk pertama kalinya dialirkan ke Batavia. Perubahan tersebut membawa solusi baru penyediaan air kota. Jika pada 1870-an Batavia mengebor tanah untuk mendapatkan air, setengah abad kemudian kota itu membangun jaringan untuk mendatangkannya dari Bogor.

Jejak sistem baru itu masih berdiri di Pasar Rebo. Gudang Air Pasar Rebo—dibangun pada 1922—menjadi bagian dari jaringan Ciburial–Batavia yang menampung air sebelum diteruskan menuju kota. Bangunannya masih bertahan hingga sekarang.

Lambat laun, operasional sumur-sumur artesis di Batavia berhenti. Sebagian besar jejak fisiknya sekarang telah hilang, hanya meninggalkan dokumentasi lama.

Riwayat sumur artesis Batavia memperlihatkan bahwa persoalan air Jakarta terus berubah: dari mencari sumber yang lebih baik dan memperluas akses hingga menjaga agar kebutuhan kota tidak terus membebani cadangan di bawah tanah.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin