tirto.id - Tepat pukul 08.00 WIB tanggal 24 Januari 1957, hanggar Pangkalan Udara Halim (Cililitan) kedatangan armada baru: Ilyushin (IL)-14 Avia, buah rakit para teknisi Uni Soviet. Pesawat itu membonceng Dmitry Alexandrovich Zhukov, duta besar Uni Soviet untuk Indonesia. Rencananya, pesawat tersebut dihibahkan oleh Presiden Kliment Voroshilov untuk Indonesia, sebagai tanda persahabatan.
Acara hibah berlangsung cukup meriah, dihadiri sejumlah pejabat. Seluruh tamu undangan juga diperkenankan masuk ke dalam kabin pesawat. Setelah orkestra dan musik, sekitar pukul 09.45 WIB, Sukarno dan Zhukov meninggalkan pangkalan udara.
Dilansir olehHet nieuwsblad voor Sumatra edisi 25 Januari 1957, hibah itu merupakan bentuk penghargaan Pemerintah Uni Soviet kepada Sukarno atas penguatan hubungan diplomatik kedua negara. Sukarno sangat terkesan dengan itu, sebab secara resmi, IL-14 Avia menjadi pesawat pribadi presiden yang pertama.
Setelah menyambut Zhukov dengan jamuan makan siang di Istana Merdeka, Sukarno mulai memikirkan nama pesawatnya. Perdana melihat tampang garang IL-14 Avia, Sukarno langsung terlintas nama ikonik.
“Ada sebuah gunung di Indonesia bernama Dolok Martimbang (terletak di Tapanuli) yang membentuk kesatuan dengan pegunungan dan bukit sekitarnya. Saya berharap rakyat Indonesia akan membentuk satu kesatuan yang sama, dan itulah sebabnya saya memberi nama pesawat IL-14 itu ‘Martimbang’,” kata Sukarno dalam pidato penyerahan acara ini sebagaimana diberitakan Java Bode edisi 24 Januari 1957.
Sebagaimana ditulis dalam pemberitaan A.I.D: de Preangerbodetanggal 25 Januari 1957, Sukarno dianggap cermat lantaran jeli melihat situasi politik dan keamanan di daerah Sumatra. Langkah toponimi Dolok Martimbang dinilai sebagai lobi strategis meredam gejolak amuk massa.
Sejak akhir 1956, beberapa daerah di Sumatra melakukan perlawanan terhadap pemerintah pusat, dan menuntut pemberdayaan otonomi daerah. Titik perlawanan pertama berkobar di Sumatra Utara. Kolonel Infanteri Maludin Simbolon, panglima Teritorium II/Bukit Barisan, mendeklarasikan pembentukan Dewan Gajah pada 22 Desember 1956.
Maka dari itu, penamaan pesawat kepresidenan pertama dengan istilah batak dianggap sebagai bagian dari pelunakan amarah massa Sumatra, dengan harapan Dolok Martimbang menjadi “jembatan” reunifikasi antara Sumatra Utara dengan pemerintah pusat.
“Saya tahu bahwa perselisihan seperti ini adalah masalah awal bagi anak muda,” celetuknya, menyitir singkat konflik yang tengah berlangsung di Sumatra.
Legenda Dolok Martimbang
Sebetulnya, Sukarno tak ujug-ujug menggunakan nama Dolok Martimbang untuk pesawat kepresidenan yang pertama. Sukarno sudah lama mengetahui legenda Dolok Martimbang dan kebudayaan Tapanuli.
Menurut klaim Akhir Martua Harahap, pemerhati sejarah sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Sukarno telah akrab dengan Tapanuli sejak ditawan di daerah Parapat, pascapenyerangan Belanda ke Yogyakarta pada Desember 1948.
Dolok Martimbang juga pernah disebut Nommensen melalui suratnya yang dipublikasikan dalam surat kabar Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad edisi 21 Februari 1878. Surat itu berisikan gencatan senjata antara 80 prajurit Kapiten Scheltens dengan sisa-sisa pasukan Sisingamangaradja.
“Tampaknya [gunung] Dolok Martimbang sudah menjadi tempat khusus yang selalu dijadikan sebagai tempat untuk melakukan perjanjian perdamaian. Tidak hanya antara para pemimpin lokal dengan pemerintah Belanda tetapi juga antar kepala-kepala daerah yang bermusuhan,” tulis Akhir Martua Harahap, melalui blog pribadinya, Poestaha Depok.
Selain itu, menurut legenda dari Tapanuli yang kemudian dikutip oleh Sukarno dalam pidatonya, dahulu kala pegunungan di daerah tersebut selalu berselisih satu sama lain. Yang pada akhirnya berhasil mendamaikan "perkelahian" itu adalah Dolok Martimbang.

Lawatan Sukarno Menunggang Dolok Martimbang
Hanya tiga bulan setelah Dolok Martimbang mendarat di Indonesia, Sukarno sudah berencana menungganginya. Surat kabar Java Bode melaporkan, ia hendak menumpang pesawat tersebut dalam kunjungan ke Surakarta dan Bali, untuk menghadiri rapat, memberikan kuliah, sekaligus rekreasi.
Namun, harapan melawat dengan Dolok Martimbang pupus, sebagaimana laporan Het nieuwsblad voor Sumatra. Sukarno beralih menumpang pesawat GLA. Tidak disebutkan alasan pastinya, tetapi ada dugaan bahwa ia “menahan diri” (terkait dengan situasi politik yang memanas) atau memang Dolok Martimbang secara teknis belum siap ditunggangi.
Sukarno baru bisa menumpang pesawat tersebut beberapa bulan setelahnya. Misalnya kunjungan ke Kupang pada Kamis, 31 Oktober 1957. Di sana, Sukarno memberikan presentasi mengenai patriotisme kepada penduduk Kupang, pentingnya investasi dalam bentuk tenaga kerja terampil, guna menyiapkan cetak biru masyarakat yang adil dan makmur.
Sehari setelahnya, Sukarno langsung bertolak ke Ambon pada 1 November 1957. Hampir mirip sebagaimana kunjungan sebelumnya, Sukarno lebih banyak mengisi podium untuk menyampaikan pidato kebesaran negara.
Sukarno lantas berlanjut ke Maluku beberapa hari setelahnya menggunakan Dolok Martimbang. Kunjungannya ke Maluku lebih dari sekadar pidato berapi-api yang gampang diakrabi Sukarno di setiap mimbar. Guna menekan perlawanan rakyat lewat Republik Maluku Selatan (RMS), Sukarno sampai meletakkan batu pertama ibu kota Maluku Tengah, Masohi.
A.I.D: de Preangerbode melaporkan pada 6 November 1957, di Maluku, Sukarno menyatakan, “Seruan kepada para pemberontak RMS yang dipimpin oleh Dr. Mr. Soumokil, yang masih bersembunyi di hutan Ceram.”
Sukarno bahkan menyebut dirinya merupakan cucu leluhur Maluku: Nusaina, Upuina, Upuama, dan Upulatu, yang diberikan hak istimewa bersama-sama meletakkan pembangunan ibu kota Masohi. Sukarno secara personal memohon restu tokoh ulayat demi kelangsungan ketenteraman Maluku.
Pada 20 November di tahun yang sama, Dolok Martimbang menjadi kendaraan Sukarno melawat ke Medan dalam rangka peresmian Universitas Sumatra Utara. Enam belas anggota, termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prijono dan Sultan Yogyakarta Hamengku Buwono IX, turut membersamai Sukarno dalam peresmian ini. Bahkan Guntur, putra sulung Sukarno dengan Fatmawati, ikut diboyong.
Dari Tunggangan Presiden sampai Tamu VIP/VVIP
Sedianya pesawat Dolok Martimbang tak pernah dirancang sebagai pesawat kepresidenan. Maka dari itu, pada awal Agustus 1957, pesawat tersebut dikembalikan ke Moskow guna diperbaiki, dirancang ulang, dan disempurnakan, agar sesuai dengan peruntukannya sebagai pesawat kepresidenan.
Perbaikan pesawat Dolok Martimbang memakan waktu cukup lama. Het nieuwsblaad voor Sumatra tanggal 27 September 1957 melaporkan, pesawat tersebut baru tiba di bengkel hanggar Polonia pada pukul sebelas siang. Itu sudah lebih dari sebulan sejak pesawat itu dikembalikan ke Uni Soviet.
Perbaikan tersebut berada langsung di bawah pengawasan Kapten Sri Mulyono Herlambang. “Menurut Kapten Muljono, kabin Dolok Martimbang kini diperbesar: sebelumnya 16 kursi, sekarang menjadi 21 buah kursi. Belum diketahui kapan pesawat akan kembali ke Jakarta. Untuk pekerjaan perbaikan, pesawat berada di Uni Soviet selama satu setengah bulan,” tulis surat kabar di atas.
Menurut Sejarah Angkatan Udara: 1950-1959 (2004), pesawat tersebut memiliki panjang badan 21,31 meter dan lebar sayap sebesar 31,7 meter. Ketinggian terbangnya bisa mencapai 2.400 meter dengan kecepatan maksimal 398 km/jam.
Usai diakuisisi pemerintah Indonesia, tanggung jawab perawatan Dolok Martimbang diserahkan kepada AURI. Pilot pertama yang bertugas mengemudikan Dolok Martimbang adalah Kapten Sri Mulyono Herlambang. Krunya, antara lain: Letnan Udara I The Tjing Hoo, Letnan Udara II A. Carqua, Kapten Udara Soesanto, dan Letnan Udara I Basjir.
Dolok Martimbang juga menjadi embrio lahirnya Skadron Angkut Khusus (Skadron Udara 17). Skadron tersebut bertugas melayani penerbangan tamu VIP/VVIP termasuk presiden sebagai penumpang khusus.
Salah satu penumpang khusus yang berkesan adalah Kartini Manoppo. Menurut Reni Nuryanti lewat bukunya, Perempuan dalam Hidup Sukarno: Biografi Inggit Garnasih (2007), Sukarno melihat paras cantik Kartini melalui lukisan Basuki Abdullah yang dipamerkan pada 1959. Kala keduanya bertemu dan berkenalan, Sukarno mengajak Kartini terbang ke Surabaya menumpang Dolok Martimbang.
Dalam penerbangan itu, Sukarno meminta secara pribadi kepada Kartini untuk bertugas sebagai pramugari. Irma Ottenhoff Mamahit, pramugari pertama Dolok Martimbang sekaligus teman dekat Kartini ,mengaku, semenjak penerbangan Surabaya itu, Sukarno dan Kartini jadi sering terbang bersama.
Irma tahu, Sukarno maupun Kartini sama-sama saling memendam rasa. Gelagat mereka tak bisa mengelak. Modusnya, jika istri-istri Sukarno naik Dolok Martimbang, Kartini tak pernah dibolehkan ikut. Sebaliknya, Sukarno sering tepergok curi pandang dan waktu dengan Kartini.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































