Menuju konten utama

AS Akui Punya Senjata di Luar Angkasa, Cina dan Rusia Merespons

AS mengakui memiliki senjata kendali antariksa di orbit yang bisa digunakan secara ofensif dan defensif. Cina dan Rusia langsung merespons.

AS Akui Punya Senjata di Luar Angkasa, Cina dan Rusia Merespons
Ilustrasi Luar Angkasa. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Amerika Serikat untuk pertama kalinya mengakui bahwa militernya memiliki senjata yang telah ditempatkan di orbit bumi dan dapat digunakan untuk menghadapi musuh di luar angkasa. Cina dan Rusia langsung angkat bicara.

Pengakuan mengenai senjata di luar angkasa tersebut disampaikan Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink dalam konferensi Air, Space & Cyber pada Senin (14/9/2026). Meink mengatakan AS kini memiliki on-orbit space-control weapons yang dirancang untuk melindungi joint force dari tindakan bermusuhan pihak lawan.

US Space Force atau Angkatan Antariksa AS kemudian menjelaskan bahwa kemampuan tersebut dapat digunakan untuk kepentingan ofensif maupun defensif.

"Inilah sebabnya mengapa Amerika Serikat kini memiliki senjata kendali antariksa di orbit yang mampu melindungi pasukan gabungan dari tindakan musuh yang bermusuhan," kata Meink dikutip Azernews, Selasa(15/9/2026).

Meski mengonfirmasi keberadaan senjata tersebut, pemerintah AS belum mengungkap jenis, jumlah, lokasi orbit, maupun cara kerja sistem yang dimaksud.

Apa yang Dimaksud dengan Space Control?

US Space Force menjelaskan bahwa space control merupakan kemampuan untuk menguasai dan melindungi wilayah luar angkasa dari ancaman musuh.

Kemampuan tersebut dapat menggunakan cara kinetik, yakni berarti menyerang atau merusak objek secara fisik, dan juga dapat dilakukan dengan cara nonkinetik berarti mengganggu fungsi satelit tanpa menghancurkannya secara langsung.

Penggunaannya pun tidak hanya ditujukan untuk menyerang, tetapi juga untuk mempertahankan aset Amerika Serikat dan sekutunya dari ancaman di luar angkasa.

Misalnya adalah gangguan terhadap komunikasi atau sinyal, penggunaan energi terarah untuk mengganggu sensor, hingga kemampuan siber yang dapat memengaruhi sistem atau jaringan satelit.

"Space Control (kendali antariksa) mencakup bidang misi yang diperlukan untuk memperebutkan dan menguasai ranah antariksa—dengan menggunakan sarana kinetik dan non-kinetik untuk memengaruhi kemampuan lawan," bunyi pernyataan juru bicara Angkatan Antariksa AS dalam sebuah siaran pers seperti diberitakan DW, Selasa (15/9/2026).

Mengapa AS Menempatkan Senjata di Orbit?

Menurut US Space Force, pengembangan kemampuan space control tersebut dilakukan sebagai respons terhadap ancaman yang datang dari dua rival geopolitik utama Amerika Serikat, yakni Cina dan Rusia.

Cina, dikatakan US Space Force, telah mengembangkan dan mengoperasikan kemampuan antariksa serta counterspace sebagai bagian dari strategi modernisasi militernya.

Sedangkan Rusia disebut telah memandang luar angkasa sebagai medan peperangan dan menganggap supremasi di ruang angkasa akan menjadi faktor menentukan dalam konflik masa depan.

Kekhawatiran AS berangkat dari ketergantungan militer modern terhadap satelit. Satelit memiliki peran penting dalam komunikasi, navigasi, pengawasan, dan berbagai operasi militer lainnya.

Respons Cina dan Rusia

Pengakuan Amerika Serikat tersebut langsung mendapat respons dari Cina. Beijing mendesak Washington untuk menghentikan upaya memperluas kemampuan militernya dan mempersiapkan perang di luar angkasa.

Pemerintah Cina juga memperingatkan bahwa langkah semacam itu dapat mendorong terjadinya perlombaan senjata di ruang angkasa.

"Kami mendesak pihak AS untuk berhenti memperluas kemampuan militernya dan bersiap menghadapi perang di luar angkasa," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun.

Rusia juga menyerukan agar luar angkasa tetap bebas dari senjata. Kremlin menyatakan bahwa ruang angkasa seharusnya bebas dari persenjataan dan mengharapkan adanya konsolidasi internasional untuk terus mendorong demiliterisasi ruang angkasa.

"Kami meyakini bahwa luar angkasa harus bebas dari segala jenis senjata. Kami mengandalkan konsolidasi internasional yang luas untuk terus berupaya mewujudkan demiliterisasi total di luar angkasa," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Baca juga artikel terkait LUAR ANGKASA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra