Menuju konten utama

Hygeia, Air Minum Dalam Kemasan Pertama di Hindia Belanda

Merek pertama air minum dalam kemasan di Hindia Belanda adalah Hygeia, yang sudah beredar sejak 1901.

Hygeia, Air Minum Dalam Kemasan Pertama di Hindia Belanda
Header Mozaik Kelangkaan Air Bersih. tirto.id/Fuad

tirto.id - Di era kiwari, rasanya mudah menemukan berbagai merek air minum dalam kemasan (AMDK) yang beredar di Indonesia. Di tempo dulu, tak banyak yang menjual AMDK. Salah satu merek pertama adalah Hygeia, yang sudah beredar di Hindia Belanda sejak 1901. Didirikan seorang apoteker Belanda bernama Hendrik Freerk Tillema, semula Hygeia adalah pabrik farmasi dan limun.

Tillema lahir di Echten, Belanda, 5 Juli 1870. Lulus dari sekolah apoteker di Groningen, dia bekerja di Bolsward sebelum hijrah ke Semarang. Setelah sempat menjadi karyawan Samarangsche Apotheek, yang salah satu anak usahanya adalah perusahaan limun R. Klaasesz and Co, Tillema mengakuisisi perusahaan tersebut.

Inovasi dia lakukan dengan memproduksi limun soda bermerek Limoen Klaasesz Tjap Koetjing. Dia juga meluncurkan Hygeia, air minum kemasan dengan proses produksi yang diklaim sangat higienis. Pada masa jayanya, perusahaan milik Tillema memproduksi minuman kemasan hingga 10 ribu botol perhari.

Popularitas Hygeia di zaman kolonial tak ada lawan. Pemasarannya yang masif meliputi Semarang, Batavia, Surabaya, Banjarmasin, Samarinda, dan Riau. Iklannya mudah ditemukan di taman-taman kota dan stasiun kereta api. Selebaran yang berisi informasi tentang produk tersebut bahkan disebarkan melalui balon udara.

Publik yang terpikat inovasi Hygeia menjulukinya Air Belanda atau Air Tillema. Peminatnya tak terbatas orang-orang kulit putih tapi juga pribumi dari kalangan priyayi. Pegiat Jong Java, Boedi Oetomo, dan Comite voor het Javaans Nationalisme yang gemar mengadopsi budaya Barat tidak asing dengan Hygeia.

Seturut Ewald Vanvugt dalam “De Donkere Kant van Tempo Doeloe” (1993:1), pada 1910 Tillema diangkat sebagai anggota Dewan Kota Semarang. Berbekal pengalaman dalam mempariwarakan Hygeia, dia menarik perhatian khalayak tentang pentingnya kebersihan lingkungan dengan menerbitkan sebuah buku tipis berjudul Riooliana.

Sambil terus menakhodai perusahaannya, suami Anna Sophia Weehuizen yang juga menggemari fotografi itu melakukan studi terhadap kesehatan masyarakat di Semarang. Selain karena tanggung jawabnya di Dewan Kota, juga karena panggilan hatinya untuk memberikan kontribusi positif bagi rakyat kecil di wilayah tersebut.

Hasilnya adalah Kromoblanda (1915), sebuah ensiklopedia kesehatan masyarakat Hindia-Belanda. Tillema mencetak buku tujuh jilid yang dilengkapi catatan statistik dan ratusan foto hitam-putih itu dengan biaya pribadi dan membagikan seribu eksemplar secara gratis kepada anggota Staten-Generaal, baik di Belanda maupun Hindia-Belanda.

Air Spa dan Wabah Kolera

Masalah kelangkaan air bersih tidak hanya terjadi di Hindia-Belanda. Berabad yang lalu masyarakat Eropa juga terus berupaya menjamin kebutuhan mereka terhadap air bersih terpenuhi. Problem ini semakin mendesak tatkala wabah kolera merebak, yang sekaligus menjadi latar sejarah munculnya air minum kemasan.

Industri air minum kemasan memiliki sejarah panjang dan berliku. Bukan untuk mengusir rasa haus, produk ini awalnya justru populer di kalangan pencinta spa di Eropa pada abad ke-18 dan 19. Berkat perkembangan hidroterapi yang dipopulerkan Vincent Priessnitz dan Sebastian Kneipp, tradisi Greco-Roman itu subur kembali.

Pusat-pusat spa di Evian-les-Bains dan Vittel di Perancis, Bath dan Buxton di Inggris, San Pellegrino di Italia, Caldes de Malavella di Spanyol, dan Carlsbad di Ceko selalu ramai dengan orang-orang yang mencari kesembuhan dari berbagai penyakit, utamanya kolera yang disebabkan buruknya kualitas air minum.

Umumnya spa-spa tersebut berada di daerah dataran tinggi dan memiliki suplai air minum yang bersih dan bebas kontaminasi. Namun karena terapi kesehatan ala spa bisa makan waktu berbulan-bulan, banyak konsumennya yang merupakan penduduk kota mengeluh, selain karena biaya juga soal jarak dan waktu.

Dari situlah tercetus ide mengemas air pergunungan untuk dikirim ke kota. Meski mahal, belum lagi ongkos kirimnya, peminatnya tetap banyak. Seiring perluasan jalur kereta api dan perkembangan teknologi komunikasi, harga air spa berangsur terjangkau sehingga permintaan bertambah dan penjualan produk meningkat.

Infografik Mozaik Kelangkaan Air bersih

Infografik Mozaik Kelangkaan Air Bersih. tirto.id/Fuad

Melejitnya popularitas air spa lama-lama tidak bersangkut-paut dengan pengobatan, tidak juga dengan spa. Para pemilik spa menangguk untung berlipat-lipat karena citra produknya sebagai air bersih, steril, dan bebas penyakit. Hal tersebut berlangsung hingga pemerintah melakukan perbaikan sanitasi di kota, terutama setelah ditemukannya teknik klorinasi, yaitu proses penambahan klorin ke air minum untuk membunuh parasit, bakteri, dan virus.

Penemuan itu memang menyudahi riwayat air spa, tapi pada awal abad ke-20 air minum kemasan muncul kembali dan, setelah beberapa dekade, menjadi tren, bahkan sampai menggeser pamor soft drinks. Di Amerika Serikat, kampung halaman Coca-Cola dan Pepsi, naiknya konsumsi air minum kemasan diiringi anjloknya daya tarik soda yang dalam 20 tahun terakhir mencapai 25 persen.

Golongan Elite dan Amtenar

Meski bukan kelahiran Hindia-Belanda, Tillema memiliki perhatian serius terhadap penduduknya. Cita-citanya untuk menyediakan air minum yang higienis, meski harganya tak terjangkau sehingga hanya bisa dikonsumsi kalangan elite, ditambah kampanyenya agar pemerintah lebih memerhatikan kesehatan masyarakat membuktikan hal tersebut.

Sebagai apoteker, Tillema paham betul pentingnya air bersih. Hygeia yang dia pakai sebagai merek salah satu produknya adalah Dewi Kesehatan dan Kebersihan dalam mitologi Yunani. Dari namanya dikenal istilah hygiene (Inggris) atau higienis (Indonesia). Simbol dunia farmasi berupa mangkuk dan ular tak lain merupakan lambangnya.

Sir Stamford Raffles (1781-1826) mencatat bahwa ketika tiba di Pulau Jawa penduduknya sudah punya kebiasaan merebus air sebelum dikonsumsi, sesuatu yang kemudian ditiru bangsa Belanda di Batavia. Di kota tersebut, selain dari sumur gali, air juga diangkut dari Sungai Ciliwung yang kala itu masih sangat bersih.

Meski begitu, tidak semua warga kulit putih mau mengonsumsi air Ciliwung. Kaum elite Belanda lebih suka mengonsumsi Air Tillema, meski harganya 2,5 Gulden per botol. Sementara warga dari kelas yang lebih rendah berlangganan air yang didatangkan dari Bogor, yang kualitasnya lebih baik dan harganya lebih mahal dari air Ciliwung.

Upaya menyediakan air bersih terus dilakukan, mulai pembangunan saluran yang mengalirkan air dari sumur-sumur di Batavia hingga dari mata air di Ciburial, Ciomas. Air dari 16 mata air Ciburial itu ditampung dan disaring terlebih dulu di bak penampungan (bron-kaptering) sebelum dialirkan ke Jakarta dengan pipa transmisi sepanjang 57 kilometer.

Untuk menampung air dari Ciburial, sebuah reservoir yang disebut Gudang Air dengan kapasitas 20.000 meter kubik dibangun di Kramatjati. Dari gudang itu, air selanjutnya disalurkan ke pusat kota. Dengan adanya suplai air dari 16 mata air Ciburial, sumur-sumur gali tidak lagi digunakan.

Upaya menyediakan air bersih juga dilakukan di kota-kota yang memiliki arti penting bagi pemerintah kolonial. Sebagaimana di Batavia, air-air itu dialirkan dari sungai atau mata air. Sebagaimana di Batavia pula, air bersih itu hanya diperuntukkan bagi golongan elite Eropa dan ambtenaar atau pegawai negeri Hindia-Belanda kelas atas.

Baca juga artikel terkait AIR MINUM atau tulisan lainnya dari Firdaus Agung

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Firdaus Agung
Penulis: Firdaus Agung
Editor: Nuran Wibisono