tirto.id - Indonesia berpotensi kehilangan satu-satunya gletser tropis yang dimilikinya dalam beberapa tahun ke depan. Temuan itu disampaikan Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Papua (Unipa), Francine Hematang, berdasarkan riset terbaru yang dia lakukan bersama tim menggunakan citra satelit Landsat.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa luas gletser di kawasan Puncak Jaya, Papua, telah menyusut sekitar 97 persen dalam kurun 1980–2024. Dari 6 gletser yang berhasil diidentifikasi dalam penelitian, 4 di antaranya telah hilang. Kini, hanya tersisa Gletser Cartensz dan East Northwall dengan total luas sekitar 0,19 kilometer persegi.
Melalui simulasi yang dilakukan bersama timnya, Francine memperkirakan seluruh gletser tropis di Indonesia berpotensi lenyap paling lambat pada 2030 apabila tren penyusutan saat ini terus berlanjut.
“Yang perlu kita lakukan dengan kondisi gletser yang sudah kritis seperti ini ya harus banyak riset aja begitu sebelum dia benar-benar hilang. Kalau sudah hilang, kita tidak bisa punya objek yang kita lakukan untuk riset,” ucap Francine sebagaimana dikutip dari kanal Youtube Tirto, Senin (6/7/2026).
Dalam Wawancara Khusus bersama Tirto, Francine menjelaskan bagaimana riset tersebut dilakukan, mengapa gletser tropis Papua begitu unik, faktor yang diduga mempercepat pencairannya, hingga mengapa menurutnya yang paling realistis saat ini bukan lagi menyelamatkan gletser, melainkan memperbanyak penelitian sebelum semuanya benar-benar hilang. Berikut petikan wawancaranya.
Gletser itu apa sebenarnya?
Gletser adalah tutupan es yang terbentuk dalam jangka waktu yang sangat lama dan dia tersimpan, kemudian tidak mudah mencair. Gletser berbeda dari salju. Kalau salju itu temporary. Hujan salju turun, kemudian tertumpuk di permukaan tanah atau batu, kemudian pada saat tertentu bisa hilang. Tapi kalau gletser, tutupan massa es, dia akan tinggal di situ sampai bertahun-tahun. Kecuali, ada faktor-faktor yang membuat gletser itu mencair.
Dalam riset Anda, di Papua tadinya ada 6 gletser…
Iya, yang kami identifikasikan ada 6. Tapi, kalau kita lihat dari literatur-literatur yang lain atau hasil survei-survei dari surveyor yang sebelumnya, itu sebenarnya ada 8. Masih ada 2 gletser yang sulit kami identifikasi delineasi di mana batasnya karena sepertinya itu small gletser.
Jadi, masih ada 2 gletser, yaitu Gletser Wollaston dan Gletser Van de Water yang belum kami identifikasi. Tapi, kalau melihat peta ataupun catatan sejarah survei glacier di Papua, dua gletser itu sebenarnya mungkin sudah hilang. Kami menduga bahwa 2 gletser ini adalah gletser kecil yang berdekatan di antara Gletser Carstensz dan Gletser Meren. Perkiraan kami, kalau Gletser Meren saja sudah punah, berarti Van de Water maupun Wollaston itu juga sudah pasti punah.

Jadi, dalam catatan sejarah Papua itu ada 8 gletser. Berasal dari periode kapan saja catatan tentang gletser di Papua?
Catatannya ada dari beberapa periode. Pada 1937, ada catatan dari Dozy (J.J. Dozy—ahli geologi perminyakan yang ikut dalam ekspedisi H. Colijn ke Pegunungan Cartensz pada 1936). Dia juga termasuk seorang surveyor awal yang menyurvei Puncak Jaya.
Kalau kita lihat peta yang dibuat surveyor-surveyor awal, gletser yang teridentifikasi ada 4, yaitu Wollaston, Cartensz, Van de Water, dan satu gletser lagi yang saya lupa namanya. Kemudian, di periode selanjutnya, kami lihat di artikel-artikel ilmiah, mulai dari Allison dan Peterson 1979 hingga Kincaid yang terbit di tahun 2000-an, yang tadi cuma teridentifikasi 4 gletser itu sudah bertambah menjadi 8.
Jadi, dari riset-riset tersebut, kami mengidentifikasi ada 8, tapi yang bisa kami petakan untuk dihitung laju penurunannya itu cuma 6 gletser.
Lantas, apakah gletser di kawasan tropis merupakan sesuatu yang langka?
Iya, itu sesuatu yang sebenarnya terkesan kontradiktif. Wilayah tropis yang curah hujannya tinggi, kemudian suhunya lebih panas karena dipengaruhi oleh paparan sinar matahari yang lebih intens, seharusnya tidak ada gletser. Tetapi, kenyataannya di wilayah tropis itu sebenarnya ada gletser.
Gletser tropis ada di beberapa negara. Kalau kita lihat dari petanya GLIMS (Global Land Ice Measurements from Space) dan peta Earthdata dari NASA, gletser tropis lain misalnya ada di Benua Afrika, di Gunung Kilimanjaro. Di Indonesia, gletser tropis ada di Puncak Cartensz dan sekitarnya. Kemudian, ada juga di Peru, di Pegunungan Andes dan sekitarnya.
Kalau kita memperkecil areanya—khusus di wilayah Pasifik, tidak ada gletser selain hanya ada di Indonesia. Jadi, ini memang sesuatu yang unik.
Ketinggian atau elevasi memang memengaruhi pembentukan gletser. Puncak tertinggi di Indonesia itu ada di Papua, sekitar 4.800-an meter. Puncak Carstensz itu juga salah satu Seven Summit, puncak tertinggi di dunia. Kalau tidak ada elevasi yang tinggi, kemungkinan besar gletser itu juga sebenarnya tidak bisa terbentuk.
Dengan adanya gletser di pegunungan kawasan tropis, apa efeknya bagi ekosistem sekitarnya?
Nah, ini menjadi tantangan juga. Jadi, kita belum banyak riset tentang apa sebenarnya hubungan antara gletser itu dengan tipe-tipe ekosistem lain.
Kalau kita lihat sepintas, keberadaan gletser itu secara kasat mata sebenarnya tidak terlalu banyak berpengaruh nyata. Tapi, yang sebenarnya perlu kita garis bawahi bahwa gletser itu berimplikasi pada nilai sosial budaya masyarakat yang ada di sekitarnya. Beberapa riset yang pernah kami baca saat menyusun riset kami sendiri menunjukkan bahwa gletser ini adalah wilayah yang sakral atau tempat suci. Intinya bahwa masyarakat sekitar menganggap gletser ini adalah salah satu bagian dari nilai budaya mereka.
Saya belum tahu riset-riset tentang gletser tropis yang lain, tapi riset tentang gletser tropis di Papua ini memang masih sangat-sangat terbatas. Topik riset-riset terbaru yang terbanyak adalah tentang monitoring luasannya. Soal bagaimana hubungannya dengan ekosistem lain atau dengan masyarakatnya itu belum banyak diriset.
Riset Anda menunjukkan sejak 1980 sampai 2024 Puncak Jaya kehilangan 97 persen atau 7,28 kilometer persegi lapisan esnya.Bagaimana elaborasinya?
Karena keterbatasan waktu dan biaya, kami menggunakan metode riset remote sensing atau penginderaan jauh. Kami melakukannya di kampus kami di Manokwari, tapi objeknya ada di Puncak Jaya sana. Kami menggunakan citra satelit untuk melakukan monitoring. Kami melakukan monitoring jangka panjang untuk mengetahui seberapa besar sebenarnya Pegunungan Cartensz kehilangan gletsernya.
Salah satu yang kami gunakan adalah citra satelit Landsat. Ini adalah salah satu citra satelit milik Amerika Serikat yang banyak dipakai oleh periset di dunia dan pihak swasta untuk melakukan monitoring sumber daya alam. Ia bersifat open source, gratis, dan datanya up to date. Jadi, Landsat sudah cukup membantu buat kami.
Data citra satelit ini pun sudah ada sejak 1970-an. Itulah yang sangat membantu kami untuk melihat dinamika gletser ini di periode lampau dan masa sekarang.
Kami lakukan riset dari 1980 sampai 2024, meskipun memang tidak setiap tahun kami lakukan pengamatan. Ada jeda sekitar 5 tahun. Jadi, berawal di 1980, lalu 1985, sampai ke 2015. Kemudian, sejak 2020 kami mulai melakukan pengamatan intens per tahun sampai 2024. Dari situlah, kami memperhitungkan bahwa dari 1980 sampai 2024, gletser tropis di Papua kehilangan sekitar 97 persen luasnya.
Kami juga cukup kaget dengan hasil ini. Kalau kami melihat catatan sejarah, peta gletser yang dibuat oleh surveyor-surveyor terdahulu, bahkan foto-foto zaman dulu, perubahan luasannya dengan 2024 itu sangat signifikan sekali. Itu pun cukup mengkhawatirkan sehingga kami publikasi risetnya supaya semua orang tahu bahwa gletser kita sedang kritis.
Dari 6 gletser yang diteliti, bagaimana kondisinya sekarang?
Empat sudah hilang. Yang tersisa tinggal Cartensz dan East Northwall. Total luas keduanya sekarang hanya sekitar 0,19 kilometer persegi. Kalau dibandingkan dengan 1980, yang tersisa tinggal sekitar 3 persen saja.
Kapan gletser tropis di Papua diperkirakan benar-benar hilang?
Kami melakukan dua simulasi, yaitu Sensitivity Test dan Monte Carlo Simulation. Hasilnya, Gletser Cartensz diperkirakan bertahan paling lama sampai 2029 atau 2030, sedangkan East Northwall sekitar 2028 hingga 2029.
Kalau kita ambil skenario paling lama, berarti gletser itu hanya akan bertahan sampai sekitar 2030.
Apa penyebab utama penyusutan yang sangat cepat itu?
Kami menduga faktor dominannya adalah perubahan iklim. Kami melihat tren kenaikan suhu, baik secara global maupun di Indonesia. Ditambah lagi fenomena El Niño yang membuat musim panas lebih panjang.
Banyak teori juga mengatakan ekosistem dingin seperti gletser merupakan salah satu indikator perubahan iklim. Jadi, ketika gletser mencair semakin cepat, itu menunjukkan ada perubahan iklim yang sedang berlangsung. Walaupun begitu, kami juga mengakui masih perlu penelitian lebih lanjut karena mungkin ada faktor lain yang ikut mempengaruhi, seperti kedalaman gletser atau kemiringan lereng.
Masih mungkinkah gletser tropis di Papua diselamatkan?
Ketika menulis paper ini, saya mengatakan bahwa kita tidak bisa mencegahnya. Faktor dominannya adalah perubahan iklim yang bersifat global. Sampai sekarang, belum ada teknologi yang benar-benar bisa mengendalikan perubahan iklim.
Yang lebih realistis, menurut saya, adalah memperbanyak riset sebelum gletser benar-benar hilang. Kalau sudah hilang, kita tidak lagi punya objek yang bisa diteliti.
Riset seperti apa yang paling mendesak dilakukan?
Misalnya, mengambil ice core atau sampel esnya. Di dalam gletser, bisa saja tersimpan berbagai informasi tentang iklim masa lalu. Di berbagai negara, penelitian menemukan jamur, bakteri, bahkan virus yang terperangkap di dalam gletser purba.
Bagaimana kepadatan gletser Papua, apa yang terkandung di dalamnya, faktor apa yang paling memengaruhi pencairannya, semua itu masih perlu diteliti. Menurut saya, itulah yang realistis dilakukan sampai 2030.

Apakah menghentikan penebangan hutan atau pertambangan di Papua dapat memperlambat hilangnya gletser?
Kalau khusus untuk gletser, saya pikir tidak bisa karena faktor utamanya bersifat global. Sekalipun ada deforestasi di Papua yang dihentikan, itu tidak akan banyak membantu karena emisi dari berbagai negara jauh lebih besar dibandingkan sekadar deforestasi di Papua.
Kalau gletser hilang, apakah salju juga tidak akan muncul lagi di Papua?
Kalau salju, menurut saya, masih bisa ada. Beberapa kali di kawasan Grasberg, masih terjadi hujan salju. Tetapi, pembentukan gletser baru saya pikir sudah sulit karena selama pengamatan kami tidak pernah melihat adanya penambahan luasan. Yang terjadi justru terus berkurang.
Apa kerugian terbesar jika Indonesia kehilangan gletsernya?
Ini adalah satu-satunya tipe ekosistem yang unik di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Kalau hilang, Indonesia akan keluar dari daftar negara yang memiliki gletser. Selain itu, satu tipe ekosistem di kawasan Taman Nasional Lorentz juga ikut hilang. Dulu, kita mengenalnya sebagai “salju abadi”. Kalau gletser ini hilang, berarti kata “abadi” itu sudah tidak bisa kita ucapkan lagi karena memang sudah tidak ada lagi. Itu menurut saya menjadi salah satu kerugian besar bagi Indonesia.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































