tirto.id - Terlalu banyak sektor yang terdampak dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, tak terkecuali industri hiburan dan kreatif seperti konser dan festival musik. Sebagian besar transaksi dalam penyelenggaraan konser internasional, mulai dari pembayaran artis, pengiriman peralatan, hingga sejumlah kebutuhan produksi, menggunakan mata uang asing. Ketika rupiah melemah, biaya yang harus ditanggung promotor pun ikut meningkat.
Bagi penyelenggara, hal ini menjadi sebuah dilema. Pasalnya, biaya produksi yang naik tak bisa ujug-ujug membuat harga tiket ikut naik. Di sisi lain, kualitas pertunjukan juga tak bisa asal-asalan.
Terlebih lagi, aktivitas tur musisi internasional yang kembali meningkat setelah pandemi membuat persaingan antarnegara untuk mendatangkan artis semakin ketat.
Beberapa promotor musik yang diwawancarai Tirto mengatakan penyelenggaraan konser dan festival musik saat ini jauh lebih menantang dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Kenaikan biaya produksi menjadi salah satu tantangan terbesar, terutama pada komponen yang berkaitan dengan artis internasional, logistik, dan operasional acara.

Promotor musik sekaligus Founder Joyland Festival, Ferry Dermawan, mengatakan sejumlah kebutuhan produksi masih bergantung pada transaksi menggunakan mata uang asing. Komponen tersebut antara lain pembayaran artist fee, akomodasi dan transportasi internasional, pengiriman peralatan (freight/logistik), serta beberapa kebutuhan produksi yang harus didatangkan dari luar negeri.
Dari seluruh komponen biaya, Ferry menyebut pengeluaran terbesar biasanya berasal dari artist fee, produksi panggung dan kebutuhan teknis, venue serta operasional, kemudian promosi. Dalam beberapa tahun terakhir, kenaikan paling terasa terjadi pada biaya mendatangkan artis internasional dan logistik.
"Biaya terbesar biasanya: artist fee, produksi panggung & teknis, venue & operasional, lalu promosi. Kenaikan paling besar umumnya ada di artist fee dan logistik," ujarnya kepada Tirto, Jumat (10/7/2026).
Sementara itu, CEO Ravel Entertainment sekaligus Founder Hammersonic Festival, Ravel Junardy, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memberikan dampak langsung terhadap struktur biaya pertunjukan, terutama untuk konser yang menghadirkan musisi internasional.
Menurutnya, sebagian besar komponen utama dalam produksi konser internasional masih menggunakan mata uang asing. Beberapa di antaranya adalah pembayaran artist fee, transportasi udara, pengiriman peralatan (freight), vendor internasional, hingga kebutuhan teknis tertentu yang harus didatangkan dari luar negeri.
"Karena itu, setiap perubahan nilai tukar pasti memberikan dampak terhadap struktur biaya secara keseluruhan," kata Ravel saat dihubungi Tirto, Kamis (9/7/2026).

Ravel Entertainment merupakan salah satu promotor yang merasakan langsung perubahan tersebut. Perusahaan promotor musik ini menjadi penyelenggara festival musik cadas Hammersonic, sekaligus tengah mempersiapkan konser Avenged Sevenfold pada Oktober dan My Chemical Romance pada November mendatang.
Untuk mengulas lebih mendalam persoalan ini, Tirto mewawancarai CEO Ravel Entertainment, Ravel Junardy, mengenai pengaruh pelemahan rupiah terhadap biaya produksi serta kaitannya dengan harga tiket bagi penonton. Berikut wawancara selengkapnya.
1. Dengan kondisi kenaikan dolar dan geopolitik saat ini, bagaimana kondisi penyelenggaraan festival musik dibandingkan beberapa tahun lalu?
Bisa dibilang [penyelenggaraan festival saat ini] lebih menantang, karena promotor bukan cuma menghadapi fluktuasi kurs, tapi juga dinamika global yang berdampak langsung ke industri live entertainment, mulai dari logistik, mobilitas artis, sampai biaya produksi secara keseluruhan.
Tapi buat kami, itu memang bagian dari industri yang harus diantisipasi. Sama halnya yang akan kami lakukan untuk event Avenged Sevenfold di bulan Oktober dan My Chemical Romance di November mendatang. Yang terpenting adalah bagaimana tetap bisa menghadirkan festival dengan kualitas yang layak dinikmati penonton, meski tantangannya terus berubah.

2. Apakah ada kenaikan biaya produksi yang terjadi?
Hampir semua komponen mengalami penyesuaian. Nilainya tentu berbeda setiap penyelenggaraan, tapi tren kenaikannya memang konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Yang menarik, kenaikan itu bukan hanya dipengaruhi kurs. Standar produksi dunia juga terus berkembang, termasuk untuk single show seperti Avenged Sevenfold dan My Chemical Romance mendatang. Ekspektasi penonton naik, kebutuhan teknis semakin kompleks, dan itu ikut memengaruhi biaya yang harus kami siapkan.
3. Apakah kenaikan biaya produksi ini dipengaruhi pelemahan rupiah?
Ketika aktivitas konser global meningkat, permintaan terhadap artis, vendor, hingga logistik juga ikut naik. Pelemahan rupiah tentu menjadi salah satu faktor, karena cukup banyak transaksi dilakukan dalam dolar AS. Tapi kalau hanya menyalahkan kurs, rasanya kurang tepat. Yang kami lihat, ini memang kombinasi dari berbagai faktor, seperti ekonomi global, yang harus kita hadapi dan sikapi dengan bijak.
4. Pos biaya apa saja dalam festival musik yang pembayarannya menggunakan mata uang asing?Yang paling besar tentu artist fee internasional. Selain itu ada transportasi udara, freight [pengangkutan barang], beberapa vendor luar negeri, hingga kebutuhan produksi tertentu yang memang harus didatangkan dari luar Indonesia. Karena itu, setiap perubahan nilai tukar pasti memberikan dampak terhadap struktur biaya secara keseluruhan.
5. Komponen biaya mana yang terus beranjak naik?
Secara umum, yang terbesar tetap artist fee, kemudian produksi, logistik internasional, venue, dan operasional. Kalau melihat beberapa tahun terakhir, kenaikan paling terasa ada di artist fee dan logistik. Seperti contoh konser mendatang Ravel Entertainment, yaitu Avenged Sevenfold dan My Chemical Romance, kami harus mempersiapkan sebaik dan sematang mungkin untuk seluruh penggemar di Indonesia.
Industri konser sekarang sangat kompetitif secara global. Banyak negara berebut jadwal artis yang sama, sehingga biaya untuk menghadirkan mereka juga ikut meningkat.

6. Strategi apa yang dilakukan untuk mengatasi kondisi ini?
Yang pasti, tantangan tidak bisa dihadapi dengan mengorbankan kualitas. Strateginya adalah memperkuat perencanaan sejak awal, melakukan negosiasi lebih cepat, serta membangun hubungan jangka panjang dengan partner internasional. Kami juga semakin banyak melibatkan talenta dan vendor lokal yang kualitasnya sudah sangat kompetitif. Jadi efisiensi tetap ada tanpa mengurangi kualitas dan pengalaman penonton.
7. Apa yang menentukan harga tiket?
Harga tiket adalah hasil dari keseluruhan ekosistem penyelenggaraan event, baik festival seperti Hammersonic ataupun single show seperti Avenged Sevenfold dan My Chemical Romance. Lineup, produksi, venue, keamanan, operasional, hingga pengalaman yang diterima penonton, semuanya menjadi pertimbangan.
Jadi bukan berarti ada satu biaya tertentu yang langsung dibebankan ke penonton. Kami selalu berusaha menjaga keseimbangan. Di satu sisi kualitas harus tetap terjaga, di sisi lain festival ataupun konser tunggal yang kami miliki juga harus tetap memiliki harga yang reachable bagi penonton.
8. Apakah selama ini ada subsidi atau peran pemerintah?
Subsidi dari pemerintah belum ada.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id



































